You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Produk Makanan Mangrove dari Torosiaje Disajikan di Kamboja

Produk Makanan Mangrove dari Torosiaje Disajikan di Kamboja

DEGORONTALO – Hasil produk makanan dari buah mangrove hasil keterampilan perempuan Desa Torosiaje dan Bumi Bahari, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, disajikan dan dinikmati pada pertemuan Panitia Pengarah MFF yang sedang berlangsung di Kamboja, 25 – 28 Oktober 2014 minggu lalu.

Dewi K Baderan, penanggung jawab pengolahan produk olahan mangrove Desa Torosiaje, mengatakan mereka mengirim lima puluh sak hasil olahan dari mangrove ke negara Kamboja.

“Ibu-ibu merasa senang hasil keterampilan mereka disajikan di Kamboja,” ujar Dewi.

Namun menurut Dewi, produk mereka tersebut masih terkendala dengan ijin prodak untuk bahan pangan mangrove karena tiap satu jenis prodak harus memiliki ijin dan membutuhkan biaya untuk mengeluarkan ijin tersebut.

“Ibu-ibu di sini terbebani untuk mendapatkan ijinnya, sedangkan hasil pendapatan mereka sehari-hari sedikit,” kata Dewi.

Kepala Seksi Bimbingan dan Pengendalian Obat dan Makanan, Dinas Kesehatan Pohuwato, Ainun S. Farma, Kamis (30/10) kemarin, mengatakan jika produk pangan rumahan memang harus memiliki prospek yang baik, maka sebaiknya memiliki nomer P-IRT (Pangan-Industri Rumah Tangga).

“Disamping itu untuk menunjukkan bahwa produk makanan yang telah dibuat memenuhi standart keamanan pangan,” ujarnya.

Menurutnya lagi, prodak pangan berbasis bahan mangrove tersebut lebih aman jika hendak diedarkan di masyarakat, baik di luar lingkup daerah Torosiaje dan Bumi Bahari.

“Dan ini pertama kali home industry bahan pangan berbasis mangrove di Gorontalo” kata Ainun.

Sebelumnya produk makanan dari mangrove tersebut merupakan program Pusat Kajian Ekologi Pesisir Berbasis Kearifan Lokal (PKEPBKL) Biologi Unversitas Negeri Gorontalo (UNG), yang menjadi salah satu lembaga penerima dana Mangrove for the Future (MFF). Produk dari buah mangrove tersebut menghasilkan antara lain kue pia, tepung mangrove, stik lindur, kerupuk mangrove, kripik mangrove, dan dodol.

Foto: Pertemuan panitia pengarah MFF, saat menikmati hasil olahan buah mangrove  yang sedang berlangsung di Kamboja, 25 – 28 Oktober 2014 lalu. (Foto diambil Yus Rusila Noor-Program Manager/Wetlands International Indonesia Program)

RIVOL PAINO

(Visited 164 times, 1 visits today)

Leave a Reply

3 + one =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top