You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Refleksi Diskusi Pada Suatu Malam

Refleksi Diskusi Pada Suatu Malam

Ilustrasi dari pastipanji.wordpress.com

Oleh Irwansyah Dondo (Mahasiswa asal Kotamobagu yang sedang menyelesaikan studi di Universitas Alma Ata Yogyakarta)

Di kafe, pada suatu malam, saya bersua dengan seorang teman. Kami diskusi ditemani secangkir kopi sebagai satu-satunya minuman pilihan untuk merelaksasi saraf.

Teman saya ini tak banyak basa-basi, ia segera membuka percakapan tentang beberapa gurunya yang telah mengupas dimensi-dimensi sosial. Realitas sosial dikuliti dan disusun sedemikian rupa, hingga sesuatu tidak lagi menjadi relevan atau bahkan tak lagi dipahami, sampai tergantikan pahaman baru.

Salah satu gurunya, berada di alam dimensi yang berbeda dengan dia, dan lewat buku yang merupakan magnum opus dari gurunya tersebut, dia bisa berkenalan dengan pembuat teori-teori sosial kritis. Katakanlah Max Horkheimer yang merupakan sosiolog dari Frankfurt School yang ingin membedakan teori kritis, sebagai bentuk pembebasan (emansipatoris) dari teori Marxis. Walaupun gurunya berada di alam dimensi yang berbeda, namun malam itu seperti ia sedang berada di antara kami malam itu, sembari menyesap kopi.

Saya akan sedikit menceritakan poin-poin yang kami bahas malam itu.

Adalah Michel Foucault yang dengan teori kekuasaannya, dia menolak konsep-konsep kekuasaan sebagaimana teori Hobbes “untuk menjadi serigala bagi yang lain”, Machiavelli tentang “kekerasan sebagai jalur kekuasaan untuk menaklukkan”, serta Marx yang menjelaskan “kelas borjuis mendominasi kekuasaan terhadap proletarian”.

Foucoult berasumsi bahwa kekuasaan bukanlah milik subjek tertentu, melainkan ada dalam diri setiap orang, sehingga kekuasaan itu ada di mana-mana. Tepatnya kuasa bukanlah milik, melainkan strategi.

Di mana ada relasi, maka di situ ada kekuasaan. Relasi-relasi antara berbagai kekuatan sosial akan membentuk kekuasaan dan kekuasaan adalah sebuah strategi, serta di sana terdapat sistem, aturan, susunan dan regulasi. Karena kekuasaan di mana-mana, maka dia bukan hanya menyentuh makro politik tetapi juga mikro politik, yang memang adalah satu kesatuan atau batang tubuh dari politik itu sendiri.

Setelah dengan sedikit teori di atas yang sependek pengetahuan saya ini, saya teringat akan jargon politik dalam sistem demokrasi di Indonesia. Kurang lebih bunyinya: dari rakyat untuk rakyat. Kalimat tersebut membuat sebagian masyarakat lebih bergairah untuk berpatisipasi dalam politik. Karena, masyarakat adalah sel-sel pembentuk jaringan kekuasaan. Namun, dalam prakteknya serta kurangnya pengetahuan dalam masyarakat itu sendiri, tanpa masyarakat sadari sikap mereka tersebut telah menggeser subtansi dari kekuasaan mereka sendiri dan menjelma menjadi otoritarianisme.

Saya pribadi, mulai sadar akan realitas politik setelah saya mempelajari dan menyadari akan efek politik terhadap setiap sendi kehidupan. Salah satu contoh, coba bayangkan jika dalam sistem lalu lintas tidak ada yang namanya lampu lalu lintas? Pasti jalanan macet dan tidak teratur. Lampu lalu lintas merupakan bagian kecil dari produk politik.

Berdasarkan kesadaran akan realitas tersebut, maka saya memilih untuk ikut berpatisipasi dalam perpolitikan.

Ada sebuah kutipan yang menyorot tajam terhadap individu-individu yang apatis terhadap peristiwa politik. Yaitu: buta politik.

Sedikit tentang buta politik

Buta terburuk adalah buta politik, mereka tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpatisipasi dalam peristiwa politik. Mereka tidak tahu biaya hidup, harga kacang, harga daging, harga tepung, biaya sewa, harga pakaian dan obat, semua tergantung keputusan politik.

Orang buta politik akan terlihat bodoh ketika ia bangga sembari membusungkan dadanya dan berkata: aku membenci politik. Mereka tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya itu lahirlah pelacuran, anak-anak terlantar, pencuri terburuk dari seluruh pencuri (koruptor), dan politisi busuk.

Adalah Bertolt Brecht (penyair jerman) yang mengatakan hal di atas. Ia juga menggambarkan bahwa mengambil sikap netral secara keseluruhan, sama saja dengan ikut melanggengkan roda kekuasaan yang menindas. Kita harus mengaktifkan dan menggunakan kekuasaan yang ada pada diri kita, untuk mengubah realitas sosial ke arah yang lebih baik.

Sedangkan menurut Foucoult: kehendak untuk kebenaran sama dengan kehendak untuk berkuasa. Dan sistem demokrasi menjanjikan itu, sebab rakyat yang berkuasa. Maka mari kembalikan demokrasi pada fitrahnya.

Diskusi pada malam itu mengingatkan saya pada daerah tempat saya berasal. Sebuah kota yang memiliki kondisi sosial yang unik. Kotamobagu. Kota tersebut sekarang dipimpin oleh seorang perempuan yang sebelum menjadi wali kota, dia pernah menjabat sebagai wakil wali kota.

Menurut hemat saya, selama periode awal dia menjabat sebagai wakil dan periode kedua dia menjabat sebagai wali kota, belum ada perubahan yang begitu signifikan. Nepotisme masih merajalela dan pemberantasan struktur birokrasi yang notabene merupakan lawan politik masa pemilihan, masih terus terjadi dan mungkin masih banyak lagi kejadian yang sebagian masyarakat menyadari itu.

Kapan semua sikap yang mencederai demokrasi ini terputus?

Ada ungkapan yang anehnya membentuk euforia pada masyarakat sehingga seakan-akan itu sebuah keharusan. Ungkapan tersebut berbunyi: siapa yang dekat dengan api maka dia yang terbakar. Dan ungkapan satunya lagi: yang menang berkuasa dan yang kalah berpuasa.

Menurut saya itu sebuah tragedi yang harus dimusnahkan di muka bumi. Ini adalah pendapat pribadi saya untuk memengaruhi diri saya sendiri, tanpa harus mengintervensi hak orang lain. Pendapat yang bersumber dari realitas-realitas di sekeliling saya.

Berkata “iya” dan berkata “tidak” adalah hak personal, tentunya bersumber dari pergulatan pikiran akan realitas, bukan bersumber dari hati yang kemungkinan iri dan dengki adalah awalnya.

Untuk pemilihan yang akan datang, saya pribadi belum melihat sosok yang mampu mengubah kondisi yang tersembunyi dari mata masyarakat itu.

Saya meyakini jika kesadaran akan kekuasaan yang dimiliki oleh setiap masyarakat terbentuk, maka tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa demokrasi akan kembali pada fitrahnya. Dari rakyat, untuk rakyat. Bukan dari rakyat untuk sebagian rakyat.

(Visited 127 times, 1 visits today)
Kristianto Galuwo

Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.

http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

19 + eleven =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top