You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Sebongkah Berlian di Kepulauan Togean (Catatan Perjalanan 1)

Sebongkah Berlian di Kepulauan Togean (Catatan Perjalanan 1)

Saya berada di buritan kapal feri di dermaga Gorontalo – Foto: Pepen

Ini tanah airmu, di sini kita bukan turis …

Teman saya, Rival Dako a.k.a Pepen, menyuruh saya memunggunginya. Kemudian ia memotret tulisan di kaus saya itu. Sebait sajak dari Wiji Thukul.

Selasa malam, 16 Mei 2017, kami berada di atas buritan kapal feri di pelabuhan Gorontalo, yang hendak menuju pelabuhan Wakai, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah (Sulteng). Selain saya dan Pepen, ada teman satu lagi bernama Wawan Akuba yang ikut bersama kami.

Di antara kami bertiga, hanya saya yang baru kali pertama menuju Wakai, atau tepatnya Kepulauan Togean. Ini adalah wilayah Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT), yang juga merupakan destinasi wisata andalan di Sulteng atau di Pulau Sulawesi.

Pepen pada bulan sebelumnya, sudah pernah mengunjungi Togean bersama Wawan. Dan dari kami bertiga, Wawan satu-satunya yang layak menerima tropi karena berada di urutan pertama, orang yang sudah tiga kali berkunjung ke Togean. Ia sudah sejak Maret dan April 2017.

“Iya, kami akan ke Pulau Malenge dan Pulau Papan. Ada program kampanye lingkungan di sana,” suara Wawan sayup-sayup terdengar.

Ternyata ia sedang berbincang dengan seorang bule perempuan, yang belakangan diketahui berasal dari Australia. Bule itu kira-kira usianya di atas 50, rambut merahnya sudah berhias keperakan. Ia duduk di bangku panjang, yang hanya muat untuk kami berempat. Saya, Pepen, Wawan, dan dia.

Bule yang saya lupa namanya itu, fasih berbahasa Indonesia. Ia sudah bertahun-tahun tinggal di Desa Katupat. Secara sukarela, ia mengajar bahasa Inggris bagi anak-anak pulau.

“Saya baru saja mengantar anak laki-laki saya dan pacarnya ke bandara. Mereka berlibur di Togean,” katanya, sambil mengepulkan asap rokok yang dengan cepat disambar angin di pelabuhan.

Tak lama berselang, bule itu pamit dengan melempar senyuman dan sekali anggukan. Ia menuju tong sampah lalu mematikan rokoknya, dan berjalan masuk menuruni tangga ke lambung kapal.

Saya sedang memotret tulisan Pelabuhan Gorontalo yang menyala dari kejauhan. Tiba-tiba buritan riuh. Sekelompok mahasiswa muncul dan berfoto-foto. Satu per satu bule-bule pun muncul. Ada sekitar sembilan orang bule. Di genggaman tangan mereka ada bir kaleng ukuran jumbo, yang mereka beli di kafetaria mungil tepat di samping kanan buritan.

Saya melirik jam di ponsel. Sudah pukul 9 malam. Tak lama kemudian bel kapal berbunyi. Kami akan segera bertolak menuju Pelabuhan Wakai.

“Biasa, kalau berangkat jam begini, tiba di Wakai jam berapa? tanya saya.

Pepen yang tengah asyik dengan ponselnya, menengadah, “Sekitar pukul 8 pagi.”

Lama tempuh sekitar 12 jam. Waktu yang sama jika kita bertolak dari Pelabuhan Gorontalo menuju Pelabuhan Pagimana, di Kabupaten Luwuk Banggai. Semalam.

Sudah hampir sejam kapal bertolak, lampu-lampu di daratan masih terlihat. Sinyal di ponsel pun masih dua sampai tiga lengkungan. Orang-orang di buritan yang tidak tahan terpaan angin, memilih masuk.

