Ratusan Pohon di Kecamatan Dungingi Ditebang, Apa Alasannya?

Pepohonan yang ditebang di kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo. Foto: Jemi Monoarfa
Pepohonan yang ditebang di kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo. Foto: Jemi Monoarfa

DEGORONTALO – Hidup sejak bertahun-tahun lamanya, namun mati dalam sekejap. Itulah nasib yang dialami oleh pohon-pohon yang berada di jalan rambutan di Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo.

Hanya untuk alasan pelebaran jalan karena terminal baru di kecamatan Dungingi akan segera beroperasi, pohon-pohon yang selama ini menjadi perindang bagi pengguna jalan, terpaksa harus mengalah.

Penebangan pohon ini pun dipertanyakan oleh Forum Komunitas Hijau (FKH) Kota Gorontalo di laman facebook mereka.

Rahman Dako, koordinator FKH mengatakan, pemerintah dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum, perlu membuat penjelasan, apakah ada tanaman pengganti untuk ratusan pohon yang ditebang begitu saja.

“Juga yang penting adalah di tanam di mana dan bagaimana pemeliharaannya ke depan?”

“Kita yang menanam, tapi yang lain malah menebang,” katanya.

Pohon yang ditebang di jalan Rambutan Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo. Foto: Rahman Dako
Pohon yang ditebang di jalan Rambutan Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo. Foto: Rahman Dako

Jemi Monoarfa, aktivis di komunitas Gorontalo Berkebun menambahkan, sepanjang yang ia tahu, pohon yang ditebang itu tidak hanya sebagai pelindung, namun selama ini buah Mahoni telah menjadi sumber ekonomi warga sekitar yang setiap hari dipasok ke pengumpul dengan harga Rp 5.000/Kg.

“FKH harus lebih kritis lagi dalam menyikapi kebijakan Pemkot yang salah urus ini,” komentar Jemi di facebook.

Komentar senada juga disampaikan oleh Rosyid Azhar, fotografer di Gorontalo. Menurutnya kalau menebang menjadi syarat pembangunan jalan untuk mendukung aktifasi terminal Dungingi, mari berhitung ada berapa armada yang selama ini hilir mudik di terminal Andalas (terminal lama).

“Pemerintah saja tidak mampu mengatur bentor, menyediakan layanan angkutan massa yang baik, bahkan taksi gelap di depan mata tak terjangkau hukum untuk menyumbang PAD,” komentar Rosyid.

Sementara itu, Direktur Japesda, Sugeng Sutrisno menambahkan, kalau memang pohon itu mau ditebang setelah ia besar, kenapa harus ditanam. Ia mempertanyakan perencanaan lokas ini ke dinas tata kota.

“Pemerintah ini gagal paham dengan yang namanya pembangunan,” ungkap Sugeng dalam komentarnya di Facebook.

CHRISTOPEL PAINO

 

 

Leave a Reply

fifteen + 15 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top