You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Pernyataan Sikap Terkait Pemukulan Anggota AJI Kota Gorontalo

Pernyataan Sikap Terkait Pemukulan Anggota AJI Kota Gorontalo

IMG_20160317_183016

DeGorontalo – Senin 5 September, sekitar pukul 20.30 Wita, Hidayat Dangkua (Yayat) mendatangi Warung Kopi Maksoed di halaman Sekretariat AJI Kota Gorontalo untuk rapat Forum Komunitas Hijau (FKH) Gorontalo. Yayat adalah seorang karikaturis anggota AJI Kota Gorontalo dan anggota FKH. Rapat FKH membahas masalah penebangan pohon di lingkungan Kota Gorontalo. Rapat ini dihadiri Wali Kota Gorontalo, Marten Taha dan sejumlah kepala dinas.

Yayat datang menggunakan mobil bersama rekan-rekannya dan memberanikan diri masuk ke sekretariat, meskipun di luar warkop massa sudah ramai. Yayat memilih masuk ke dalam, dan tidak ikut rapat FKH yang sedang berlangsung bersama wali kota.

Sesaat setelahnya, Lurah Tomulobutao masuk menanyakan siapa penghuni dan penanggungjawab rumah kontrakan. Kemudian tiga orang ikut masuk ke dalam, salah satunya yang membawa handy talky meminta KTP semua orang yang berada di ruangan.

Saat Yayat memberikan SIM kepada orang tersebut, masuk seorang polisi mengamankannya dari massa. Polisi tersebut adalah ajudan wali kota dan membawa Yayat keluar ruangan dengan tujuan kabur dari kepungan massa. Namun sampai di depan sekretariat, Yayat dipukul orang yang berasal dari kerumunan. Ia dipukul di pipi kanan, dan kepala bagian belakang. Bekas pukulan berupa memar di sekitar tulang pipi.

Massa diduga adalah pendukung wali kota Gorontalo, yang emosi karena karikatur karya Yayat yang memprotes penebangan pohon di wilayah itu. Yayat memuat karikatur tersebut dan menyebarkannya di Facebook. Saat dikonfirmasi mengenai keberadaan massa di sekretariat AJI, wali kota mengaku tidak tahu dengan penyerangan tersebut dan meminta polisi untuk mengamankan Yayat dari kepungan massa.

Bersama dua polisi dan seorang rekan, Yayat dibawa dengan sepeda motor ke Polsek Kota Timur karena polisi khawatir massa akan menyusul ke Polres Kota Gorontalo. Sekitar pukul 22.30, Yayat dibawa ke Polres Kota Gorontalo, didampingi rekan-rekan AJI Kota Gorontalo dan sejumlah aktivis. Tidak lama kemudian polisi mempersilakan Yayat pulang.

Atas kejadian tersebut, AJI Kota Gorontalo menyatakan sikap:

1. Mengutuk tindakan pemukulan terhadap anggota AJI Kota Gorontalo yang diduga dilakukan oleh massa pendukung walikota. Sesuai dengan Undang-undang pers nomor 40 tahun 1999, pasal 18 ayat 1, segala tindakan kekerasan terhadap pers akan mendapatkan hukuman 2 tahun penjara dan denda Rp 500 juta.
2. Mendesak kepada Kepolisian Polres Gorontalo Kota dan Polda Provinsi Gorontalo untuk segera mengusut tuntas pemukulan dan penyerangan kantor AJI Kota Gorontalo, serta menghukum pelaku sesuai dengan hukum yang berlaku. Ketidaktuntasan penyelesaian masalah kekerasan terhadap jurnalis menunjukkan ketidakseriusan penegak hukum dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, dan khususnya dalam menegakkan prinsip-prinsip kemerdekaan pers.
3. Menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat baik perorangan, organisasi massa, organisasi politik, maupun birokrat untuk menghentikan kekerasan terhadap jurnalis dan menggunakan UU Pers dalam menyelesaikan kasus-kasus yang terkait karya-karya jurnalistik.
4. Menyerukan kepada seluruh jurnalis di Gorontalo untuk bersatu dalam melawan premanisme dan tindak kriminalisasi terhadap pers. Sebab hal itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi yang sedang berkembang di Kota Gorontalo.
5. Menyerukan kepada seluruh Jurnalis untuk bekerja profesional dan mematuhi kode etik serta UU Pers nomor 40 tahun 1999.
Demikian pernyataan sikap Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo.

Gorontalo, 6 September 2016

AJI Kota Gorontalo

Divisi Advokasi AJI Kota Gorontalo                Ketua AJI Gorontalo

Kristianto Galuwo                                           Debby Hariyanti Mano

(Visited 1,402 times, 1 visits today)

Leave a Reply

16 + 7 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top