Polahi, Orang Pelarian Zaman Kolonial, Penjaga Hutan Gorontalo

Keluarga Tahilu, sisa komunitas Polahi yang masih bertahan hidup di hutan . (Courtesy Burung Indonesia)
Keluarga Tahilu, sisa komunitas Polahi yang masih bertahan hidup di hutan. (Courtesy Burung Indonesia)

 

DeGorontalo – Gugusan gunung dan hutan di Gorontalo di pulau Sulawesi, tidak hanya menyimpan kekayaan ekologis kawasan Wallacea dan pencipta banyak satwa endemik. Tapi juga menjadi saksi sejarah komunitas Polahi; kelompok orang kampung yang melarikan diri ke dalam hutan, Demi menghindari pajak yang diberlakukan kamar dagang Belanda (VOC) pada abad XVII silam.

Kehidupan komunitas Polahi yang berarti “orang pelarian” masih banyak berselimut misteri.

Konon, mereka tersebar di hutan pegunungan Boliyohuto berketinggian 2.065 meter di atas permukaan laut, yang membentang di Kabupaten Gorontalo dan Boalemo. Juga di pegunungan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, di Kabupaten Bone Bolango dan Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Tidak ada jumlah pasti populasi mereka. Namun jumlah mereka diduga kian menyusut. Sebagian komunitas Polahi yang terbagi dalam beberapa kelompok. Kini telah memilih hidup membaur atau kawin mawin dengan warga kampung.

Salah satu kelompok Polahi yang tersisa, dan masih bertahan hidup di hutan adalah keluarga Tahilu. Keluarga beranggotakan sepuluh orang ini mendiami sungai Hatibi, Paguyaman, Kabupaten Gorontalo.

Inses

Beberapa tahun terakhir ini, Keluarga Tahilu mendapat sorotan luas, terutama dari hasil liputan media massa. Itu karena sistem perkawinan mereka demikian longgar, hingga membolehkan seorang anak memperistri ibu kandungnya sendiri.

Tahilu memiliki dua orang istri yang merupakan kakak beradik, yakni Ipa dan Lumeya. Kelak Ipa akhirnya dia lepaskan, lalu diperistiri oleh anak kandungnya sendiri yang bernama Maulya.

Salah satu media online di Jakarta, bahkan sempat menurunkan judul bombastis yang menyebut perilaku mereka sebagai “setengah hewan”. Ada juga stasiun televisi di Jakarta yang membuat program bersama Polahi, dan (maaf-) membuat mereka setengah telanjang. Padahal dalam kesehariannnya, orang Polahi sudah memakai baju sebagaimana masyarakat lainnya.

BACA JUGA:

“Orang Polahi masih terus dieksploitasi, termasuk oleh media massa yang hanya mengedepankan sisi sensasionalitas saja,” kata Rauf Hatu, periset Polahi dan guru besar di bidang sosiologi dari Universitas Negeri Gorontalo.

Dia menjelaskan, Polahi merupakan sebutan yang dipakai dan diterima oleh Polahi sendiri, maupun dari orang luar, yakni masyarakat Gorontalo. Polahi dalam konteks percakapan sehari-hari di Gorontalo, acap kali berkonotasi negatif; orang yang tidak tahu aturan, orang yang tidak mau diatur, orang yang masih liar, orang yang sopan dan santunnya kurang, orang yang tidak tahu agama.

Riset terbaru yang dilakukan oleh tim dari organisasi Burung Indonesia dan Universitas Negeri Gorontalo pada akhir tahun 2016, kian melengkapi literatur tentang kehidupan komunitas Polahi yang terbilang masih minim.

Marahalim Siagian, Arkeolog dari Burung Indonesia yang memimpin tim riset menambahkan, praktik perkawinan sedarah sebaiknya tidak hanya dilihat dari kacamata moral positif atau dari sudut pandang agama.

Lebih jauh, menurutnya yang harus ditelisik adalah bagaimana perkawinan sedarah itu diteliti dari kacamata ilmu pengetahuan, misalkan dari segi medis.

Sebab dari hasil riset sosial itu, perkawinan yang terjadi antara ibu dan anaknya itu tidak menghasilkan keturunan.

“Perkawinan sedarah itu juga bisa diihat sebagai langkah untuk bertahan, mengingat komposisi laki-laki dalam keluarga Tahilu jauh lebih banyak dari perempuan,” ujarnya kepada DeGorontalo, belum lama ini.

Penjaga Hutan

Hasil riset itu juga mengkonfirmasi, bahwa tidak semua hal tentang Polahi berkonotasi negatif. Orang Polahi yang bertahan hidup dari berburu dan meramu serta bercocok tanam, juga dikenal memiliki bentuk kearifan yang sejalan dengan konservasi.

Orang Polahi diketahui tidak mengonsumsi daging sejumlah satwa, untuk beberapa alasan. Satwa yang tidak boleh dikonsumsi itu antara lain edemik dan dilindungi, sebut saja burung Rangkong dan Maleo. Mereka juga pantang mengonsumsi Monyet Sulawesi (Macaca Heckii) karena percaya bahwa satwa itu adalah jelmaan manusia.

Satwa lainnya yang pantang mereka konsumsi adalah segala jenis babi, termasuk Babi Rusa yang merupakan endemik Sulawesi itu. Polahi percaya bahwa bila mereka memakan daging Babi Rusa maka tubuh mereka akan menderita gatal-gatal. Jadi lebih baik menghindarinya.

Dalam  kosmologi orang Polahi, mereka percaya tiga kekuatan penyeimbang, yakni Pulohuta, Lati, dan Lausala. Saat hendak menebang pohon untuk membuka ladang misalnya, mereka harus bertanya pada salah satu kekuatan itu untuk mendapatkan restu.

Menurutnya, ada banyak bentuk kearifan lainnya yang sejalan dengan konservasi. Boleh dibilang, orang Polahi merupakan penjaga konservasi hutan di Gorontalo.

“Banyak yang ingin mengubah pola hidup mereka, agar modern, agar keluar dari hutan, tapi untuk apa?” katanya.**

 

SYAM TERRAJANA

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

nineteen − nineteen =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top