Wawan membuka ranselnya dan mengambil hammock. Ia menggantungnya tepat di samping kami. Saya dan Pepen pun ikut menggelar sleeping bag di lantai kapal, di bawah naungan hammock-nya Wawan, yang serupa kepompong melintang.

Sekitar tiga meter di samping kiri kami, tiga pria bule juga ikut melantai berbungkus sleeping bag. Sementara di sebelah kanan ada dua pria bule berpostur tinggi besar, masih berasyik-masyuk dengan bir kaleng. Sepintas mereka berdua seperti saudara kembar. Sama-sama berkepala plontos dan berpipi tebal. Tapi dari usia, bisa ditebak mereka adalah ayah dan anak. Kedua bule itu akhirnya merentangkan badan di lantai beralas matras. Kulit putih, membuat pipi merah mereka terlihat jelas seperti sepasang buah tomat, tersaput cahaya bohlam.

Kendati kami membeli tiket kelas bisnis seharga Rp89 ribu, yang mana disediakan kursi empuk di dalam kapal, namun kami lebih memilih tidur di buritan depan kafetaria. Untuk tiket ekonomi seharga Rp63 ribu, penumpang biasanya disediakan ranjang kayu dua susun. Jika ranjang penuh, maka penumpang memilih beralas kardus atau matras yang disewakan Rp10 ribu.

Kondisi di dalam kapal feri – Foto: Pepen

Untuk kelas VIP seingat saya harganya berkisar Rp100 ribu. Di kelas ini disediakan tempat tidur berjejer untuk belasan orang. Pun fasilitas pendingin ruangan dan kamar mandi. Tapi fasilitas itu kalah menarik dengan hamparan bintang di langit, angin sejuk, dan tempat tidur seluas buritan, seukuran lapangan badminton itu.

Bagi yang ingin lebih privasi, bisa menyewa kabin. Tentunya dengan harga lebih mahal, berkisar Rp300-500 ribu per kabin, bisa muat untuk dua atau tiga orang, dengan ranjang susun. Bahkan awak-awak kapal biasanya ada yang menyewakan kabin mereka.

Tak sabar rasanya ingin segera sampai ke Kepulauan Togean. Dan salah satu cara tercepat adalah: tidur.

Sebenarnya untuk pergi ke Togean ada beberapa rute yang bisa dipilih. Bagi yang hendak lewat Gorontalo, untuk turis yang baru kali pertama, bisa datang ke Gorontalo melalui jalur udara. Saat Anda mendarat di Bandara Jalaluddin Gorontalo, bisa menyewa kendaraan untuk menuju Pelabuhan Gorontalo. Biasanya tarif per orang Rp70-80 ribu. Kalau ada yang meminta biaya lebih dari seratus ribu, yakinlah mereka itu ingin naik haji cepat-cepat.

Selanjutnya, di Pelabuhan Gorontalo Anda harus membeli tiket kapal feri Tuna Tomini, dengan variasi harga yang saya jelaskan sebelumnya. Jadwal berangkat kapal feri biasanya Selasa dan Jumat, paling lambat sekitar pukul 6 malam.

Bagi yang ingin lewat Gorontalo dengan rute berbeda, bisa melalui Desa Bumbulan, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Anda akan tiba di Dolong, Pulau Waleakodi, Kepulauan Togean. Tapi jarak tempuh dari bandara ke Paguat sekitar 5 jam. Dari Bumbulan, naik kapal Cengkeh Afo, yang hanya berangkat setiap Senin dan Kamis, waktu yang sama dengan keberangkatan kapal feri di Pelabuhan Gorontalo. Tapi dari Bumbulan, jarak tempuh melalui laut hanya 6 jam.

Sementara rute lain yang bisa dipilih, Anda bisa melalui Palu, Sulteng. Sesudah mendarat di Bandara Mutiara SIS Aljufri Palu, dilanjutkan dengan jalur darat menuju Pelabuhan Ampana. Anda akan melewati Poso, dengan jarak tempuh 375 km selama 10 jam, menggunakan bus. Biasanya dari bandara di Palu, ada juga pesawat baling-baling menuju bandara kecil Tanjung Api di Ampana.

