You are here
Home > Mantra > Sang Guru

Sang Guru

Darvish Sufi, menari melebur kepada pencipta. Oleh, imal.
Iustrasi Darvish Sufi, menari melebur kepada pencipta. Oleh, imal.

 

Aku sedang mengenang dua orang mantan guru agamaku di SMA dua puluh tahun yang lalu. Yang pertama adalah seorang pria yang selalu mengenakan jubah, bersurban dan berjanggut tebal. Namanya Syafii. Seorang yang boleh dikatakan sangat puritan dalam beragama, mendekati kolot dalam menyikapi situasi sosial dan sangat anti pada kebebasan berpikir.

Aku teringat pertama kali dia masuk. Mulai dengan pelajaran tentang sholat. Aku ingat dialog antara kami dalam kelas.

“Apakah arti sholat? Siapa yang bisa menjawab?”

Aku yang mengangkat tanganku menjawab dengan penuh percaya diri, “Sholat adalah pertemuan puitis antara dua maha, maha pendamba dan Maha Pencinta.”

“Jawaban apa itu?” Katanya dengan marah.” Ini pelajaran agama, jangan ngawur. Sholat adalah ibadah wajib yang kalau kalian tidak laksanakan akan menyebabkan kalian berdosa dan akan dibakar di neraka.”

Itulah kali pertama aku mendapat semprotan dari guru. Sebelumnya tidak ada guru yang menyemprot aku sedemikian.

Minggu berikutnya dia bertanya, “Apakah Alquran itu?”

Setelah tidak ada teman-temanku yang mengangkat tangannya, aku angkat tanganku dan aku menjawab, “Alquran adalah surat cinta Tuhan kepada hambaNya.”

“Apa? Kau kira Tuhan itu anak muda dan selalu kasmaran?” Reaksinya sangat marah. “Alquran adalah kitab suci, firman Tuhan yang wajib dibaca. Camkan itu. Jangan coba-coba melecehkan Alquran dengan jawaban ngawur seperti itu. Kalian akan dibakar di neraka.”

Sejak itu aku selalu mendengarkan dokrin-dokrin yang sangat menakutkan, Tentang Tuhan yang akan membakar setiap hambanya setiap ada kesalahan sedikit saja. Dalam kata-kata pak guru itu, Tuhan menjelma menjadi monster yang sangat menakutkan. Penguasa yang tidak ramah, tidak penyayang, yang selalu siap dengan api yang membakar.

Lama kelaman aku merasa bahwa sang guru inilah neraka yang sebenarnya. Dia membawa suasana kelas yang penuh indokrinasi, neraka, penjaga neraka yang kejam. Aku merasa bahwa dia telah mengambil alih posisi Tuhan. Sementara Tuhan yang aku tahu sebagaimana kata Bismillahirrahmanirrahim, adalah Tuhan yang maha pengasih dan penyayang.

Suatu ketika aku mengatakan kepadanya bahwa zikir itu laksana lantunan musik yang sangat menyejukkan jiwa. Murkanya bangkit laksana harimau marah. “Siapa yang mengajarimu kata-kata yang durjana itu? Apa ada ajaran yang mengatakan zikir itu musik? Kau tahu, ha? Bahwa musik itu haram, sekali lagi haram. Jangan coba-coba samakan zikir yang suci dengan benda haram najis itu.”

Aku shok berat. Aku adalah penggemar musik, aku suka memainkam musik. Kini aku dikatakan suka barang najis. Aku suka memperhatikan jubah putihnya. Katanya meniru Nabi. Aku yang suka berpikir bebas kadang-kadang berpikir bahwa seandainya Nabi itu orang Gorontalo, pasti Pak Guru ini akan mengenakan baju karawo. Dan kalau Nabi itu orang Jawa, pasti Pak Guru ini akan mengenakan blankon dalam kesehariannya. Karena Nabi orang Arab pasti beliau yang mulia mengenakan baju Arab, jubah dan sorban. Tidak mungkin beliau yang mulia mengenakan karawo atau blankon. Pak Guru ini ingin meneladani Nabi. Sayang hanya pakaiannya. Bukan sifat arifnya.

