Pernahkah Kita Mau Bersahabat dengan Alam?

Ilustrasi dzargon.com
Ilustrasi dzargon.com

Oleh: Mulyadi Pontororing (freelance)

Saya bukan aktivis lingkungan yang dengan gagah berdiri di pagar terdepan untuk melindungi alam. Saya juga bukan orang yang sering menghabiskan waktu di alam liar. Saya hanyalah seorang yang hobi menghijaukan halaman rumah saya.

Masih segar di ingatan bencana kabut asap yang melanda Provinsi Riau akibat kebakaran lahan gambut. Masih segar pula kasus kebakaran hutan yang melanda Kalimantan Barat yang menyebabkan kabut asap hingga ke negeri seberang. Dan yang paling segar, Provinsi Gorontalo dilanda banjir bandang hebat yang membuat belasan ribu orang menjadi korban.

Banjir bandang, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, sepertinya enggan beranjak dari negeri ini. Harta dan nyawa pun tak berarti kala sang alam murka.

Kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Riau dan Kalimantan Barat, ditengarai dilakukan oleh sejumlah oknum yang sengaja membakar untuk perluasan lahan perkebunan. Sementara itu banjir bandang di Gorontalo menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, kepada Tempo.co, Sulawesi memang dikenal sebagai wilayah rawan banjir bandang, karena kondisi topografinya perbukitan dan pegunungan dengan dataran pendek.

Namun, menurutnya lagi, ‘’Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya kawasan resapan air, serta perubahan penggunaan lahan dari hutan ke pertanian atau permukiman. Degradasi lingkungan telah menyebabkan sungai jadi dangkal dan sempit. Sehingga makin rentan terjadinya banjir.’’

Tiga kasus di atas setidaknya menunjukkan bahwa kemurkaan alam tak lepas dari campur tangan manusia. Alam, terlebih khusus hutan, hanya sering dijadikan alat pemuas keserakahan. Selain itu, tuntutan kebutuhan ekonomi yang makin tinggi selalu menjadi alasan masyarakat berpikir praktis. Ditunjang dengan praktik-praktik penyalahgunaan wewenang oleh sejumlah oknum penguasa, menjadikan hutan tropis Indonesia makin dekat dengan ‘’sakratul maut’’.

Di tengah masalah itu, panggung sandiwara sering muncul. Saling tuding pun berlangsung. Pada akhirnya, tak ada kepastian siapa yang pantas dihukum bencana itu.

Di lain sisi, kita patut bersyukur Indonesia dianugerahi dengan beragam adat dan budaya yang masih menghormati alam. Masyarakat Pulau Miangas, Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara (Sulut), misalnya. Berada di beranda depan ujung utara Indonesia, masyarakat di pulau kecil ini mengenal sistem adat manammi’ atau mane’e. Manammi’ adalah tata cara menangkap ikan yang menggunakan aturan adat. Sistem ini terbukti ampuh dalam menjaga ekosistem laut.

Tak hanya laut, aturan adat masyarakat Pulau Miangas pun turut memelihara hutan. Ini diwujudkan dengan aturan ketat soal penebangan pohon. Penebangan pohon tidak boleh dilakukan dengan sembarangan. Ada sejumlah syarat dan tahapan yang harus dilewati.

Sebelum menebang pohon, masyarakat diharuskan melapor kepada tetua adat setempat. Dari situ, para tetua adat dan tokoh masyarakat berembuk untuk menentukan jenis pohon, usia dan jumlah pohon yang akan ditebang di hutan adat. Selain itu, penebangan pohon hanya boleh dilakukan untuk keperluan seperti membangun rumah, bangunan untuk umum seperti rumah ibadah dan sekolah.

Pada kasus lain, peran serta pemerintah di level paling bawah seperti kepala desa juga sangat menentukan. Peranan sangadi (kepala desa) Desa Mengkang, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong yang bernama Marsidi Kadengkang, misalnya. Di mana dengan kerendahan hatinya, Kadengkeng, memberi pencerahan terhadap masyarakat akan pentingnya menjaga alam. Atas kerja kerasnya, dia pun dianugerahi sejumlah penghargaan di tingkat lokal maupun nasional.

Dua contoh di atas, sekiranya dapat memberikan informasi bagaimana menjaga hutan dengan cara-cara sederhana, namun konsisten dan ampuh. Kearifan lokal masyarakat Kepulauan Talaud dan komitmen kuat Marsidi Kadengkang, setidaknya menjadi bagian dari solusi untuk menjaga hutan dari ancaman kemusnahan.

Pada akhirnya, lagu Ebiet G. Ade selalu menjadi backsound yang sangat menyentuh kala bencana melanda. Setiap anak negeri berbondong-bondong mengulurkan tangan membantu mereka yang menjadi korban. Namun, pernahkah kita sadari pada penggalan lirik, ‘’Mungkin alam mulai enggan bersahabat dengan kita’’, tersirat pertanyaan, ‘’pernahkah kita mau bersahabat dengan alam?’’

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

1 × 5 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top