You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Pri—Non—Pri

Pri—Non—Pri

 

Susanto Polamolo
(Marhaenis. Peneliti. Akademisi)

HARI itu, dalam rapat ketiga Kongres Pemuda II, seorang pemuda menghampiri  Soegondo Joyopuspito, si pemimpin rapat. Pemuda itu meminta waktu sebentar untuk memperdengarkan sebuah komposisi lagu ciptaannya. Nama kamerad muda  itu;Wage Rudolf Soepratman.

Soegondo mulanya khawatir. Sebab kongres di bawah pengawasan ketat pemerintah kolonial. Setelah menimbang, akhirnya pemuda itu diijinkan untuk memperdengarkan karyanya di depan para peserta kongres.

Minggu malam di Gedung Karamat Raya No, 106, Wage Rudolf Soepratman tampil ke depan. Ia menggenggam biola tua. Hening membekap. Dari balik malam yang lindap dan dingin, Wage Rudolf Soepratman mulai menyayat biolanya. Rangkaian nadanya mengiris-menusuk kalbu.

Lagu yang dimainkannya itu, dia  beri judul “Indonesia Raya”. Begitu usai, seketika suasana gegap gempita, menyambut lagu yang membakar semangat para pemuda yang hendak berikrar. Lagu yang kemudian kita kenal sebagai lagu kebangsaan telah menjadi latar dirumuskannya “Soempah Pemoeda”. Sebuah sumpah pertalian batin antar para pemuda dari pelbagai etnis di Indonesia. Sejarah kemudian mencatat: “Soempah Pemoeda” diikrarkan, tertanggal 28 Oktober 1928.

***

Lagu kebangsaan, apa istimewanya?

Lagu, tidak hanya komposisi, ia juga imajinasi, pengandaian, atau suatu penegasan. Apakah lagu kebangsaan juga demikian?

“Unsur kebangsaan” dalam sebuah lagu menunjuk pada satu pertalian yang rumit: identitas, etnis, bahasa, teritori, agama, budaya. Lagu kebangsaan Indonesia, untuk siapa? Orang Indonesia? Apa yang dimaksud dengan orang Indonesia? Mereka yang pribumi kah? Lalu bagaimana dengan mereka yang non-pribumi? Kelihatannya, ada kategorisasi yang lancung, boyak, dan ambigu di sini, warisan ilmu pengetahuan zaman kolonial.

Dalam diskursus genealogi penciptaan ruang identitas pasca kolonial, kita telah banyak belajar tentang asal-usul Indonesia yang terdistorsi. Hampir tak ada definisi yang memadai tentang apa itu kebangsaan, ke-Indonesia-an: kita terengah-engah menandai, mencari tanda-tanda dalam arti transenden, antara being Indonesian dengan beyond Indonesian.

Jika kemerdekaan berarti pembebasan, maka, bebas dari apakah kita jika dikemudian hari kerap menyoal pribumi dan non-pribumi. Pertanyaan memilukan seringkali muncul, benarkah Indonesia “rumah yang aman, nyaman” bagi segala beda agama dan budaya? Bagi segala beda etnis dan bahasa?

Ada epos yang hambar, ketika konstruksi tentang negara-bangsa dan nasionalisme Indonesia digelar, kontradiksi dan dialektika bersilang lintas memudar. Imaji kebangsaan dengan konsep nasionalisme: berada dalam tautologi yang saling menegaskan, bahkan saling mendepak ketika bersentuhan dengan soal pribumi, non-pribumi. Itu karena derajat kesadaran dan penerimaan tentu kemudian berlapis dan berbeda-beda tentang apa itu negara-bangsa, nasionalisme, pribumi, non-pribumi.

Imaji tentang negara-bangsa Indonesia, seringkali tersesat. Kadang ia diberi pendasaran sosio-politik dengan argumentasi filosofis khas orientalis. Kadang pula ia digubah dengan frame antropologis yang bertolak dari kawin silang antara “lokal-global”. Usaha glorifikasi yang problematis. Imaji negara-bangsa seperti sedang “mencari” Indonesia, hendak dimurnikan. Dari Apa? Murni berarti ada yang tidak orisinil, keaslian digugat, kemapanan identitas negara-bangsa dikonstruksi kembali.