Sekolah kami berada dekat jalan. Sekali-kali lewat kenderaan dengan bunyi musik yang agak keras. Aku memperhatikan bahwa jari-jari Pak Guru ini dam-diam bergerak-gerak mengikuti irama musik itu. Aku tersenyum dalam hati. Pak Guru ini tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa dalam alam bawah sadarnya dia sebenarnya suka musik juga. Namun karena dokrin yang dia ikuti mengatakan bahwa musik haram. Aku menilai bahwa dia tidak bisa menyatukan hati, kata, dan perbuatan.

Waktu berlalu, suatu saat Pak Guru ini meninggal dalam suatu kecelakaan lalulintas. Jangan berpikir bahwa aku pernah menyumpahinya agar cepat masuk tahap game over. Bagi aku menyumpahi seseorang agar celaka itu adalah perbuatan yang tidak berseni. Sama dengan tidak berseninya orang yang mengubah citra Tuhan menjadi monster yang menakutkan, yang menganggap musik najis tapi diam-diam menikmati ketika mendengarnya tanpa sengaja.
Penggantinya adalah seorang bapak yang berpakaian necis. Pakaiannya sama dengan orang Indonesia pada umumnya. Sebagai orang Gorontalo, pak guru agama yang ini sering berbaju karawo, baju sulaman khas Gorontalo. Kadang-kadang dia berbaju batik. Yang sangat berkesan bagiku dia kadang-kadang berbaju kaus oblong dan bercelana jeans ketika aku ketemu dia di acara weekend di suatu tempat rekreasi. Dia memperkenalkan namanya.

“Nama saya Ahmad.”

Pelajaran agama berlangsung dengan cara yang sangat berbeda. Sikapnya santai.

“Apakah kalian sholat?” Tanyanya

“Iya, Pak.” Jawab kami

“Apa yang kalian rasakan selama sholat?”

Kami tak ada yang menjawab. Kami bingung. Ada yang menjawab, “Ketakutan kalau-kalau sholat kami salah sehingga kami dibakar di api neraka.”

Pak guru ini tersenyum. “Anak-anakku, Tuhan itu maha cinta dan maha mengerti. Dia cinta kepada hambanya yang mendambakan cintanya.

Dia mengerti bahwa hambanya tidak sempurna dan tidak mungkin menggapai kesempurnaan. Jadi jangan takut bahwa Dia yang maha cinta akan menyiksamu karena sholat yang tidak sempurna”

Aku terharu. Untuk pertama kalinya selama bersekolah, aku merasakana kesejukan. Aku merasakan cinta Tuhan. Untuk pertama kalinya aku merasa bahwa Tuhan memang maha sayang, seperti dalam ungkapan yang selalu diucapkan setiap memulai Alfatihah dan pekerjaan lainnya.

Di hari lain Pak Guru itu berkata lagi. “Tuhan itu maha indah dan menyukai keindahan. Dia ingin kita bisa merasakan keidahanNya. Maka dia menurunkan agama agar kita bisa larut dalam keindahanNya. Maka dia menurunkan kitab suci agar kita bisa merasakan cintaNya yang agung. Alquran adalah surat cintanya.”

Aku ingat, kata-kata ini adalah ungkapanku yang menyebabkan guru yang dulu marah. Aku merasa beryukur bahwa ada guru agama yang seidea dengan aku.

Senyap sesaat. Seakan dia memberikan kami waktu untuk mencernakan kata-katanya. Bebersapa saat kemdian dia berkata, “Pernahkah kalian membaca puisi?”

Aku yang memang suka membaca puisi menjawab, “Pernah, Pak.”

“Apa yang anakku rasakan ketika membaca puisi?”

“Kenikmatan, Pak. Puisi itu indah, setiap kata mengandung keindahan dan makna yang dalam.”

“Demikian juga sholat. Sholat bila dipahami dan dihayati maka akan terasa keindahannya. Setiap ayat yang dibaca mengandung keindahannya sendiri. Setiap gerakan mengandung makna dan keindahannya. Makna dan keindahan tentang hamba yang mendamba dan Dia yang Maha Cinta, memberikan cintanya kepada Hambanya yang mendamba cintaNya.”

