Puisi-Puisi Kemerdekaan

Ilustrasi dari pixabay.com

KEMERDEKAAN

 

Merdeka itu adalah rakyat yang berbahagia

Menggarap tanah sawahnya

Bercengkrama dengan keluarga di rumah

Sambil sekali-kali menengok makam leluhur

Tanpa takut dan khawatir

Bahwa suatu saat akan ada gemuruh suara buldozer

Yang meluluhlantakkan rumah, kampung, dan makan leluhur

Yang mengubah segalanya menjadi ratap tangis,

Menjadi mall, kondominium,

atau areal tambang

yang semuanya bukan milik mereka

 

Merdeka adalah

Nelayan yang melaut

Pergi dengan perahu kosong

Dan mendarat dengan perahu yang penuh aneka ikan

Karena laut beserta isinya masih milik mereka

 

Merdeka adalah anak-anak sekolah

Yang pergi dengan riang

Tanpa harus bergelantungan di jembatan layang

Merdeka adalah kita

Yang menitikkan air mata

Karena syukur dan bukan berduka

Berduka karena segala yang ada bukan milik lagi kita

 

Merdeka adalah senyum bebas

Bebas dari hutang

 

Merdeka adalah filsuf yang bebas menjelajahi realita

Penyair yang bebas terbang ke angkasa

Dan menyelam laut dalam dengan kata-katanya

 

Merdeka adalah anak bangsa

Yang bebas berkata

Baik sekadar berucap terima kasih

Ataupun mengungkapkan harapan-harapan

Maupun berkata bahwa mereka tersakiti

 

Gorontalo Agustus 2017

 

AKU INGIN BERKATA

 

Aku ingin berkata

Bahwa merdeka adalah sekelompok kupu-kupu

Yang terbang gembira bersama-sama

Di antara bunga-bunga

Dan mencandai kembang-kembang

 

Aku ingin berkata

Bahwa merdeka adalah burung-burung

Yang menikmati air sejuk Danau Limboto

Tanpa takut bidikan peluru tajam

Sang pemburu yang kejam

Yang selalu berharap

Abadinya Danau Limboto

 

Aku ingin berkata

Bahwa merdeka adalah nelayan

Yang gembira melaut

Karena laut masih milik mereka

 

Aku ingin berkata

Bahwa merdeka adalah petani

Yang menggarap sawahnya dengan gembira

Yang membajak tanah, menebar asa, memanen bahagia

Yang masih menjadi tuan bagi tanahnya sendiri

 

Aku ingin berkata

Bahwa merdeka adalah sekelompok bocah

Yang gembira bernyanyi di kelas

Membaca puisi tentang harapan masa depan

Tanpa takut sekolah mereka akan runtuh

 

Aku ingin berkata

Bahwa merdeka orang tua

Yang bahagia menyambut anaknya pulang sekolah

Sambil berkata “Apa kebahagiaan yang kau bawa dari sekolah, Nak?”

 

Aku ingin berkata

Bahwa merdeka adalah suara azan,

Dentang lonceng gereja,

Lantunan puja bakti,

Yang berpadu harmonis

 

Aku tak ingin berkata

Bahwa merdeka adalah makanan bergizi

Karena kau pasti akan bertanya

“Siapa yang kebagian gizinya?”

Dan aku tak mampu menjawabnya


(Gorontalo, 16 Agustus 2017)

 

Puisi-puisi tentang makna hari kemerdekaan karya Adriansyah  Katili, seorang dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo.

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

five × five =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top