Propaganda Kartini dan Sekolah Nona Gorontalo

DEGORONTALO – Sekolah, sebagai bagian politik etis bangsa kolonial Belanda menyisakan banyak jejak. Tak terkecuali di Gorontalo. Pada akhir abad 19 sampai awal abad 20, nama Raden Ajeng Kartini dikenal luas sebagai pelopor emansipasi wanita, pengaruhnya sampai juga di Gorontalo.

Sebuah buku berjudul “Sejarah Pendidikan di Gorontalo” yang disusun sejarawan, Hassanuddin dkk (2012) menuliskan pada masa itu ,pemerintah kolonial mendirikan sebuah sekolah keputrian bernama “Kartini Openbare School . Sekolah ini hanya bisa diikuti oleh para putri elit tradisional dan pegawai pemerintah Belanda.

Sekolah itu berdiri di tempat yang sekarang dikenal sebagai kompleks pertokoan Murni, Kota Gorontalo. Tidak disebutkan tahun berapa berdirinya.

Pada 1922, kemudian dibukalah sekolah perempuan bernama Meijesschool atau dikenal sebagai sekolah nona. Pendirinya adalah Ina Datau Olii, putri seorang Marsaoleh (pejabat setingkat camat) dan Aluwi Muhammad.

Sekolah ini setara dengan Vervolgshool (lanjutan sekolah desa). Bertujuan menampung wanita lulusan sekolah desa dengan lama pendidikan tiga tahun. Disebutkan, kurikulum utamanya yakni seputar pembinaan kewanitaan. Sekolah ini berumur pendek, ditutup pada 1925 dikarenakan kepindahan Ina Datau ke Jawa.

Namun pada tahun yang sama, berdiri sekolah keputrian yang baru, Meisjeskopschool. Sekolah tiga tahun ini juga menerima perempuan lulusan sekolah desa. Kepala sekolahnya pertama dijabat oleh Marjam Lamadilaw.

Pada 1930, Marjam juga merintis sekolah kerumahtanggaan bernama Huis Houd School. Kurikulumnya mengajarkan pengetahuan kerumahtanggaan seperti menjahit, menyulam serta pengetahuan umum lainnya.

Di tahun yang sama, Marjam juga menjadikan rumah kediamannya menjadi tempat kursus bagi perempuan buta huruf. Tujuan utamanya adalah mengajarkan membaca huruf latin bagi perempuan Gorontalo yang tidak sempat mengeyam pendidikan. Turut sebagai pengajar adalah Zuba Dungga, Marie Suleman dan Ida Dunda.

Pada 1933, Huis Houd School ditutup karena tenaga pengajarnya pindah ke luar daerah.

Kultus Kartini

Pengkultusan Kartini sebagai perempuan nusantara pelopor emansipasi, pernah digugat oleh Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar, guru besar di Universitas Indonesia. Dia tidak setuju Kartini dijadikan simbol kemajuan wanita Indonesia. Setidaknya ada dua sosok perempuan hebat yang jarang disebut dalam sejarah Indonesia; Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan.

“Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.” Demikian kesimpulan Harsya, sebagaimana dikutip dari sebuah artikel berjudul” Meluruskan Sejarah Indonesia” yang ditulis Adian Husaini , seorang Doktor Peradaban Islam dan Peneliti Insist.

TM Dhani Iqbal, pemimpin redaksi lenteratimur.com pernah menyinggung hal ini pada artikelnya berjudul “Institut Peradaban Aceh: Hapuskan Hari Kartini”.

Jika hendak dilihat dalam kerangka pendidikan, tulisnya, maka Kartini sama sekali tidak tepat untuk dipilih sebagai ikon. Ada beberapa nama di Kepulauan Melayu yang jauh lebih tepat untuk soal pendidikan. Sebut saja Siti Aisyah We Tenri Olle (wafat 1919), Raja Tanete yang berkuasa selama 55 tahun, cucu kepada Siti Jauhar Manikan yang merupakan putri dari Inche Ali Abdullah Datu Pabean – orang keturunan Melayu Johor berdarah campuran Makassar/Bugis.

Salah satu kiprahnya dalam dunia intelektual adalah berkontribusi bersama ibundanya, Colliepujie Arung Pancana Toa Datu Tanete atau Ratna Kencana, dalam menerjemahkan epos La Galigo yang tersohor itu. Selain itu, We Tenri Olle juga sudah membuka sekolah untuk seluruh kalangan pada 1890-an. Pada sekolah itu, dia tak menggunakan diskriminasi. Siapapun bisa bersekolah tanpa syarat kelas sosial pun gender.

Surat-surat Kartini kepada orang-orang Eropa dikumpulkan dan diterbitkan pada 1911 oleh JH. Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Licht.

Pada 1922, buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka dan diterjemahkan dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Pada 1938, buku tersebut diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Melayu versi Armin Pane, seorang penyair, dengan judul yang sama. Selanjutnya, buku ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa lain, seperti Jawa dan Sunda.

Akan tetapi, lanjut Iqbal , sebetulnya orang tak pernah mengetahui surat-surat asli dari Kartini. Yang ada adalah dokumen salinan yang diolah dan diterbitkan oleh JH Abendanon.

Selain itu, dia mencatat “propaganda” Kartini juga dilakukan oleh orang Jepang saat menjajah Indonesia. Nama kartini disebut –sebut sebagai banyak media asuhan balatentara jepang. Dalam koran asuhan Jepang, Sinar Baroe, 21 April 1944, misalnya, muncul sebuah artikel berjudul “Memperingati R.A Kartini” di Jakarta. Dan pada 19 April 1945, di koran yang sama, muncul berita berjudul “Sekitar Pengluasan Pengadjaran”. Begini salah satu kutipannya:

“Kaum wanita harus dapat bergerak menjesuaikan diri disegala lapangan. Karena dgn pengluasan pengadjaran itu kaum wanita akan turut ikut mengetjap kemanfaatannja beliau terkenang kepada usaha R.A Kartini. Sebab R.A Kartini itu ialah malah seorang perintis djalan guna menempuh kemadjuan Indonesia. Kita kaum wanita harus berterima kasih kepada Dai Nippon.”

* Foto.Mempelai Golongan Menengah Gorontalo 1900. sumber (?)

 

SYAM TERRAJANA

 

Baca Juga:

Jauh Sebelum Kartini, Tiga Perempuan Gorontalo ini Sudah “Khatam” Emansipasi

Dayango; Kami memanggil roh leluhur menari, menjaga alam

Boe Taki, Judi, Ulama dan Pembangunan Kota Gorontalo

Dari Cina ke Gorontalo dan Tanaman yang Punya Jiwa

Kisah Gus Dur dan para perempuan Pulubala

 

 

One thought on “Propaganda Kartini dan Sekolah Nona Gorontalo

Leave a Reply

19 − seventeen =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top