Rayakan World Migratory Bird Day 2017 di Cagar Alam Panua

Kegiatan pengamatan burung – Foto: Panitia

DeGorontalo – Dalam rangka merayakan World Migratory Bird Day (WMBD) 2017, BKSDA bekerjasama dengan Burung Indonesia dan Biodiversitas Gorontalo menyelenggarakan kegiatan pengamatan burung dan awarness,  yang dilangsungkan di Cagar Alama (CA) Panua dan sekitarnya, di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, pada 11 Mei 2017. WMBD tahun ini mengusung tema “A Healthy Planet for Migratory Birds and People”.

BKSDA sebagai pengelola CA Panua melakukan pengelolaan keanekaragaman hayati (kehati) dengan perlindungan, pemantauan dan juga awareness mengenai kehati. Sebagai salah satu bentuk upaya konservasi kehati, pengamatan burung dipilih lokasi Peneluran Maleo dan Danau Bayalo-Watingo. Kedua lokasi ini mudah dijangkau dan mewakili habitat hutan mangrove dengan substrat berpasir.

“Selain itu pengamatan burung juga dilakukan di Paseda. Pengamatan burung diikuti oleh staff BKSDA, staff Burung Indonesia, anggota Biodiversitas Gorontalo dan Masyarakat Mitra Polhut,” kata Tatang Abdullah, Kepala Resort CA Panua.

Di sela-sela pengamatan dilakukan diskusi mengenai metode pengamatan dan identifikasi burung termasuk jenis-jenis burung migran.

Pantiaty (Biodiversity officer Burung Indonesia) menyampaikan, mengenai burung migran di Indonesia ada banyak fenomena. Di antaranya migrasi lintas benua seperti gajahan kecil (Numeniusminutus), trinil rawa (Tringastagnatilis), dan migrasi lokal seperti cekakak suci (Todiramphus sancta).

Gajahan kecil bermigrasi di sepanjang pantai Asia Timur sampai Australia pada pertengahan Agustus-Oktober, berbiak di Siberia; musim dingin bermigrasi ke Filipina, Indonesia dan Australia bagian utara.

“Trinil rawa tempat berbiak di Russia dan Siberia, bermigrasi pada musim dingin ke Afrika, Asia tenggara, Indonesia dan Australia. Melewati Asia pada awal April sampai awal Mei. Sementara itu Cekakak suci menetap di Australia, dan menjadi pengunjung tetap di pulau Irian dan Indonesia pada musim dingin di selatan,” masih kata Tatang.

Misi Utama CA Panua

Menurut Tatang Abdullah CA Panua sebagai salah satu kawasan konservasi memegang peran penting sebagai habitat beberapa satwa khususnya burung.

Misi utama CA Panua yaitu penyelamatan Maleo senkawor (Macrocephalonmaleo). Upaya konservasi yang dilakukan di antaranya kolaborasi bersama Burung Indonesia, Biodiversitas Gorontalo, dan pemerhati lingkungan lainnya.

“Salah satunya dengan perayaan WMBD 2017. Pengamatan burung dalam rangka merayakan WMBD ini, telah mencatat 19 jenis burung di kawasan CA Panua yang terdiri atas beberapa satwa dilindungi seperti Gosong Filipina (Megapodiuscumingii), Elang bondol (Haliasturindus), Cekakak sungai (Todiramphuschloris), dan lain-lain,” kata Tatang.

Lanjutnya, Maleo senkawor juga tercatatat dalam pengamatan ini. Tatang menemukan lubang yang baru saja digali oleh burung tersebut.

Sementara itu di Paseda tercatat ada 16 jenis burung. Lokasi ini merupakan hutan mangrove yang mulai dikonversi menjadi tambak.

Pengamatan dilakukan pada sore hari, sebab semakin sore burung yang teramati semakin melimpah: hal ini mengindikasikan bahwa Paseda dengan hutan mangrove yang tersisa masih menjadi tempat “pulang” bagi beberapa jenis burung.

“Pohuwato, dengan potensi hutan mangrove dan habitat air payau memiliki potensi menjadi tempat persinggahan burung migran. Hanya saja memerlukan pengamatan yang lebih intensif pada masa-masa migrasi untuk memetakan perseberan burung migran di KabupatenPohuwato,” katanya.

Kesadaran Masyarakat

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat, khususnya siswa sekolah telah dilaksanakan sosialisasi pelestarian keanekaragaman hayati Pohuwato (khususnya burung migran) pada 12 Mei 2017.

SDN 13 Paguat dipilih sebagai salah satu perwakilan sekolah yang berada di sekitar kawasan CA Panua. Peserta terdiri atas 90 siswa (kelas 4-6) d an 4 pengajar.

Sosialisasi keanekaragaman hayati kepada para siswa lewat permainan dan prakarya – Foto: Panitia

Fachriany Hasan, Penyuluh BKSDA, menperkenalkan burung migran kepada para siswa mulai dari alasan mengapa burung-burung melakukan migrasi serta jenis-jenis burung yang bermigrasi.

“Dengan menyelamatkan lingkungan sekitar, kita dapat menyelamatkan burung migran karena masa depan mereka adalah masa depan kita, ‘A Healthy Planet for Migratory Birds and People, Their Future is Our Future’ sesuai tema WMBD tahun ini,” sampainya.

Sementara itu Citra Ayu Mentari, Communication Assistant Burung Indonesia, memandu para siswa untuk membuat prakarya bertemakan burung. Prakarya berupa tirai dengan hiasan burung bertuliskan pesan mereka mengenai lingkungan dalam prakarya tersebut.

“Cara ini dilakukan untuk menggugah kesadaran para siswa dalam melestarikan burung dan habitatnya. Beberapa pesan yang dituliskan oleh siswa yaitu, ‘Jangan menembak burung, kita tidak boleh membunuh burung, burung bisa bermanfaat untuk lingkungan, dan manusia harus melindungi alam beserta isinya’,” terangnya.

Salah satu prakarya siswa berisi pesan pelestarian lingkungan – Foto: Panitia

Setelah acara sosialisasi, beberapa perwakilan siswa diajak untuk melepaskan anakan Maleo di CA Panua. Anak maleo yang di-release sejumlah 7 ekor dengan umur 3-30 hari. Anakan maleo ini semula dipersiapkan untuk berpartisipasi dalam rangkaian acara ulang tahun Pohuwato, namun tidak terakomodir dalam rangkaian acara tersebut.’

Menurut Tatang, acara ini dilakukan untuk memperkenalkan CA Panua sebagai salah satu pusat konservasi Maleo kepada siswa.

“Anak-anak masih rancu dengan sebutan “maleo” dan “panua”, mereka hanya mengenal maleo dari gambar dan buku saja tanpa pernah melihat langsung di alam liar. Mereka tidak tahu bahwa “maleo” dan “panua” adalah burung yang sama sehingga kurang memahami bahwa nama CA Panua diambil dari nama Maleo,” terangnya.

Dengan diadakannya acara release maleo ini, diharapkan generasi muda lebih mengenal CA Panua sebagai pusat konservasi Maleo dan ikut berpartisipasi melestarikannya. (*)

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

two × five =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top