You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Sajak-sajak Kemerdekaan – Adriansyah Katili

Sajak-sajak Kemerdekaan – Adriansyah Katili

Ilustrasi. Pixabay.com (Creative Commons)

KITA

Kita sudah merasa merdeka dengan hebat
Ketika kita berdiri tegak di depan bendera
Sambil mengangkat tangan menghormat

Kita merasa sudah merdeka
Ketika dengan sukses berhening cipta
Yang kata kita mengenang mereka
yang kini tinggal tulang-tulang diliputi debu

Kita sudah merasa merdeka
Ketika kita berjalan kaki menelusuri pesawahan
Memasuki lorong demi lorong pasar
Ataupun gorong demi gorong
Bercengkrama dengan masyarakat sederhana
Sambil memperbaiki acting lalu diunggah di media sosial
Dan kita sudah merasa merdeka terhebat
Ketika mereka berkata, “Inilah yang kita cari”

Kitapun merasa tetap merdeka
Ketika pada akhirnya mereka menyadari
Bahwa semua itu ternyata hanya ilusi
Ketika mereka menyadari
Bahwa kita lalai di garis batas pernyataan dan impian

Gorontalo Agustus 2018

 

MAAFKAN KAMI
(Kepada Chairil Anwar)

Maafkan kami,
Kami lalai menjaga Bung Karno
Kami lalai menjaga Bung Hatta
Kami lalai menjaga Bung Syahrir
Bahkan kami lalai menjaga Haji Agus Salim

Maafkan kami yang tidak peka
Sehingga tak mendengar suaramu
Yang bicara pada kami melalui detak jam
Di hening malam sepi,dada kami hampa dari rasa merdeka

Maafkan kami
Yang lalai dan tidak berjaga
Antara batas pernyataan dan impian

Maafkan kami,
Merdeka kami hanya sebatas mengenang
Kalian yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Gorontalo, Agustus 2018

 

PAKUNI ARI

Pakuni Ari meraba kantongnya
Sisa uang tadi yang lima puluh ribu
Sudah dibelikan makanan hari ini
Dan obat flu untuk anak semata wayangnya
Tak ada lagi pembeli kain buat bendera

Di lemari bututnya
Di gubuk reotnya
Dia hanya menemukan dua baju tua
Warna merah dan putih
Miliknya dan istrinya
Segera diguntingnya
Lalu ditautkannya
Menjadi bendera merah putih

Lalu ditancapkannya
Dengan sebatang bambu runcing
Di atas bumi bangsa kaya raya

Di hatinya ada rasa sepi
Ketika sebuah mobil lewat
Dengan kecepatan tinggi
Dikawal sirene meraung-raung
Meninjau perusahaan tambang asing

Gorontalo, Agustus 2018

PUISIKU

Puisiku tak selantang puisi Rendra
Tak segarang puisi Wiji Tukul
Tapi puisiku adalah suara harapan
Harapan merdeka guru-guru sederhana
Harapan merdeka petani-petani kecil
Harapan merdeka buruh-buruh kecil,
abang-abang bentor, sopir-sopir angkot,
Harapan merdeka emak-emak di dapur tanpa asap

Puisiku tak lantang, tak garang
Tapi puisiku adalah suara merdeka
Dari hati yang merdeka

Gorontalo, Agustus 2018

 

Adriansyah Katili adalah dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo. Tinggal di Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Dia senang menulis puisi, cerpen, dan essay. Dihubungi di adriansyahkatili@ung.ac.id. dan katiliadriansyah@gmail.com.

 

(Visited 127 times, 11 visits today)
Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

eleven − 10 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top