“Zikir juga bila dihayati akan terasa keindahannya. Seperti alunan musik yang menenangkan. Maka bila berzikir, berzikirlah dengan penghayatan yang bagus.

Aku teringat jawaban-jawaban yang aku berikan atas pertanyaan guru yang lalu, yang dilecehkan sebagai jawaban tak bermutu. Kali ini aku mendapatkan kenyataan esensi jawabanku dulu sama dengan kata-kata pak guru yang ini, meskipun dengan formulasi kata yang berbeda.

Pernah juga dia berkata, “Anak-anak, agama bagaikan matahari. Dia bersinar memberikan cahaya kepada bumi. Sinar itu menjadi energi. Dan dengan energi itu tumbuhlah beraneka makhluk di muka bumi ini. Makhluk itu tumbuh sesuai dengan jati dirinya. Tumbuhan dengan jati dirinya. Hewan dengan jati dirinya. Kita manusia dengan jati diri kita. Maka pertahankanlah jati dirmu sebagai manusia. Jadi dirmu sendiri, yang menghayati keberadaan dirimu dan Tuhan.”

“Pak Guru, saya mau bertanya.” Kataku pada suatu hari.

“Silakan.” Katanya

“Mengapa Pak Guru, sebagai guru agama tidak mengenakan jubah sebagaimana ustaz lain? Bahkan pernah saya lihat Pak Guru mengenakan jeans dan topi pet di suatu tempat rekreasi.”

Pak Guru tersenyum. ” Anakku. Model apapun pakaian yang kita kenakan tidak menjadi masalah, sepanjang menutupi aurat. Menjadi Islam tidak harus mengenakan jubah, meskipun Nabi mengenakan jubah. Nabi mengenakan jubah karena Beliau yang mulia hidup di daerah yang budayanya meminta mengenakan pakaian itu. Kita tidak harus menjadi seperti orang Arab untuk menjadi Muslim yang sholeh.”

Di hari lain, dia memberikan pertanyaan yang merupakan kejutan bagiku. “Anak-anak, apa cita-cita kalian?”
Ramai seisi kelas menjawab. Ada yang bercita-cita menjadi dokter. Ada yang mau menjadi pilot. Ada yang jadi pengusaha. Ada yang mau menjadi presiden. Hanya aku yang menjawab, “Mau jadi penulis.”

Jawabanku yang lain dari yang lain membuat guruku itu bertanya, “Apa yang menyebabkan anakku mau jadi penulis?”

“Itu perintah pertama Alquran,” Jawabku.

“Perintah pertama Alquran adalah membaca. Bukan menulis. Coba anakku jelaskan jawaban itu.”

“Bapak. Untuk bisa membaca, harus ada yang dibaca terlebih dahulu. Itu berarti secara tidak langsung perintah untuk menulis supaya ada yang akan dibaca.”

Pak guruku ini tersenyum dengan jawabanku. “Benar anakku. Namun jangan lupa ada juga pihak lain yang menunjang perintah itu. Sebelum bisa menulis kita harus mengenal huruf. Jadi ayat itu juga berarti perintah untuk mengajarkan dan belajar huruf, itu, berarti harus ada guru. Juga harus ada yang memfasilitasi penerbitan buku. Hanya pesan saya, kalau menjadi penulis, jadilah penulis yang jujur. Yang menyatakan kebenaran, yang jujur dengan hati nurani. Yang menulis dengan keindahan.”

Siang itu, seusai sekolah, aku pulang dengan suasana hati yang baru. Tak kurasakan ancaman-ancaman neraka. Malah sebaliknya aku termotivasi untuk mencari keindahan dalam ibadah. Agama itu mengajak kita menikmati keindahan, keindahan bertemu dengan Tuhan.

Oleh: Adriansyah A. Katili
Gorontalo, 29 Agustus 2016.

Catatan: Cerpen ini sepenuhnya imajinatif, bersifat fiksi. Kesamaan nama adalah kebetulan.

(Visited 96 times, 1 visits today)

Leave a Reply

12 − five =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top