You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Safety Journalist: Tak Ada Berita Seharga Nyawa

Safety Journalist: Tak Ada Berita Seharga Nyawa

Peserta dan pemateri workshop Safety Journalist di Manado foto bersama – DG/Sigidad

DeGorontalo – Keamanan bagi jurnalis ketika bertugas di lapangan cukup penting. Untuk itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bekerjasama dengan IMS dan IFJ (The International Federation of Journalists), menyelenggarakan workshop Safety of Journalist, di Manado, Sulawesi Utara, Sabtu 28 sampai Minggu 29 Oktober 2017.

Ketua AJI Manado Yoseph Ikanubun mengatakan, peserta yang ditunjuk menghadiri workshop wilayah sekitar Manado atau bagian timur, di antaranya Gorontalo, Makassar, Mandar, Ternate, dan Denpasar.

Workshop ini penting, sebab mengulas terkait pratik jurnalistik dan keselamatan wartawan,” sampainya, saat pembukaan workshop, Sabtu (28/10/2017).

Empat pemateri didatangkan dalam kegiatan tersebut, di antaranya anggota Bidang Advokasi AJI Indonesia, Aryo Wisanggeni, Koordinator Komite Perlindungan Jurnalis dan Kebebasan Berekspresi (KPJKB), Upi Asmaradhana, Victor Mambor dari AJI Jayapura dan Tabloid Jubi Papua, dan Ninin Damayanti dari Opini.id.

Aryo ketika materi pertama, Pengenalan Karakteristik Kekerasan pada Jurnalis, menyampaikan jurnalis rentan terhadap kekerasan dikarenakan profesi ini menuntut untuk mengawal dan menyuarakan hak-hak publik.

“Setiap jurnalis memiliki risiko. Untuk itu, penting mengenali apa saja pemicu dan cara mengatasinya, dan bagaimana langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan advokasi.”

Sementara itu, Upi dalam materi lanjutan, Perumusan Strategi Advokasi, mengatakan setiap kasus kekerasan yang menimpa jurnalis, berbeda cara penanganannya.

“Masing-masing memiliki tingkat kerumitan. Advokasi ini adalah perpaduan mengelola konflik dan memperjuangkan nilai-nilai humanisme.”

Victor Mambor, pada materi berikutnya, Membangun Kapasitas Advokasi AJI Kota/Nonlitigasi, mengatakan hak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi diabadikan dalam Pasal 19, dari Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia.

“Hak diabadikan dalam Pasal 19 dan 20 dari Kovenan Internasional, tentang Hak Sipil dan Politik.”

Ia menegaskan pula, dalam giat jurnalistik perlu disadari pentingnya menjaga keselamatan baik fisik dan nonfisik.

“Ingat, tak ada berita seharga nyawa,” kata Victor yang diketahui memiliki banyak pengalaman, terkait tindak kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis di Papua.

Selain ketiga pemateri tersebut, pemateri terakhir yang mengulas Digital Security, Ninin Damayanti, menyampaikan kerja jurnalistik kerap bersentuhan dengan data. Untuk itu, setiap jurnalis penting mengetahui cara mengamankan data.

“Tentu kita tidak mau, ketika semua data liputan tiba-tiba dibobol. Apalagi terkait liputan investigasi. Nah, ada trik-trik untuk mengamankan data, juga bagaimana cara kita mengamankan diri di internet,” sampainya.

Salah satu peserta dari AJI Kota Mandar, Sulawesi Barat, Irwan F, mengatakan sejak mengikuti workshop, ia mendapat pengetahuan bagaimana mekanisme yang bisa menjamin keselamatan jurnalis ketika di lapangan.

“Tindak kekerasan terhadap jurnalis sering terjadi akhir-akhir ini. Maka penting mengetahui bagaimana cara penanganannya. Advokasi harus dilakukan, sebab kerja wartawan diatur dalam UU Pers Nomor 40 Tahun 1999. Kita ini mengabdi juga untuk negara, dan pekerjaan kita dilindungi undang-undang. Pengabdi warga ya, bukan pengabdi setan,” kata Irwan, salah satu peserta yang harus menempuh perjalanan darat dari Mandar ke Makassar berjam-jam, dan melanjutkan kembali perjalanan udara ke Manado. (*)

 

Kristianto Galuwo

(Visited 77 times, 1 visits today)
Kristianto Galuwo

Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.

http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

thirteen + 7 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top