Sebetulnya, usaha pemurnian itu sebuah lelucon. Sebab kemudian imaji negara-bangsa senantiasa berada dalam tolak-tarik hubungan kekuasaan yang picik. Kecelakaan yang sama yang juga menimpa konsep nasionalisme Indonesia. Nasionalisme lokal, nasionalisme nasional, nasionalisme internasional: pembedaan ini teriris sepenuhnya ke dalam paradoks tentang budaya dan agama. Sebuah pendekatan dirasa perlu dirubah untuk memugar konsep nasionalisme Indonesia. Itu masih mungkin. Tetapi, untuk dapat mengerti persoalan mendasarnya, cukup melihatnya berhadap-hadapan dengan kapitalisme.

Terdapat gemeinschaft di satu sisi, dan geselschaft di sisi yang lain. Dihadapan kapitalisme, nasionalisme Indonesia kadang lapuk, dan khianat. Barangkali itu karena nasionalisme Indonesia,  hanya didistribusikan lewat intelektualisme. Di mana kelas menengah mapan dan dominan bergelantungan. Nasionalisme kontemporer sudah lama meninggalkan diskursus tentang kepribadian bangsa, walhasil ia kemudian sulit dijadikan pegangan, konsep yang patah arang. Yang mau dikatakan di sini adalah, nasionalisme dewasa ini merupakan bagian dari produk sistem kehidupan yang dibangun oleh kapitalisme: intinya di situ, pengetahuan tentang nasionalisme tidak bisa dilepaskan dari eksistensi kapitalisme.

Nasionalisme sedang mengendap, dan di sana ada faktor utopis. Ia membentuk semacam tahapan, dari tahapan paradoks budaya dan agama, ke tahapan involusi yang terjadi di antara keduanya. Itu seturut dengan perubahan-perubahan besar pelbagai tipe masyarakat ke arah sistem hidup terintegrasi, sistem sosial kapitalisme.

Tumbukan budaya dan agama di gelanggang politik Indonesia bukan “lagu baru”, ia “lagu lama”, memiliki riwayat panjang sejak dimulainya gesekan soal pribumi non-pribumi di masa lampau. Orang-orang ramai bertempik sorak sebagai pribumi, bersilang surup mereka yang non-pribumi; ada pula mereka yang mendabik dada sebagai umat mayoritas, tak ingin berbagi tempat dengan budaya yang tidak sinkron, mencelampakkan minoritas; kekerasan bahasa terjadi di pelbagai ruang hidup.

Kita sedang menyaksikan sebuah transformasi besar di Indonesia, suatu konfigurasi baru sedang dibentuk lewat kausalitas ekonomi. Pembangunan yang begitu cepat, perubahan sosial melaju tak terkendali, menyebabkan banyak hal berubah tanpa “kesadaran”. Semua orang terlibat dalam konfigurasi baru kapitalisme saat ini: tak peduli ia pemuka agama, sastrawan, filsuf, akademisi, pengusaha, politisi, warga, semuanya harus terlibat, harus mengubah isi “kesadarannya”, dan harus bersedia digulung.

Hari ini, pertalian batin antara pribumi dan non-pribumi menjadi kemewahan yang sulit ditemukan. Ada yang sedang sekarat menunggu mati, namanya: toleransi, ia sekarat di antara imaji negara-bangsa dan nasionalisme.

Pertalian batin berhubungan dengan tertib batin, berhubungan pula dengan tertib kosmos: kini hampir semuanya koyak. Iman dibutuhkan, tetapi orang-orang juga lapar; ideologi/gronslag bangsa harus jadi komitmen, tetapi orang butuh kekuasaan; sebuah tempat di mana ideologi/gronslag seringkali digadaikan.

Episode pribumi vs non-pribumi ini mengajarkan kita satu hal klasik: dalam imaji negara-bangsa hidup partikularisme; dalam konsep nasionalisme hidup para petualang.

Ini episode “nihilisme”, mengingatkan saya pada Nietzsche, episode-episode menyedihkan yang digagas oleh mereka “kaum biadab terpelajar”.
***

Memang menyesakkan mengulum rasa pahit. Tak, apa. Kita masih punya lagu “Indonesia Raya”. Lagu yang menjadi latar ikrar “Soempah Pemoeda” 28 Oktober 1928. Lagu yang kemudian menjadi lagu kebangsaan kita bangsa Indonesia. Paling tidak, kita ingat, lagu itu diciptakan Wage Rudolf Soepratman, dan direkam pertama kali oleh Yo Kim Tjan, sembari kita mengulum rasa pahit, menelan persoalan pribumi, non-pribumi…

 

Maguwohardjo, 5 April 2017

(Visited 400 times, 1 visits today)
Syam Terrajana

Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

1 × 1 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top