You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Populasi Elang Sulawesi Menurun

Populasi Elang Sulawesi Menurun

Elang Sulawesi. Foto trendburung.blogspot.co.id
Elang Sulawesi. Foto trendburung.blogspot.co.id

DeGorontalo – Satwa endemik di Sulawesi sangat beragam. Diketahui, dalam zona Wallacea, Sulawesi merupakan yang terkaya, paling banyak memiliki fauna endemik dan dunia burung yang sangat berbeda dengan tempat lain. Salah satu burung endemiknya adalah elang Sulawesi, namun maraknya perburuan membuat populasi elang ini terus menyusut.

Elang Sulawesi (Sulawesi Hawk Eagle) terdistribusi di hutan hujan Sulawesi dan pulau-pulau satelitnya antara lain Muna, Buton, kepulauan Sula dan kepulauan Banggai. Makanan utamanya adalah burung, kadal, ular dan mamalia kecil seperti tikus.

Elang ini berukuran sedang sekitar 64 cm dari kepala sampai ekor. Elang dewasa berwarna cokelat karat dan terdapat garis yang jelas di kepala dan dada. Sayapnya berwarna cokelat gelap dan putih bergaris hitam di bagian bawah sayap. Elang muda memunyai kepala berwarna putih, termasuk dalam famili accipitidae.

Diperkirakan populasinya 5000-10.000 individu (Ferguson-Lees et al. 2001) dan masuk kategori terancam punah menurut IUCN. Dan menurut CITES dikategorikan dalam appendix II.

Data populasi terkini masih belum di-update lagi dan kemungkinan besar sudah sangat turun populasinya karena banyaknya degradasi habitat yang terjadi di Sulawesi.

Berdasarkan laman resmi BKSDA Suksel, elang Sulawesi merupakan burung pemangsa (raptor) yang keberadaannya saat ini sudah mendekati terancam punah. Jenis raptor ini dimasukkan ke dalam lampiran jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 Tahun 1999 dan termasuk Appendix II CITES. Startus perlindungan lainnya adalah SK. Menteri Pertanian No. 421/ Kpts/Um/8/70, SK. Menteri Pertanian No. 301/ Kpts/Um/8/91, UU RI No. 5 Tahun 1990 dan KEPRES No. 43 Tahun 1978.

Ancaman

Gangguan yang paling mengancam jenis-jenis burung pemangsa adalah hilangnya atau rusaknya habitat, perburuan dan perdagangan. Penggunaan insektisida dan pestisida yang biasanya bersifat lokal juga diduga menjadi salah satu ancaman bagi kelestarian jenis burung, namun dampaknya sering berpengaruh secara signifikan.

Buttu Ma’dika dan Fachry Nur Mallo dalam pengamatannya yang dilakukan di beberapa kawasan, melaporkan bahwa ancaman atau potensi ancaman bagi kelestarian berbagai jenis raptor yang ada di Sulawesi, antara lain pengrusakan habitat/hutan tropis.

Walaupun beberapa jenis raptor diketahui bayak beraktifitas di tempat-tempat terbuka, seperti pinggir hutan dan daerah-daerah hutan yang mengalami gangguan, namun habitat utama hampir semua jenis raptor di Sulawesi adalah hutan tropis. Hingga saat ini hutan tropis terus mengalami pengrusakan yang semakin meluas.

Kondisi tersebut semakin diperparah oleh maraknya aktivitas perburuan satwa. Pada kenyataannya pemburu tidak secara khusus berburu elang, namun biasanya burung apa saja yang ditemukan menjadi sasaran perburuan. Akhirnya populasi burung-burung itu menipis.

Pelestarian elang dan habitatnya menjadi penting dilakukan, karena elang dapat menunjukkan sehatnya suatu habitat dan ekosistem hutan. Juga mengindikasikan adanya nilai penting keanekaragaman hayati di dalamnya dan menduduki nilai penting, dalam rantai makanan yaitu sebagai predator teratas.

 

SUMBER: Beritalingkungan.com

(Visited 99 times, 1 visits today)
Kristianto Galuwo

Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.

http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

eighteen + 13 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top