Santri Gorontalo Teliti Eceng Gondok Danau Limboto, Ini Hasilnya!

DEGORONTALO – Eceng gondok kini banyak menutupi permukaan air di danau Limboto dan terlihat seperti membentuk pulau-pulau. Eceng gondok ini pula dianggap menjadi pemicu salah satu pendangkalan danau di Gorontalo itu.

Karena banyak yang resah dengan tumbuhan dengan nama ilmiah Eichhornia crassipes, itu membuat para santri di pesantren alam Bubohu Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo tertarik untuk melakukan penelitian kecil-kecilan.

Tak tanggung-tanggung, penelitian terhadap eceng gondok yang sering dianggap gulma yang dapat merusak lingkungan perairan ini dilakukan sejak tahun 2007.  

“Kegelisahan atas eceng gondok di danau Limboto membuat kami melakukan penelitian kecil-kecilan,” kata Yosep Tahir Ma’aruf, pendiri pesantren alam Bubohu Bongo.

Yotama, panggilan akrab Yosep Tahir Ma’aruf mengatakan, cara yang mereka lakukan adalah dengan menampung limbah air rumah tangga dan air hujan secara berbeda. Keduanya ditampung di kolam yang pinggirannya dipasangi pondasi batu kali, dan dasar kolam tetap menggunakan tanah. Lalu kedua kolam itu diisi dengan eceng gondok dari danau Limboto.

“Dari hasil pengamatan bertahun-tahun, ternyata kolam yang paling kotor dengan limbah rumah tangga itu justru yang paling subur eceng gondoknya dibandingkan dengan kolam yang airnya agak bersih,” ungkapnya, Sabtu (25/10/2014).

Untuk selanjutnya, eceng gondok yang semakin banyak tersebut dipanen dan dijadikan sebagai pupuk organik. Menurut Yotama, penelitian serupa juga dilakukan di kebun Serambi Petani Indonesia yang ia dirikan di Bandung, Jawa Barat. Air hujan yang penuh lumpur mereka tampung di kolam semen, dan hasilnya air mulai jernih karena kotoran dan tanah berlumpur itu ternyata menempel di akar eceng gondok dan semakin subur.

“Jadi sesungguhnya, Tuhan mengirim eceng gondok ke danau, sungai, dan rawa yang ada di negeri ini dan tumbuh subur karena air yang selama ini menjadi kebutuhan manusia, secara alamiah diproses oleh eceng gondok dari kotoran karena ulah manusia yang tidak toleran kepada alam,” kata Yotama menjelasakan.

“Kita menyalahkan eceng gondok sebagai perusak danau, sungai, ataupun rawa, padahal kita telah berutang budi kepada eceng gondok yang telah mengurangi racun yang ada di air sebagai sumber kehidupan kita.”

Menurutnya lagi, perhatian ke danau Limboto di Gorontalo harus dilakukan pendekatan secara alamiah, bukan proyek semata apalagi dengan pengerukan yang biayanya sangat luar biasa, mencapai ratusan miliar rupiah. Yang harus dilakukan katanya, eceng gondok itu bisa dijadikan pupuk, kerajinan tangan, dan juga pakan ternak bebek.

RIVOL PAINO  

Leave a Reply

sixteen − 8 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top