Puisi-puisi Jelang Pilkada Gorontalo

Adriansyah Katili (facebook)
Adriansyah Katili (facebook)

 

Berikut ini adalah tiga puisi yang ditulis untuk merespon suasana  menjelang Pilkada  Gorontalo. Puisi ini merupakan karya Adriansyah  Katili, seorang dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo.

 

KATA DAN MAKNA

 

Kata dan makna
Adalah sepasang kekasih yang selalu bercumbu
Kata dan makna adalah pagi dan mentari terbit,
Adalah pagi dan cerah, adalah malam dan gelap
Kata dan makna adalah rembulan dan cahayanya.
Adalah bintang dan kedip
Adalah mentari dan hangatnya
Kata dan makna adalah sungai dan air
Adalah es dan bekunya
Kata dan makna adalah mata dan lensa
Adalah mobil dan mesinnya

Kata dan makna adalah sepasang kekasih
Namun makna sering berkhianat, sering berselingkuh
Maka makna sering mengkhianati kata di panggung-panggung politik
Di arena kampanye kita berarti aku, atau kami
Dan aku bisa berati kita
Di arena kampanye yang hingar bingar, di baliho-baliho iklan
Kata mengkhianati makna bagai senyum manis mengkhianati nurani
Kata sambutan yang sedih di pemakaman sementara hati bersorak gembira

Di arena kampanye politik
Kata-kata menjadi bunga, namun hanya bunga plastik
Yang mengundang kupu-kupu dan lebah yang akhirnya kecewa karena tertipu
Kata-kata mengubah citra madu menjadi racun
Kata-kata menjadi pencitraan meski bukan citra sebenarnya

Dalam dada seorang penyair
Kata dan makna saling bercumbu, saling mengasihi
Dan kata hamil lalu melahirkan puisi

(Gorontalo 26 Desember 2016)

 

Paku

Apalah artinya sebatang paku?
Bahan konstruksi kayu?
Untuk menautkan dua batang kayu?
Penahan atap seng agar tak diterbangkan sang bayu?
Paku, hanya sebatang paku
Apalah artinya sebatang paku
Begitulah kira-kira kata kau
Tahukan kau, bahwa bahagia atau sengsara
Selama lima tahun ke depan berawal dari sebatang paku?
Sebuah ritual yang sederhana
Tak perlu mengundang ustaz, kyai ataupun pendeta untuk mengantar doa
Cukup kau sendiri, ya kau sendiri
Masuk ke bilik suara itu
Sambil menata nurani
Bertafakkur sejenak, sambil merapal doa-doa
Lantas …..
Coblos gambar manusia bukan karena benci, tapi karena cinta
Coblos sampai tembus di bagian dada ataupun kepala
Dan gunakan paku yang sederhana itu
Kemudian merapal doa-doa lagi sambil menunggu
Semoga selama lima tahun ke depan takkan menggerutu
Bahagia ataupun sengsara berawal dari situ
Puas atau kecewa berawal dari situ
Bahagia seperti kupu-kupu di taman
Atau sakit di hati bagai ditusuk paku

(Gorontalo, 29 Desember 2016)

 

Sang Pemenang

Akulah pemenang
Aku berjanji akan mensejahterakan kalian
Dan itu aku telah penuhi sebelum kalian mencoblos
Aku telah membagikan kertas-kertas bertuliskan angka
Ketika kalian mengerumuni aku
Orang-orangku, bahkan aku sendiri
Telah berkunjung ke rumahmu
Saat fajar menyingsing di hari H
Aku namakan itu silaturrahmi
Sambil membawa syarat hidup sejahtera itu
Sudah habis katamu?
Maaf, aku tak berjanji akan memberikan lagi bila habis
Aku hanya berjanji memberikan kesejahteraan
Aku tak bilang kapan, namun aku sudah berikan sebelum pencoblosan
Dan aku menganut prinsip pemerataan
Maka kini aku yang harus sejahtera

(Catatan menjelang PILKADA)

One thought on “Puisi-puisi Jelang Pilkada Gorontalo

Leave a Reply

16 − 16 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top