Risno Ahaya, Perawat Syair Gorontalo Di Tepi Zaman

 

Risno Ahaya (tengah) dalam sebuah acara instansi pemerintah di Gorontalo (DeGorontalo/Syam Terrajana)
Risno Ahaya (tengah) dalam sebuah acara instansi pemerintah di Gorontalo (DeGorontalo/Syam Terrajana)

DEGORONTALO – Dawai gambus yang dipetiknya bertambah cepat lagi melengking. Tak lama kemudian bergemalah suara khasnya yang merdu. senandungkan syair berima dalam Melayu dan bahasa Gorontalo.

Risno Ahaya, 57. Begitu nama pegambus kebanggaan masyarakat Gorontalo itu. Dia masih kerap diundang menghibur, mengisi jeda pada acara-acara pemerintahan atau seminar. Terlebih jika ada tamu pejabat dari luar daerah.

Sebelum naik ke atas panggung, pria tuna netra dengan rambut sebahu itu biasanya terlebih dahulu apa menanyakan tema yang sedang dibawakan, berikut siapa saja pesertanya. Maka syair mirip pantun yang akan tercipta spontan saat dia naik panggung, isinya berisi nasehat moral, cinta hingga satire.(Baca Juga:Penyair Tradisi Gorontalo, Risno Ahaya Dapat Gambusi Baru dari Kantor Bahasa)

Sebagai seniman tradisi sastra lisan Gorontalo, namanya telah jadi legenda. Berturut-turut sejak tahun 1982 hingga 1984, dia menyabet juara pada lomba gambus yang diselenggarakan Radio Republik Indonesia (RRI) Gorontalo.

Risno mengaku belajar otodidak bersyair sambil memetik gambus. Dia telah melakoninya sejak masih kanak-kanak. Untuk dia dia merasa bersyukur, sebab namanya jadi dikenal lebih luas.

Berbekal gambus tua milik satu-satunya itu, dia juga sempat diajak pihak pemerintah atau penyelenggara kegiatan untuk melanglang buana ke sejumlah daerah, Jakarta, Ambon, Sulawesi Tengah, dan Pulau Sumatera untuk memamerkan kepiawaiannya.

Selain bersyair, Risno juga dikenal piawai membawakan Tanggomo, yang berarti “menampung” ,sejenis sastra lisan Gorontalo yang cukup panjang, disampaikan berima dan memikat dan berisikan pelajaran moral, hikayat atau sejarah daerah.

Salah satu cerita Tanggomo yang kerap dibawakan Risno ketika itu berjudul “Kasimu Motoro”, ini adalah cerita menyeramkan tentang seorang lelaki yang menelantarkan keluarganya karena keranjingan judi.

Alkisah, Kasimu Motoro, nama lelaki tak bertanggung jawab itu tak pernah menafkahi keluarganya, setiap pulang rumah usah berjudi, dia selalu menuntut makanan enak selalu tersedia, bagaimanapun caranya. Jika tidak maka dia akan memukuli istrinya .

Hingga suatu saat, sang istri yang putus asa akhirnya membunuh anaknya dengan cara yang sadis. Banyak masyarakat Gorontalo percaya, bahwa kisah mengerikan itu pernah benar-benar terjadi di masa lalu..(Baca kisah Kasimu Motoro disini)

Itulah hebatnya pencerita Tanggomo seperti Risno Ahaya, kisah yang mereka sampaikan begitu memikat dan dramatis, bahkan dipercaya sebagai kejadian nyata,” ujar Nani Tuloli, Guru besar sastra daerah Universitas Negeri Gorontalo yang menjadikan Tanggomo sebagai bahan penelitian disertasinya di Universitas Indonesia pada 1990 silam.

Uniknya lagi, lanjut Tuloli, kisah seperti “Kasimu Motoro” yang panjangnya lebih dari 400 baris itu disampaikan di luar kepala dengan bait yang variatif namun tetap mempertahankan rima atau bunyi.

Dia juga menyebut Tanggomo sebagai sastra lisan yang berfungsi sebagai jurnalisme tradisional masyarakat Gorontalo, karena sifatnya yang tak jarang mengandung fakta dan informasi. Risno dan apa yang dimilikinya itu, juga telah menjadi bahan penelitian sejumlah kalangan sarjana di Gorontalo.

Sayang, seiring berjalannya waktu, Risno mengaku lupa dengan bait-bait kisah yang membuatnya dikenal banyak orang itu.

Saya sudah lupa baitnya, sudah lama tak membawakan cerita itu, ” kata dia.

Sepanjang hidupnya, Risno benar-benar mengandalkan gambus dan suara merdunya untuk menyambung hidup. Setiap hari dia berkeliling, dituntun oleh siapapun yang mau membantunya, mengetuk pintu-pintu kantor atau instansi pemerintahan. Dia menjadi pengamen keliling.

Pria empat anak ini mengaku lebih baik begitu daripada harus menadahkan tangan meminta-minta. Tapi tak jarang dia harus pulang dengan tangan kosong.

Baru melihat saya di depan pintu, orang-orang bilang mereka tidak butuh syair,” ujarnya lirih.

Dulu, dia rutin mengamen di pasar-pasar tradisional. Paling sering di pasar Telaga, sebuah pasar tradisional yang terletak antara perbatasan Kota dan Kabupaten Gorontalo, tak jauh dari rumahnya.

Di sana, dia kerap “menumpang” pengeras suara milik para penjual obat. Namun tiga tahun belakangan, aktivitas itu terpaksa dia hentikan setelah para penjaja obat keliling enggan berbagi pengeras suara dengannya.

Pedagang obat merasa rugi, mereka jengkel, karena penonton lebih tertarik menonton saya menyanyi ketimbang membeli obat yang mereka jajakan,” tuturnya.

Kini dia tak pernah lagi mengamen di pasar. Tanpa perangkat pengeras suara, jelas lengking suaranya yang mulai digerogoti usia, akan kalah lantang dengan riuh orang-orang di pasar.

Sedang mengharapkan undangan tampil dari para pejabat atau penyelenggara kegiatan saja, menurutnya tidak bisa diandalkan untuk menopang hidup.

Tak jarang juga dia mengeluh. Menurutnya, cukup banyak pihak yang mengundangnya mengisi acara-acara yang menurutnya lumayan besar. Namun, mereka sama sekali tidak memberikan apapun padanya kecuali gemuruh tepuk tangan. Jika sudah begitu, Risno hanya bisa terdiam , pulang dan menggumam sendiri.

Hanya ini keahlian saya, dengan gambus ini saya akan terus bernyanyi sekuat tenaga, bagaimanapun anak dan istri saya harus makan,” ujar Risno. suaranya parau.

 

SYAM TERRAJANA

Jelajahi  juga artikel khas Gorontalo  berikut ini:

Olele, Sepotong Surga di Kandung Gorontalo

Opa Gani, Tentara Permesta dan Benteng Orange

Budi Akantu, Si Pendiam Pengawal “Kabar dari Alam” Gorontalo

Melihat Indonesia, Mengingat Pancasila di Tepi Danau Limboto

Lebaran Katupat “Kampung Jawa” Tradisi Panjang Tawanan Kapal Pollux

 

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

One thought on “Risno Ahaya, Perawat Syair Gorontalo Di Tepi Zaman

Leave a Reply

4 × four =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top