Setibanya di Ampana, Anda tinggal melanjutkan perjalanan dengan kapal publik Puspita Sari atau Lumbalumba menuju Wakai. Harga tiket hanya Rp20 ribu, dengan waktu tempuh sekitar 4-5 jam. Kapal tersebut hanya beroperasi Senin, Rabu, dan Sabtu, sekitar pukul 10 pagi.

Ingin lebih cepat sampai, biasanya ada kapal cepat dengan waktu tempuh kurang dari satu jam. Tapi Anda harus merogoh kocek sekitar Rp150 ribu per orang. Kapal lainnya yang bisa ditumpangi, yakni kapal feri Tuna Tomini yang berangkat dari Ampana setiap Senin, Kamis, dan Minggu dengan waktu beroperasi yang sama dengan kedua kapal sebelumnya. Tapi jika Anda memilih naik kapal feri ini, harus dipastikan apakah ingin turun di Wakai atau Dolong. Tapi kebanyakan turis akan turun di Pelabuhan Wakai.

Dari semua rute pilihan di atas, melalui Pelabuhan Gorontalo kerap menjadi pilihan turis. Sebab hanya butuh waktu semalam mengarungi Teluk Tomini dari Gorontalo, Anda sudah sampai di Wakai. Anda juga akan dimanjakan oleh langit malam yang bertabur bintang gemintang, dan sunrise yang menanti pagi harinya.

Sekitar lewat tengah malam, saya dan Pepen terbangun. Perut seperti memberi sinyal butuh diisi. Bekal milik Wawan, kami hamparkan di lantai beralas matras. Setelah kenyang, kami berkeliling buritan sembari merokok. Ada belasan orang bergelimpangan di lantai. Pulas.

Setelah puas merokok, kami memilih kembali tidur, dengan harapan ketika mata terbuka, cahaya matahari sudah memoles langit pagi.

*

“Bangun. Sudah pagi.” Suara terdengar seiring hentakan di badan saya.

Benar, langit sudah abu-abu. Siluet pulau di kiri dan kanan kapal sudah terlihat. Orang-orang mulai ramai naik ke buritan. Apalagi disusul rombongan mahasiswa itu.

Suasana di buritan kapal pada pagi hari – Foto: Pepen

Bule-bule yang tadinya pulas, ikut terbangun. Berbekal air mineral, mereka mengguyur wajah. Tepi buritan menjadi tempat rebutan. Sepanjang jalan, di kiri dan kanan pulau-pulau kecil berjejer karts seukuran rumah berlantai dua, mencuat dari kulit lautan.

Dan, matahari terbit yang per lahan mengintip dari punggung sebuah pulau, memukau semua orang.

“Di sana Wakai,” tunjuk Pepen ke arah haluan kapal.

Pelabuhan Wakai tampak dari kejauhan – Foto: Pepen

Tinggal belasan menit lagi kami akan berlabuh di kepulauan yang berada di lidah Pulau Sulawesi ini, setelah mengarungi Teluk Tomini yang kebetulan begitu hening selama perjalanan.

Tak lama kemudian, sekitar pukul 8 pagi, Rabu 17 Mei 2017, kami sampai di Pelabuhan Wakai. Ada sekitar ratusan rumah beratap seng, terhampar di sekitar pelabuhan. Selesai kru kapal menambatkan tali di pelabuhan, kami turun paling belakangan. Jalan masih panjang setelah ini …

 

Bersambung … Selengkung Pelangi Sesudah Badai (Catatan Perjalanan 2)

Catatan perjalanan di Kepulauan Togean ini ditulis Kristianto Galuwo a.k.a Sigidad.

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

twenty − 19 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top