You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Permesta, Kerukunan Beragama di Manado dan Migrasi Orang Gorontalo

Permesta, Kerukunan Beragama di Manado dan Migrasi Orang Gorontalo

 

DEGORONTALO – Meletusnya gerakan Perjuangan Rakyat Semesta Alam(Permesta) di Manado, Sulawesi Utara pada 1957 silam, telah banyak memakan korban jiwa. Tapi Gerakan semula berpusat di Makassar sebagai reaksi ketidakpuasan atas kebijakan politik pemerintah pusat itu, juga membawa kisah lain sebagai bagian dari sejarah yang tak terpisahkan.

Di sisi lain, Peristiwa Permesta juga dibaca sebagai peluang baru di bidang ekonomi yang mendorong terjadinya migrasi besar-besaran. (BACA: Opa Gani, Tentara Permesta, dan Benteng Orange)

Hal itu disinggung Ilham Daeng Makkelo, dosen sejarah di Universitas Hasanuddin , Makassar Sulawesi Selatan dalam bukunya “ Kota Seribu Gereja; Dinamika Keagamaan dan Penggunaan Ruang di Kota Manado” yang ditulisnya pada 2010 silam.

Dia menyebutkan, kekacauan yang terjadi di wilayah pedalaman telah mendorong terjadinya urbanisasi. Tetapi dengan diambil alihnya manado oleh pihak militer pusat, menyebabkan terjadinya lonjakan migrasi.

Kurun 1956-1961,terjadi lonjakan penduduk di Manado sebesar 29,47 persen. Orang Gorontalo menjadi migran terbesar pada masa itu, di samping mereka yang datang dari daerah lain. (BACA: Mau Pisah dari Sulut, Bolmong Raya Minta Dukungan “Saudara Tua”)

Mereka datang ke Manado dengan tujuan dagang untuk memenuhi pasar –pasar utama. “Beberapa saat kemudian, di sudut utara pasar 45, berdiri masjid yang awalnya hanya sebuah mushalla sederhana,” tulisnya.

Meski dikenal sebagai daerah berpenduduk mayoritas Nasrani, namun kerukunan umat beragama di wilayah itu sudah dikenal sejak lama berurat-akar.

Ilham mencatat peristiwa pada 1957, ketika umat Islam dan Kristen bersama-sama membangun masjid dan gereja di Kalasey-Tanawangko. (BACA: Demi Kekhusyukan Paskah, Tempat Hiburan di Manado Dilarang Buka)

Namun begitu, peristiwa yang bernuansa konflik agama pernah terjadi pada 1972, ketika orang Kristen setempat hampir terprovokasi ketika ada orang tak dikenal melempar sebuah gereja.

Sejak itu kebiasaan baru mulai berkembang,para tokoh antar agama saling menjaga ketika perayaan-perayaan agama berlangsung. Pemuda gereja menjaga masjid, begitupun sebaliknya. (BACA: Gorontalo-Sulut- Sulteng Teken Kerjasama Wilayah)

Migrasi bangsa Gorontalo, tulisnya lagi, bukanlah hal baru bagi orang Manado. Data kependudukan yang tersedia pada 1821, sedikitnya tercatat 281 orang Gorontalo di wilayah itu. (BACA: Lebaran Binarundak, Pengikat Rumpun Bangsa Yang Terserak)

Sejak abad 17 , Bangsa Spanyol, Belanda, bangsa Ternate, Cina, Arab, Bugis, Gorontalo dan Jawa telah menjadi bagian dari komposisi penduduk sejak awal wilayah di bibir Pasifik itu.

*Para pejabat/pegawai Kantor kepala daerah Minahasa Permesta .Sumber foto (nchrist09.wordpress.com)

 

SYAM TERRAJANA

(Visited 418 times, 3 visits today)
Syam Terrajana

Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

13 − 10 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top