You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Pulau Papan nan Menawan (Catatan Perjalanan 3)

Pulau Papan nan Menawan (Catatan Perjalanan 3)

Rumah Kepala Desa Kadoda yang kami tinggali selama di Pulau Papan – Foto: Wawan

Di pondok rumah yang dibangun di atas permukaan laut itu, kami menikmati suguhan kopi dan pisang goreng. Resort Lestari dengan pantai berpasir putih di seberang, memupus tatap. Menjelang sore hari setelah berbincang dengan tuan rumah, kami diajak ke kamar yang telah disediakan. Kami melepas lelah perjalanan dengan dengkur.

Semalaman kami tidur nyenyak. Sesudah azan Subuh, Kamis 18 Mei 2017, saya dan Pepen terjaga lalu menuju dapur. Mama Isran–tuan rumah yang kami tinggali–, sedang membungkus nasi kuning dengan dedaunan pisang di dapur.

“Berapa satu bungkus, Mak?” tanya saya.

Mama Isran mengatakan per bungkus ia hargai Rp2 ribu saja. Sebab nasi kuning yang ia jual, biasa dibeli untuk bekal anak-anak pergi ke sekolah.

Setelah melahap dua bungkus, saya dan Pepen membawa tenda mungil menuju puncak Pulau Papan. Langit saat itu bergradasi dari hitam menjadi abu-abu, menuju terang. Pulau Papan ini kira-kira hanya seluas lapangan sepak bola, dan puncaknya merupakan salah satu tempat andalan bagi para turis.

Dari rumah yang kami tinggali, hanya sejauh tendangan bola plastik saja, kami sudah sampai di anak tangga alami dari bebatuan. Sekitar dua puluh dakian, kami sudah berada di atas puncak yang hanya ditumbuhi dua sampai tiga pohon itu.

Pepen mendirikan tenda di puncak Pulau Papan – Foto: Sigidad

Pepen segera mendirikan tenda, lalu kami menunggu sunrise. Di bawah, tampak beberapa rumah lampunya masih menyala. Biasanya yang listriknya bisa bertahan sepagi itu, mereka yang memiliki genset sendiri. Sebab di Pulau Papan, satu dusun tersebut hanya berharap dari mesin pembangkit listrik bertenaga solar, yang pembelian solarnya atas swadaya warga.

Listrik hanya bisa dinikmati menjelang Magrib sampai pukul 10 malam. Sama seperti dua dusun lainnya di pesisir pantai, yakni Dusun Kadoda dan Balantak. Satu-satunya tempat yang setiap malam hingga pagi hari bermandikan cahaya lampu, ialah Resort Lestari di seberang pulau.

Puncak Pulau Papan – Foto: Pepen

Beberapa menit kemudian, matahari naik perlahan dari punggung siluet sebuah pulau. Jembatan kayu yang menghubungkan Pulau Papan dengan pulau seberang, terlihat seperti segaris urat di lautan. Panjang jembatan itu hampir sekilo. Pulau ini surga.

Sunrise di puncak Pulau Papan – Foto: Pepen

Siangnya, kami gunakan waktu untuk membagikan newlsetter di dua lokasi di Dusun Kadoda dan Balantak yang berada di pesisir. Kami harus melewati jembatan panjang yang jadi sarana lalu lintas warga dan anak-anak sekolah dari Pulau Papan.

Jembatan menuju Dusun Kadoda – Foto: Sigidad

Pusat pemerintahan Desa Kadoda berada di Dusun Kadoda. Karena itu, bangunan sekolah dan kantor desa, didirikan di sana. Kedua dusun itu memiliki pantai pasir putih yang airnya begitu jernih. Pohon kelapa rata-rata setinggi atap rumah berjejer sepanjang pantai.

Dusun Kadoda – Foto: Sigidad

Setelah menemui masing-masing kepala dusun, dan juga membagikan newsletter di sekolah dan kantor desa, kami kembali ke Pulau Papan, untuk menyiapkan alat pemutaran film dokumenter.

Dalam perjalanan kembali ke Pulau Papan, kami bertemu Lin, traveller perempuan asal Tiongkok, yang memilih tinggal di salah satu rumah warga di Dusun Kadoda. Kami mengajak ia untuk menonton film dokumenter di Pulau Papan, nanti malam. Ia mengiyakan.

Pembagian newsletter di sekolah – Foto: Pepen

Sore itu, sesampainya di rumah Mama Isran, tampak beberapa ibu-ibu, remaja, dan anak-anak berkumpul. Mereka mengajak kami menuju pantai di Resort Lestari. Di sana setiap sorenya, warga Desa Malenge dam Kadoda biasanya bertarung main sepak takraw, bola voli pantai, dan tenis meja.

Sebelum pantai itu dibangun resort, dulunya lokasi itu menjadi tempat warga bermain bola. Tapi setelah disewakan, akses ke pantai sudah dibatasi. Baru belakangan, pemilik resort mulai mengajak warga sekitar untuk meramaikan resortnya.

“Pengunjung resort juga nanti jalan-jalan ke Pulau Papan. Kalau kami tidak diizinkan ke pantai, warga juga bisa menolak pengunjung resort jalan-jalan ke sini. Karena itu pemiliknya akhirnya melunak,” kata Papa Dede.

