You are here
Home > Lingkungan > Agraria > Penggunaan Telur Maleo Dalam Ritual Adat Gorontalo, Adakah?

Penggunaan Telur Maleo Dalam Ritual Adat Gorontalo, Adakah?

Salah satu petugas penangkaran di Cagar Alam Panua memperlihatkan telur Maleo (DeGorontalo/Syam Terrajana)
Salah satu petugas penangkaran di Cagar Alam Panua memperlihatkan telur Maleo (DeGorontalo/Syam Terrajana)

DEGORONTALO – Tatang Abdullah berkali -kali didatangi oleh warga. Mereka meminta ijin untuk mengambil- kalau perlu membeli – telur Maleo (Macrocephalon maleo), burung endemik Sulawesi yang berhabitat di cagar alam Panua, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Dalihnya, telur itu mutlak dibutuhkan untuk serangkaian ritual adat, untuk merayakan pernikahan. Ada juga yang berdalih untuk pengobatan tradisional.

Tentu saja, sebagai kepala Resort di Cagar itu,Tatang bersikeras tidak memberikannya. Kepada warga yang silih ganti meminta telur Maleo, ia menjelaskan sejumlah aturan pemerintah yang mengatur larangan , berikut sanksinya.

Misalkan  peraturan pemerintah nomor 7 tahun 1999  Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa. Ada juga Undang -undang nomor  5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya.

Pada undang-undang yang terakhir disebut, katanya, bahkan sudah mengatur sanksi pidana bagi setiap orang yang sengaja perburuan satwa dilindungi, yakni  pidana penjara paling lama lima  tahun dan denda paling banyak seratus juta rupiah.

“Sampai hari ini, masih ada saja yang meminta, banyak yang belum paham aturannya,” katanya kepada DeGorontalo, belum lama ini.

Tingkat kerawanan di Cagar alam seluas 36.575 hektar itu, memang terbilang tinggi. Selain dilintasi oleh jalan trans Sulawesi, lahan cagar alam yang terdiri dari hutan dan pesisir itu dikelilingi oleh pemukiman penduduk hingga radius 100 kilometer.

BACA:

Kawasan konservasi itu kerap dicaplok jadi ladang oleh warga. Ada yang menetap , ada pula yang berpindah. Pihaknya mencatat tak kurang dari 400 hektar ladang warga yang masuk dalam kawasan Cagar Alam Panua. Pembukaan ladang itu tentu saja diikuti dengan tindakan penebangan pohon.

Menurutnya, pencaplokan itu cukup berpengaruh mempersempit persebaran Maleo. Padahal, satwa yang dikenal penyendiri dan sangat peka dengan kehadiran manusia itu membutuhkan lahan yang tertutup dan rindang pepohonan.

Sejauh ini, pihaknya mengaku kewalahan menjaga kawasan yang cukup luas itu, mengingat jumlah personil yang sangat terbatas, hanya empat orang saja.

Pihaknya kerap menggandeng warga untuk bersama-sama melakukan pengawasan. Tapi tetap saja ada yang luput.

Saat ini, diperkirakan jumlah populasi Maleo di kawasan itu berkisar 550-600 ekor. Pihaknya mencatat peningkatan jumlah anakan Maleo yang berhasil dari ditetaskan dari penangkaran. Dari 95 ekor pada 2014 menjadi 120 ekor pada 2015.

Sementara itu di tempat terpisah, sekretaris jenderal Dewan Adat Gorontalo, Alim S.Niode menegaskan, tidak ada satupun aturan adat dalam prosesi maupun ritual setempat yang mensyaratkan adanya telur Maleo.
Malahan menurutnya, Adat Gorontalo yang dikenal dengan sebutan Adati Limo Lo Pohala’a, Payu Lo Hulondhalo, sarat dengan konsep harmoni alam.

Segala macam ritual dan prosesi penting , seperti kelahiran, pernikahan dan kematian,katanya, tidak bisa lepas dari konsep harmoni alam ini, yang tidak hanya menjaga lingkungan, namun juga tata kehidupan sosial di dalamnya.

“ Telur Maleo untuk keperluan adat itu dalih yang mengada-ada, ” katanya. Menurutnya, yang selama ini disyaratkan dalam berbagai ritual dan prosesi di Gorontalo ada telur ayam kampung.

Namun begitu, dia mengakui jika para orang -orang tua terdahulu menggunakan telur Maleo untuk berbagai keperluan, misalkan sebagai bahan adonan membuat kue untuk keperluan hajatan pernikahan.
Tapi menurutnya itu demi alasan praktis, karena telur Maleo yang besar, dianggap dapat lebih hemat dibanding telur ayam. Lagi pula, pada masa lalu, belum ada aturan dan larangan pemerintah untuk mengonsumsi satwa dilindungi itu.

“ Tidak bisa tidak, setiap pemburu Maleo harus ditindak tegas,” katanya.

 

SYAM TERRAJANA

(Visited 259 times, 1 visits today)

Leave a Reply

1 × five =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top