You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Pendidikan Ekspresif: Catatan Seorang Guru Lebay (Oleh.Ishak Sambayang)

Pendidikan Ekspresif: Catatan Seorang Guru Lebay (Oleh.Ishak Sambayang)

 

 

Matahari terasa jadi dua. Panas sekali siang itu, sedang aroma daun tebu tercium dari jauh. Saya lagi asyik membaca The Whole Brain Solution karya Tricia Armstrong, tapi akhirnya gerah juga.

Sebenarnya bukan gerah yang bikin pikiran saya terganggu, melainkan pernyataan di sebuah kertas yang baru saja ditulis oleh seorang siswa. “Saya jadi cepat mengerti Bahasa Inggris. Pak guru lebay” begitu bunyinya.

Waktu itu jam pelajaran terakhir. Siswa kelas X-G di SMA N 1 Paguyaman, Kabupaten Boalemo terlihat sama gerahnya seperti saya. Di lapangan sekolah tim Marching Band sedang getol latihan memainkan melodi “Biteya”. Sesekali terdengar pemain drumnya salah pukul, siswa lainnya langsung menyoraki mereka. Beberapa siswa kelas X-G pun lagi asyik menertawai Isal, satu-satunya laki-laki yang perannya memutar-mutar bendera ungu dengan penuh gaya.

Sepertinya kegiatan belajar mengajar sedang tidak aktif, tapi begitu bel jam keenam berbunyi saya segera bergegas menuju kelas. Kehadiran saya di depan pintu kelas sontak membuat para siswa kaget, beberapa siswa yang sedang tidur di kursi, buru-buru dibangunkan rekannya dan bertambah murunglah wajah mereka, tepatnya lesu. Ini benar-benar siang bolong yang panas dengan pelajaran bahasa Inggris yang berpotensi membosankan.

Saya guru abdi baru di sekolah yang jaraknya 68 kilometer dari Kota Gorontalo itu.“It’s nice to see you today. How are you?” saya berusaha melantangkan suara untuk menggebrak semangat, lalu menyambar spidol dan menuliskan kalimat ini di papan tulis: “Tuhan sengaja memberikan manusia dua telinga dan hanya satu mulut agar kita bisa lebih banyak mendengarkan dan tidak banyak bicara”.

Saya minta mereka membayangkan seandainya mereka punya dua mulut yang masing-masing membicarakan hal yang berbeda, akan seberapa ributnya dunia ini jadinya (Saya jadi teringat salah satu cerpen Putu Wijaya). Siswa pun mulai manggut-manggut, sebagian ada yang tertawa. Saya pun membagi mereka dalam lima kelompok kecil dan meminta para pemuda-pemudi itu saling mendengarkan dan bekerja sama.

Untuk memperkuat konsep kerja sama, menurut saya tidak berhasil jika saya hanya mengambil peran sebagai penceramah. Maka saya meminta lima siswa berdiri rapat membentuk lingkaran kecil di depan kelas. Tangan mereka saling genggam, ujung sepatu bersentuhan di pusat lingkaran. Lantas saya meminta mereka untuk jongkok, duduk dan berdiri lagi dengan serempak.

Apa yang terjadi? Kelima siswa tersebut malah berjatuhan ke lantai ketika mencoba duduk. Kemudian kelimanya saling menyalahkan satu sama lain. Suasana jadi ribut, siswa lainnya tertawa geli. Peraturan permainan pun saya tambah, mulut mesti tertutup. Tidak ada kata-kata selama permainan, hanya kontak mata dan genggaman tangan yang erat. Mereka pun mencoba, kali ketiga percobaan mereka pun berhasil melakukannya. Siswa lain yang tadinya menertawai, sekarang malah memberi tepuk tangan. “Itulah kerja sama, tidak banyak bicara, saling mendengarkan dan bekerja!” kata saya kemudian. Kali ini bukan hanya manggut-manggut, semua siswa tersenyum. Sederhana.

Saya mengakui kegiatan icebreaking yang saya pilih itu terlalu memakan waktu untuk sekadar mengantarkan siswa menuju materi ajar. Tapi hal positifnya adalah, siswa yang semula murung dan/atau tertidur dalam kelas, berubah seketika suasana hatinya menjadi tersenyum dan menikmati kerja sama dalam kelompok. Begitulah pelajaran hari itu berlangsung, udara yang terasa mendidih, ngek-ngok suara terompet marching band dari luar kelas dan persaingan antar kelompok berburu jawaban benar.

Lantas kenapa “Pak Guru Lebay”?

Tulisan itu saya dapatkan dari kertas refleksi. Setelah pelajaran berakhir mereka saya minta untuk menuliskan kritik dan saran kepada saya. Sebagai jaminan, tulisan mereka anonim.

