You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Pulau Malenge dan Keceriaan Anak-Anak (Catatan Perjalanan 5)

Pulau Malenge dan Keceriaan Anak-Anak (Catatan Perjalanan 5)

Aktivitas warga di Pulau Papan – Foto: Sigidad

Setelah makan siang, kami pamit kepada Mama Isran dan Papa Isran, dan anggota keluarga lainnya. Juga kepada si kecil Ipong.

Siang itu, Sabtu 20 Mei 2017, kami meninggalkan Pulau Papan, diantar Papa Dede. Kami menuju Desa Malenge dengan perahu mesinnya. Hanya sekitar puluhan menit, kami sudah sampai di bibir rumah Mama Awan. Ia kerabatnya Papa Dede. Rumahnya menjadi tempat persinggahan kami selama di Desa Malenge.

Mama Awan dan suaminya yang akrab disapa Papa Kede, menyambut dengan suguhan kopi. Setelah berbincang lama, Papa Dede akhirnya pamit kepada kami. Semua barang bawaan kami diminta Mama Awan untuk dibawa ke kamar depan.

Tak berselang lama, kami melanjutkan tugas dengan menyurvei lokasi pemutaran film. Desa Malenge yang berpenduduk hampir sama dengan Desa Kadoda, sekitar 900an jiwa, tak memiliki pantai berpasir putih. Tapi di desa ini, hampir semua warga menikmati listrik sehari penuh. Rata-rata setiap rumah memiliki panel surya di atap.

Aktivitas warga di Pulau Malenge – Foto: Sigidad

Desa Malenge memiliki pelabuhan kecil. Desa ini memunggungi langsung lebat hutan Pulau Malenge. Pulau yang dijuluki Pulau Monyet, dan pulau yang kerap ditemukan ular berbagai jenis.

Setelah belasan menit mengitari desa, akhirnya kami memilih lokasi pemutaran film di pelabuhan. Kami juga berhasil mendapatkan genset, dari seorang aparat desa.

Sorenya, kami menikmati suasana pelabuhan. Belasan anak-anak, tampak bermain di pelabuhan. Ada yang memancing, mandi sambil meloncat girang, menangkapi ikan-ikan yang tampak jelas karena air laut begitu jernih, juga menangkapi bulu babi atau landak laut.

Berpuluh-puluh kali anak-anak itu meloncat dari tepi pelabuhan, naik lagi, meloncat lagi, tapi tak tampak mereka lelah. Sesekali anak-anak itu salto sambil berteriak. Kedalaman air di sekitar pelabuhan sekitar enam meter. Tapi itu tak membuat mereka takut. Dasar anak-anak pulau.

Keceriaan anak-anak Pelabuhan Malenge – Foto: Sigidad

Seorang anak mendekati saya lalu menunjukkan ikan hasil tangkapannya, yang terlihat unik. Ikan seukuran sabun batang itu, berkulit tebal dan berwarna abu-abu dengar garis-garis kuning kemerahan. Siripnya tajam di kiri kanan, dan di punggungnya ada serupa tanduk. Mulutnya monyong.

“Ini bisa dimakan, nanti dikupas kulit tebalnya. Rasanya seperti daging ayam,” kata anak itu.

Ia juga memunguti landak laut tanpa takut terkena bisa. Ia memainkan landak laut itu di atas telapak tangannya dengan hati-hati. Bulu-bulunya yang meruncing, sesekali ia jepit dengan jemari lalu memainkannya seperti bandul. Menurutnya, landak laut juga bisa dimakan.

Seorang anak di Pulau Malenge – Foto: Sigidad

Sore itu, pelangi tampak melengkung di pulau seberang. Nelayan-nelayan satu per satu merapat ke pelabuhan dan rumah masing-masing, yang berdiri di atas laut. Orang-orang tua menjemput anak-anak mereka, lalu malam pun tiba.

Pemutaran film dokumenter kali ini berjalan lancar. Masyarakat pun terlihat antusias. Dibandingkan saat pemutaran di dua dusun di Desa Kadoda, di Desa Malenge warga yang hadir lebih banyak lagi. Diskusi sesudah film diputar pun berjalan alot dengan masalah yang hampir sama.

Menurut warga Desa Malenge, mereka pun sebenarnya sudah jarang menangkap ikan dengan bom. Sebab di pelabuhan, biasanya pembeli lebih memilih ikan yang bukan dari hasil bom atau racun.

Selain itu, untuk masalah monyet dan babi yang dianggap hama, warga juga mengaku serba salah. Namun mereka menyadari, membunuh satwa-satwa dilindungi bisa dijerat hukum.

Pemutaran film di Pelabuhan Malenge – Foto: Pepen

Pemutaran film juga dihadiri seorang traveller asal Itali. Namanya Paul. Ia memilih mendirikan tenda di pelabuhan, menunggu kapal publik dini hari. Saat menonton ia mengaku senang dengan isi film.

Sesudah diskusi dan pemutaran film hiburan, Mama Awan dan Papa Kede, bersama anak mereka Awan yang masih sekolah dasar, mengajak kami untuk makan malam.

“Makan dulu, nanti balik lagi,” kata Mama Awan.

Mereka menemani kami bertiga saat menuju rumah. Setelah makan, kami ditemani lagi kembali ke pelabuhan, untuk memastikan apakah film hiburan telah selesai. Warga yang tersisa tinggal enam sampai tujuh orang, sampai film selesai. Paul juga telah tidur di tenda.

Setelah dibantu beberapa warga mengemas alat-alat, kami pamit dan menuju ke rumah Mama Awan lagi. Saya memilih tidak tidur malam itu. Saya menghabiskan sisa malam duduk berbincang dengan Papa Kede.

Hingga pagi menjelang, Minggu 21 Mei 2017, Pepen dan Wawan saya bangunkan untuk segera berkemas. Kami harus menuju pelabuhan, untuk menunggu kapal publik yang akan menuju Wakai.

Kapal publik menuju Wakai dan Ampana – Foto: Wawan

Setelah pamit kepada Mama Awan dan Papa Kede, kami menuju pelabuhan dengan nafas lega. Akhirnya semua tugas telah ditunaikan. Tapi perjalanan pulang masih panjang. Sesampainya di Pelabuhan Wakai nanti, kami harus menuju Pelabuhan Ampana. Sebab kapal feri menuju Gorontalo tidak beroperasi karena diservis atau perawatan.

Dari Ampana, kami harus melanjutkan perjalanan darat selama lima jam menuju Luwuk. Pelabuhan Pagimana akan kami lewati, sebab kami masih menunggu jadwal kapal feri yang akan berangkat dari Pelabuhan Pagimana menuju Gorontalo, Senin 22 Mei 2017.

Kota Luwuk akan menjadi persinggahan kami selama semalam. Dan selama perjalanan dari Ampana menuju Luwuk, teman-teman saya kembali disibukkan ponsel pintar mereka masing-masing. Sementara saya, terlalu asyik memotret setiap tempat yang dilewati. Apalagi, ponsel saya mati total sejak berada di Pulau Papan. Tapi harga ponsel itu tak sebanding dengan sebongkah ‘berlian’ yang saya temukan di Kepulauan Togean.

Kepulauan Togean, adalah ‘berlian’ itu sendiri. Keindahan ‘berlian’ di Teluk Tomini yang semoga saja bertahan dari keserakahan manusia.

 

Semoga masih bisa bersambung …

(Visited 82 times, 1 visits today)
Kristianto Galuwo

Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.

http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

20 − twenty =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top