Te Yasin, Petani Sagu di Padengo

Tempat Pengelolaan Sagu
Tempat pengolahan sagu milik Yasin. Foto: Wawan Akuba.

Degorontalo- Tidak hanya hidup subur di Papua, pohon sagu atau sago palm (Metroxylon sagu) juga hidup subur di wilayah Gorontalo. Salah satunya di desa Padengo, desa yang terletak di ujung kecamatan Dengilo Kabupaten Pohuwato.

Sedikitnya, ada lima kepala keluarga di desa Dengilo yang menjadi petani sagu. Muhamad Yasin misalnya, petani ini mempunyai tempat pengolahan sagu sendiri yang dibangun di belakang rumahnya. Ia sudah lima tahun menjadi petani sagu, dan karena pekerjaan itu ia telah kehilangan dua jari karena kecelakaan kerja.

Sehari-hari, Yasin mencari pohon sagu yang ada di sekitaran desa Padengo. Tak sendiri, saat mencari pohon sagu, ia dibantu oleh saudaranya, Yusuf Asabu. Menjadi petani sagu oleh Yusuf hanya sebagai pekerjaan sampingan, sebab pria 42 tahun itu dikenal petani jagung.

“Panen jagung itu lama, makanya untuk menunjang kebutuhan sehari-hari saya membantu saudara saya Yasin untuk mengolah sagu ini,” tuturnya.

BACA JUGA:

Sepuluh Permainan Tradisional Gorontalo Ini Nyaris Punah

Pakai Alat Ini, Pemanjat Kelapa Di Gorontalo Seperti Naik Sepeda

Yusuf mengatakan, pohon sagu biasanya dibeli dengan harga Rp7 ribu untuk setiap pohonnya, kemudian dibawa ke tempat pengolahan dengan menggunakan gerobak sapi. Karena pohon sagu yang telah ditebang tidak boleh dibiarkan lama, usai ditebang pohon sagu langsung diolah menggunakan mesin.

“Satu pohon itu bisa dibelah menjadi empat ujung, tapi tergantung besar kecilnya pohon sebenarnya,” jelasnya.

Sagu yang telah dipisahkan dari kulit, kemudian disaring dan dibiarkan mengendap di dalam wadah persegi panjang selama tiga hari.

“Jadi kalau dihitung-hitung, proses produksi sagu ini bisa empat sampai lima hari,” katanya.

Untuk pemasaran, pria dua anak itu biasanya menjualnya ke pasar yang ada di kecamatan Marisa, kabupaten Pohuwato. Tidak hanya per kilo, sagu ini juga dijual per liter. Rp2 ribu untuk yang masih basah, dan Rp5 ribu untuk sagu yang sudah kering.

Mengenai limbah yang dihasilkan, Yasin mengaku belum tahu bagaimana cara mengolahnya agar bisa berguna. Alhasil, limbah ampas dan kulit-kulit pohon sagu menggunung di sekitaran tempat pengolahan sagu,

“Kalau ampas-ampas itu biasanya kami bakar,” katanya.

 

Wawan Akuba

wawan akuba
Mahasiswa dan pecinta, seorang yang telah mencoba melibas semak belukar rinjani tapi tetap tunduk pada keindahannya.
http://wawannakuba.blogspot.com

Leave a Reply

eleven − seven =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top