Setelah dipikir-pikir, benar juga. Jika “lebay” itu saya artikan “berlebihan”, maka saya tidak perlu marah. Saya memang baru saja berlebihan dalam mengekspresikan kata-kata bahasa Inggris kepada siswa. Ekspresif! Itu gaya yang saya pilih untuk pengajaran di tengah hari, agar dapat memicu siswa mencapai kondisi alpha dan beta dalam otaknya, kondisi sadar dan gembira saat menerima pelajaran.

Kondisi otak inilah yang menurut neurologis, sebagai yang terbaik bagi pembelajar untuk menerima pelajaran dengan sifat analitis atau malah kritis. Saya lafalkan setiap kata berikut gerakannya dan meminta mereka menirunya; sebagai usaha diferensiasi pembelajaran, menghargai pembelajar visual untuk mengingat gerak yang berasosiasi terhadap kata-kata, memicu pembelajar kinestetik untuk mengingat kata melalui gerakan tubuh, dan pembelajar auditori untuk memperkaya bunyi-bunyi bahasa di otaknya.

Sekarang, jika pengajaran ekspresif adalah “Lebay”, yang normal bagi siswa seperti apa? Masuk langsung ke materi, kerjakan tugas halaman sekian, kalau salah dihukum, atau mengerti-tidak mengerti yang penting hadir?

Pada beberapa kesempatan beberapa siswa sempat mengeluhkan soal pengajar yang suka marah jika siswa salah menjawab soal, tidak memberi balikan terhadap kesalahan, dan mudah tersinggung. Begitulah, sehingga perihal guru mengomel dalam kelas terus-terusan ditemui dan menjadi “normal”.

Konsep besar “memanusiakan anak manusia” oleh Ratulangi kemudian menjadi melenceng ketika pengajar memfungsikan emosi lebih besar dari strategi pengajaran yang telah disusun rapi dalam Lesson plan. Ada-ada saja yang terjadi ketika pembelajaran berlangsung yang mestinya diatasi oleh pengajar, bukan sekadar menjalankan rencana pembelajaran.

Para siswa yang memasuki masa remaja dengan tingkat keingintahuan yang sangat tinggi mestinya menjadi sasaran pembelajaran yang sangat lentur untuk dibentuk, asalkan pendidikan tetap berada pada jalur pelayanan. Memperoleh pendidikan merupakan kebutuhan anak-anak kita ini, dan guru mestinya melayani itu seberapa besar pun tantangan yang ada di dalamnya.

Memahami aspek fisik, intelektual, sosial-emosional, moral, spiritual, dan latar belakang sosial budaya para siswa, digadang-gadang oleh pemerintah pusat sebagai tanggung jawab pedagogik para guru kita, sebagaimana tercantum dalam Permendiknas No.16/2007 tentang standar kwalifikasi akademik dan kompetensi guru.

Pada praktiknya, apa yang tergambar dalam benak pemerintah pusat belum berjalan lancar di daerah. Beban kerja yang berat, urusan administratif, pengelolaan sekolah, cukup menyita waktu dan energi para guru kita sehingga kesempatan (atau bahkan kemauan?) untuk mencari akses dalam “menaikkan kapasitas” keilmuan dan memperbarui informasi tentang teori dan teknologi kependidikan menjadi terhambat.

Belum lagi keluhan-keluhan tentang efek bias program sekolah gratis oleh Pemda mulai mencuat ke permukaan. “Gratis” mungkin baik dalam artian membuka akses kepada seluruh warga negara untuk memperoleh layanan pendidikan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa pengelolaan dan pengembangan satuan pendidikan tidak serta merta menjadi serba “gratis”. Efek positifnya, mungkin, dengan ditiadakannya pungutan-pungutan, kehidupan satuan pendidikan akan menjadi lebih memasyarakat; bahwa untuk mengembangkan dan memajukan satuan pendidikan (sekolah) menjadi tanggung jawab bersama, mulai dari pengajar, kepala sekolah, tata usaha, dan komite sekolah; yang menuntut gotong-royong dan local genius para pihak. Berat. Tapi azalinya begitu. Bukankah makin berat tantangan, makin bijak kita menemukan cara mengatasinya?

Meski ekspresif diinterpretasikan sebagai “lebay” tidak menjadi soal bagi saya. Saya akan banyak “mendengarkan”, dan menjadi “lebay” adalah strategi yang saya pilih untuk melayani kebutuhan belajar anak-anak ini agar mereka selalu bisa bersorak dan merasa gembira saat belajar. Demikian.

 

*Pegiat  Jurnal Kebudayaan Tanggomo, pegiat sastra dan teater , ingin jadi guru organik dan peternak sapi.

(Visited 292 times, 3 visits today)

Leave a Reply

four × two =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top