Sebenarnya Apa Maksud dan Tujuan Tumbilotohe?

TUMBILOTOHE 2
suasana Tumbilotohe di Gorontalo (DG/Syam Terrajana)

 

DeGorontalo – Pada masa lalu, Tumbilotohe tak begini. Tradisi bahkan ini digelar satu bulan penuh selama Ramadan berlangsung.

Lampu-lampu api itu digunakan sebagai penerang dari rumah menuju masjid dan surau . Hal tersebut sesuai dengan kondisi saat itu, Gorontalo umumnya adalah perkampungan yang belum dialiri listrik. Jarak antar pemukiman juga masih saling berjauhan.

Tapi hari ini, tumbilotohe hanya digelar pada tiga malam terakhir di penghujung bulan Ramadan, sebelum takbir, pertanda Hari Raya Idul Fitri dikumandangkan.

Lampu -lampu api mulai dinyalakan pada malam kedua puluh tujuh Ramadan, malam ganjil yang diyakini malam Lailatul Qadar; malam penuh kemuliaan, yang lebih baik dari seribu bulan, dimana dosa-dosa manusia diampuni.

Seiring perkembangan zaman, nilai dari tradisi Tumbilotohe ikut mengalami pergeseran. Jenis lampu yang digunakan juga sudah berbeda, kebanyakan menggunakan lampu botol berbahan bakar minyak tanah.

Hari ini banyak warga yang terjebak pada perayaan seremonial belaka, berlomba memasang lampu sebanyak-banyaknya.

Yamin Hussein, tokoh masyarakat setempat yang juga dikenal sebagai budayawan Gorontalo suatu ketika bercerita kepada DeGorontalo.

Pada masa lalu, lampu-lampu api berbahan bakar minyak kelapa, digunakan sebagai penerang dari rumah menuju masjid dan surau .

Hal tersebut sesuai dengan kondisi saat itu, Gorontalo umumnya adalah perkampungan yang belum dialiri listrik. Jarak antar pemukiman juga masih saling berjauhan.

Katanya, penerangan ekstra yang hanya dilakukan setiap bulan suci bagi umat muslim itu, sekaligus menjadi penyemarak suasana, bertujuan untuk memotivasi setiap muslim agar rajin beribadah.

BACA JUGA:

Ada hal menarik lainnya dari tradisi ini, pada masa lalu, Tumbilotohe juga berfungsi sebagai alat statistik tradisional.Jumlah lampu di pintu masuk halaman rumah penduduk, disesuaikan dengan jumlah para penghuninya.

Dengan demikian, setiap orang akan saling mengetahui berapa jumlah penghuni di setiap rumah.

Hari ini, Tumbilotohe tak ubah seperti seremonial belaka. Bahkan dijadikan alat dan komoditas politik, terlebih pada momentum jelang Pilkada yang hendak dihelat 2017 mendatang.

Shafwan Ali, salah satu tokoh agama setempat menambahkan, pada masa lalu, ada juga warga yang sengaja menerangi pekuburan, maknanya, tak lain untuk mengingatkan mereka yang masih hidup akan kematian, sehingga timbul rasa syukur, masih beroleh kesempatan bertemu dengan bulan Suci Ramadan.

Pada tiga malam terakhir Ramadan, mesjid-mesjid yang menggelar shalat tarawih kini malah kian sepi.

Bertolak belakang dari itu, keramaian justru tumpah ruah di jalanan, tak jarang diiringi dentuman musik ingar bingar. Ruas jalan dipadati arus kendaraan bermotor yang ingin menikmati pemandangan Gorontalo bertabur api di malam hari.**

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Tulisan saya lainnya dapat disimak di kawansyam.com. Saya dapat dihubungi di syam.terrajana@gmail.com.

Leave a Reply

4 × one =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top