You are here
Home > Lingkungan > Pembesaran Kepiting Bakau di Pohuwato, Berhasilkah?

Pembesaran Kepiting Bakau di Pohuwato, Berhasilkah?

Cagar Alam Tanjung Panjang berubah menjadi kawasan tambak. Foto: Dokumentasi degorontalo.com
Cagar Alam Tanjung Panjang berubah menjadi kawasan tambak. Foto: Dokumentasi degorontalo.com

DEGORONTALO – Koperasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Kopesda) ditantang oleh Kepala Desa Limbula, Kecamatan Wonggarasi, Kabupaten Pohuwato. Tantangan itu berupa keberhasilan usaha ekonomi kelompok masyarakat melalui pembesaran kepiting bakau dan ikan lele. (Baca juga: Orang Papua “Belajar” Pengelolaan Mangrove di Gorontalo)

Kepala Desa Limbula, Luxman M Ibrahim, Jumat (10/10), mengatakan jika pembesaran kepiting berhasil dilakukan oleh Kopesda yang mendampingi usaha kredit mikro kelompok masyarakat, maka kelompok tersebut akan diusahakan masuk pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa tahun mendatang.

“Jika kelompok tersebut memberikan hasil yang baik, kami akan anggarkan sebagian dana untuk kelompok tersebut,” ujar Luxman saat dihubungi via telepon.

Haris Malik, Manajer Program Kopesda, menanggapi bahwa tantangan kepala desa itu akan sangat baik bagi masyarakat Limbula sendiri yang ikut dalam kelompok pembesaran kepiting. Masyarakat di Limbula sendiri terbagi dalam kelompok usaha mikro. (Baca juga: Ingin Sejahtera? Berhentilah Tebang Mangrove !)

“Itu justru lebih bagus. Jika perlu, tantangan kepala desa itu berlaku juga bagi masyarakat di luar kelompok ,” ujar Haris.

Kopesda merupakan lembaga penerima dana hibah skala kecil dari Mangrove for the Future (MfF), dalam rehabilitasi hutan bakau. Kopesda sendiri menggunakan pendekatan Bio-rights. Metode Bio-rights ini menurut Haris, sangat membantu dalam pelestarian hutan bakau, dengan cara memberikan usaha ekonomi kepada kelompok usaha dalam menjaga pelestarian mangrove. (Baca juga: MFF Gelar Pelatihan Rehabilitasi Mangrove)

“Kepada kelompok kami berikan dana sekian, namun ini tentu kredit dan cara untuk mengembalikannya hanya berupa jasa menjaga mangrove,” ujar Haris.

Menurutnya kredit tersebut  akan dihibahkan, setelah jasa masyarakat menjaga mangrove berhasil dalam jangka waktu yang ditentukan, sesuai kesepakatan bersama antara pemerintah desa, kelompok usaha dan lembaga pemberi dana.

Dalam buku berjudul “Bio-rights Dalam Teori dan Praktek: Sebuah Mekanisme Pengentasan Kemiskinan dan Konservasi Lingkungan” oleh Pieter van Eijk dan Ritesh Kumar, menuliskan bahwa pendekatan Bio-rights dikembangkan oleh Wetlands Internasional, Altera Green World Research (Wstafingen University) dan sejumlah organisasi terkait di akhir tahun 1990-an.

Dalam buku tersebut tertulis bahwa pendekatan Bio-rights sebagai respon terhadap masalah sosial, lingkungan, dan ekonomi yang cukup kompleks yang ada di lapangan, yang terbukti sulit diatasi dengan tindakan-tindakan pengelolaan sumber daya alam secara konvensional.

Di Desa Limbula, Kopesda dengan pendekatan Bio-rights telah mendampingi dua kelompok, yaitu satu kelompok budidaya ikan lele yang terdiri dari enam Kepala Keluarga dan pembesaran kepiting bakau terdiri dari lima Kepala Keluarga dengan jumlah 30.000 benih. (Baca juga: JAPESDA Ajari Cara Perbesar Kepiting Bakau dan Percontohan Tambak Silvofishery)

RIVOL PAINO  

(Visited 146 times, 3 visits today)

Leave a Reply

11 − 5 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top