Polahi, Lausala dan Program Pemerintah yang Bernama KAT

 Sungai Hatibi, Subdas Paguyaman, dalam kawasan Suaka Marga Satwa Nantu. (Foto. MarahalimSiagian/Burung Indonesia)
Sungai Hatibi, Sub daerah aliran sungai  Paguyaman, dalam kawasan Suaka Marga Satwa Nantu. (Foto. MarahalimSiagian/Burung Indonesia)

 

Oleh. Marahalim Siagian
Antropolog. Bekerja di Organisasi Burung Indonesia Program  Gorontalo

MALAM  belum terlalu larut, ketika kami melanjutkan sesi percakapan ringan dengan Tahilu. Dia seorang pemimpin klan kecil Polahi. Jumlah mereka 10 jiwa. Kami bercakap-cakap di sekitar Sungai Hatibi, anak sungai Paguyaman, Mei 2016 silam.

Pemukiman Polahi ini, berada pada ketinggian 450 meter di atas permukaan laut. Dapat diakses dari Pangahu.mengunjungi tempat tinggal mereka di dalam hutan Paguyaman, cukup menguras tenaga juga menyesakkan dada perokok berat seperti saya.

Polahi dalam defenisi pemerintah adalah golongan Komunitas Adat Terpencil (KAT). Pada rezim orde baru, program ini terdengar lebih “sadis” dengan istilah ‘masyarakat terasing’ di bawah payung program Pemukiman Kembali Masyarakat Terasing (PKMT).

Penggunaan istilah ini dalam konteks Gorontalo sebenarnya tidak salah, hanya saja kurang tepat. Pada beberapa kasus, peserta program KAT teraduk dengan masyarakat Gorontalo yang hidup di pinggir hutan. Anggota masyarakat yang disebut terakhir pada dasarnya adalah mereka yang hidup menetap, melek huruf serta bagian dari budaya mainstream—budaya Gorontalo.

Selain itu bias program juga bisa terjadi, jika memasukkan individu atau rumah tangga yang mata pencahariannya (dulunya) penambang emas, kemudian tinggal dan membuka ladang di kawasan hutan seperti komunitas di Podaa di kabupaten Boalemo.

Tahilu (45) pemimpin klan kecil keluarga Polahi. (Foto. Marahalim Siagian/Burung Indonesia)
Tahilu (45) pemimpin klan kecil keluarga Polahi. (Foto. Marahalim Siagian/Burung Indonesia)

 

Perlu juga menjernihkan kedudukan sosial dan etnografis yang disebut Lausala. Lausala dalam defenisi umum adalah orang yang masuk ke hutan tanpa tujuan. Folklore atau cerita rakyat Gorontalo menyebut mereka adalah golongan yang memiliki ilmu kebatinan; kebal, bisa menghilang, dst.

Dalam cerita rakyat , mereka digambarkan sebagai orang desa yang masuk ke hutan untuk ‘menyabung nyawa menanding ilmu’ dengan Polahi. Mengapa dengan Polahi? Ada kepercayaan bahwa Polahi memiliki ilmu kebatinan yang tinggi—sebagai tandingan ilmu mereka.

Dengan keterangan ini, maka Lausala bukanlah sebuah sub komunitas di Gorontalo, keberadaanya hanya eksis dalam kepercayaan masyakat, atau mungkin golongan yang demikian pernah ada di Gorontalo, namun bukan sebuah komunitas khusus.

Di tengah obrolan dengan Tahilu, seorang dari kami mengajukan pertanyaan. Polahi ini nantinya mau ke mana? Apakah tetap akan tinggal di hutan?

Agak lama Tahilu baru memberi jawaban. Sepertinya ada sesuatu yang bergejolak dalam hatinya.

Ia mengambil kertas tembakau, menggulungnya jadi pilinan lebih besar dari biasanya. Saya yang ikut dalam poros percakapan, menjadi khawatir, apakah pertanyaan itu telah menyinggung perasaannya?
Tahilu menyalakan tembakau lintingan itu, menarik asapnya dalam, dan mengeluarkan asap dari hidungnya, cara khas perokok untuk relaksasi otak penat.

“Saya pernah ikut program itu di masa lalu. Rumah peruntukan untuk kami banyak yang diambil alih orang kampung (baca: penduduk desa Gorontalo),” katanya buka suara.

Ia sendiri telah meninggalkan rumah pemberian pemerintah itu lalu kembali ke hutan. Banyak orang kampung yang mengaku-ngaku Polahi Polahi lo kambungo, cara untuk mensabotase parcel pembangunan itu dari mereka.

Beberapa hari kemudian, kami mengunjungi lokasi Program KAT di Desa Bihe Kecamatan Paguyaman dan satu eks program KAT tidak jauh dari Pangahu.

Kami menemui penghuni rumah KAT itu, seorang ibu rumah tangga yang berasal dari Limboto. Tetangganya juga bukan dari desa sekitar, Ia adalah rumah tangga pengganti dari Manado.

Kami tidak lama di rumah tersebut, namun sempat sempat menjawab pertanyaan yang kami ajukan: tidak ada Polahi di sini. Kalau pun pernah ada, suami saya lebih tahu.Ia sedikit tergesa dengan jawabannya karena di luar sedang mendung, sepertinya akan segera hujan, dan ibu tersebut ingin lekas memasukkan jagung sedang di ampar di halaman, agar tidak diguyur hujan.

Kami mohon diri dan kembali berjalan kaki ke jalan besar. Dalam perjalan, seorang mahasiswa sosiologi Universitas Negeri Gorontalo, yang ikut serta dalam kerja lapangan itu menuturkan, bahwa program KAT memang banyak yang salah sasaran, Ia merujuk ke program yang diketahuinya di Kabupaten Bone Bolango.

Salah sasaran penerima program pembangunan mungkin hal yang umum terjadi juga di Indonesia—bukan hanya di Gorontalo. Pejabat pengawas pemerintah pusat yang hanya punya waktu singkat saat menilik lokasi program KAT, akan gampang terkecoh. Ini jika hanya memperhatikan kondisi fisik penerima program dan pakaian yang mereka kenakan. Saat pejabat pengawas pemerintah itu kembali ke Jakarta, mereka dalam keyakinan penuh, bahwa program pembangunan itu sudah tepat sasaran.

Di hutan, Tahilu, tidak tahu konteks politik program semacam itu, kesehariannya terlalu sibuk untuk melihara hidup dua orang istri dan 4 anak yang tinggal denganya untuk dinafkahinya.**

 

BACA JUGA: 

Leave a Reply

8 − 1 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top