Sampan kayu telah disiapkan untuk kami bertiga menyeberang ke resort. Dan kami akan diseberangkan anak-anak yang rata-rata baru berusia 7-8 tahun.

Selama perjalanan yang singkat itu, sebab jarak dari Pulau Papan ke resort hanya sekitar 50an meter, saya merasa was-was. Berbanding terbalik dengan tiga anak perempuan dan dua anak laki-laki yang bertugas mengayuh sampan.

Anak-anak Pulau Papan – Foto: Sigidad

Mereka tertawa melihat tingkah kami yang ketakutan, dan sesekali menggoda dengan menggoyang-goyangkan sampan. Pepen terlihat santai, kendati ia pernah mengalami kejadian perahu terbalik sewaktu di Pulau Saronde, Gorontalo. Sementara saya dan Wawan, terus menegur tingkah bocah-bocah itu, tentunya dengan tawa yang tiada hentinya.

Akhirnya bibir pantai sudah di depan mata. Saya segera meloncat setelah mengira-ngira tinggi air, hanya seukuran lutut orang dewasa.

Anak-anak dari sampan lain juga telah bersandar. Ibu-ibu dan remaja yang juga telah sampai, segera mengatur tim untuk bermain bola voli dan sepak takraw. Remaja laki-laki lainnya memilih tenis meja. Sementara anak-anak memilih bermain pasir di pantai, ayunan, dan sepak bola plastik. Saya, memilih mengelilingi pantai dan lokasi resort.

Pantai di Resort Lestari – Foto: Sigidad

Di dermaga kecil tempat kapal atau perahu bersandar, ada pondok berayunan jaring. Di pesisir pantai, tepat di bawah pohon kelapa tak berbuah, ada beberapa meja dan kursi-kursi dari batang kelapa, yang tersebar sepanjang pantai berpasir putih. Panjang pantai kira-kira hanya seratus meter lebih.

Warga bermain voli di Pantai Lestari – Foto: Sigidad

Saya berjalan menyusuri sekitar tujuh sampai delapan cotage berbahan kayu, yang berjejer tepat di kaki bukit pulau, hingga tiba di bagian belakang resort. Ada bangunan serupa kafe dengan meja prasmanan membentang. Tepat di sampingnya, dua buah speedboat terparkir.

Ternyata di belakang resort, ada pemandangan indah lainnya. Ada sebuah teluk kecil, dengan air laut yang begitu bening. Saking beningnya; rerumputan, keong, dan bintang laut di dasar tampak jelas.

Di samping kiri resort, ada bukit kecil yang jika didaki, hanya butuh belasan langkah saja. Kami bertiga menaiki bukit tersebut. Di atas, pemandangan tak kalah menariknya. Beberapa pohon digantungi ayunan. Dari ayunan, mata kita dimanjakan hutan di seberang pulau, nyanyian burung, hembusan angin, dan beningnya air laut yang direnangi beberapa orang turis.

Bukit di belakang resort Lestari – Foto: Sigidad

Setelah puas, kami bertiga kembali turun dan bergabung dengan warga yang tengah asyik, dengan masing-masing olahraga pantai. Turis-turis asing tampak senang menonton permainan mereka. Saya lantas memilih mandi bersama belasan bocah.

Beberapa bocah saat saya tanyai, mengaku pernah mendapati perlakuan yang kurang baik dari turis-turis lokal. Saat mereka berada di jembatan panjang, yang tepiannya juga menjadi tempat snorkeling, ada sekelompok turis lokal yang melemparkan koin ke laut, lalu menyuruh anak-anak melompat dan berlomba-lomba memunguti koin.

Hal itu membahayakan, sebab air laut di tepian jembatan hanya berkisar setinggi satu meter, dengan dasar laut terdiri dari karang. Anak-anak yang mengaku diperlakukan seperti itu, kerap disusul oleh masing-masing orangtua mereka.

“Mama bilang ke mereka (turis lokal) kalau mau kasih uang, kasih langsung saja. Tidak usah dilempar-lempar ke laut,” cerita seorang bocah menirukan perkataan ibunya.

Anak-anak Pulau Papan bermain pasir di Pantai Lestari – Foto: Sigidad

Sore itu, dari pantai, Pulau Papan dan jembatan panjang terlihat indah. Sebelum langit gelap, kami memilih pulang. Saat perjalanan pulang, masih dengan bocah-bocah lucu nan iseng itu, kami mendapati satu sampan yang ditumpangi tujuh orang anak-anak terbalik. Kedalaman air laut di sekitar situ, hingga delapan meter. Dan bocah-bocah yang berserakan di tepian sampan terbalik itu, hanya menertawakan kejadian yang menimpa mereka, sembari sibuk membalikkan sampan, lalu menguras air.

“Awas! Ada buaya!” teriak seorang remaja dari sampan lain, yang melewati anak-anak itu.

Hingga kami sampai di rumah, anak-anak yang sampannya terbalik itu tinggal tersisa dua orang saja. Lainnya memilih berenang. Tak lama kemudian sampan telah siap dikayuh. Kedua bocah itu tertawa keras.

Saya, dari pondok, ikut tertawa melihat kejadian itu. Ah, betapa anak-anak itu begitu menikmati hidup.

 

Bersambung … Bertukar Kisah Dengan Orang Pesisir (Catatan Perjalanan 4)

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

two × one =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top