Sebuah Catatan: Tentang Siapa Aku

Di depan gerbang Museum Pendaratan Soekarno. Desa Iluta, Kec. Batudaa, Kab. Gorontalo. Foto: Supri Gantu
Di depan gerbang Museum Pendaratan Soekarno. Desa Iluta, Kec. Batudaa, Kab. Gorontalo. Foto: Supri Gantu

KANTINASION

Seperti biasa, bersandar di tembok kantin kampus yang malas, entah kemalasan itu datangnya dari mana. Malas saja, sedangkan malas tak butuh alasan. Sembari mengamati kawan-kawan mahasiswa yang sedang asyik berbicara tentang idealisme diselingi sedikit candaan tentang politik, mungkin mereka gaduh dengan persoalan bebal tentang rokok yang menjadi topik hangat akhir-akhir ini.

Di alfa 5, ketika semuanya disibukkan oleh persoalan perut, kami membentuk kerumunan kecil dan memulai obrolan-obrolan yang tak biasanya dilakukan dalam kelas perkuliahan, bebas berdiskusi tentang apa saja, seolah kami disatukan oleh kepentingan tertentu, ya kepentingan makan sebagai eksistensi duniawi.

Kata-kata bijak, pujian dan caci maki pun diselipkan dalam topik pembicaraan, tak lama kemudian sepi pun mulai berkunjung di tempat itu, kami pun bergegas ke tempat tinggal salah seorang sahabat.

Sekadar basa-basi, berangkat dari keinginan seorang Andi’, begitu teman-teman memanggilnya, manusia yang penuh humor meskipun kadang-kadang juga horor. Dia pun mulai menawarkan jalan-jalan dengan berkunjung ke suatu tempat; Pendaratan Soekarno.

Katanya “kadang-kadang bisa kumpul seperti ini, sekali-kali kan”. Jadi, ya sudah, toh kadang-kadang, tapi bagaimana kalau kadang-kadang bosan? Setengah senang, setengahnya lagi bosan. Kadang-kadang ku ingin minum kopi dan kadang-kadang ku tidak, pokoknya kadang-kadang.

Mungkin saja keinginan sahabat tersebut adalah cermin kebosanan karena berhadapan terus dengan dinding beton di kamar kosnya, sehingga jalan-jalan adalah sebuah manifestasi keinginan yang kian lama terkungkung. Mungkin sama dengan diriku yang tak bisa menolak ajakan itu, dan lalu kemudian pergi.

Ada bang Oscar, Bung Ray, Saudara Ocan, Gus Yayan, Andi’, perempuan Berjilbab Ijo, Pak Sekretaris bersama Perempuan yang menyamar Ketua Panitia dan aku yang mana.

Sore itu, ketika sampai di tempat tujuan, kami pun dipisahkan oleh kekaguman sejarah, menyaksikan manuskrip kenangan masa silam, ada yang sibuk berselfie ria, ada juga yang sedang asyik dengan monumen Burung Garuda.

Monumen Burung Garuda di Museum Pendaratan Soekarno. Foto: Supri Gantu
Monumen Burung Garuda di Museum Pendaratan Soekarno. Foto: Supri Gantu

KEGILAAN

Di ruang museum itu, melihat foto-foto Bung Karno, aku tiba-tiba mengerti apa yang dikatakan Binatang dan Tumbuhan. Mungkin ini sekadar kegilaan, namun aku (sepertinya) mengerti bahwa mereka punya bahasa yang Universal, menghubungkan semua menjadi satu, bahasa yang utuh dan bisa dimengerti tanpa dipelajari.

Di tempat ini, aku mendengar pembicaraan seekor burung, bagaimana ia membentangkan sayapnya dan bercerita bagaimana bumi terlihat dari atas sana. Semut mengajarkan kerja sama, mengajarkan budaya bertegur sapa, sepertinya tak ada kebencian di antara mereka, aku iri dengan kehidupan mereka, bagi mereka setiap hari adalah idul fitri, saling memaafkan meski tak berbuat kesalahan.

Sistem yang mereka jalani setiap hari, bekerja keras, berbagi makanan demi sesama. Dan aku yakin ketika aku mendengar satu persatu dari binatang itu berbicara, tak ada satupun yang bercerita mengenai Agama. Mereka hanya berbicara mengenai hidup bagaimana mengisinya, dan bagaimana mereka menjalaninya dari hari ke hari.

Pikiranku pun mulai diselubungi oleh kerisauan. Pernahkah kau berpikir untuk menentang arus utama sosial? Melawan arus kebiasaan masyarakat yang menjalani hidup dengan standar normal. Jangankan berpikir demikian, berpikir seperti ini saja kau dinggap gila, dibilang tidak seperti manusia kebanyakan, bahkan kau divonis manusia aneh, tidak wajar.

Kalau begitu, siapa aku yang sebenarnya? Apakah aku hanya sekedar tumpukan makanan yang aku jarah setiap hari yang tak punya kesadaran? Apakah aku hanya susunan kerangka yang bersembunyi dibalik tumpukan daging? Jika demikian, binatang yang mengajak bercerita denganku pun sama dengan diriku, punya kerangka dan daging, punya otak dan punya kebiasaan yang sama: makan. Pertanyaan ini tak akan pernah selesai, semakin banyak bertanya seperti itu semakin aku dianggap gila, kendati aku akan kelelahan dan semakin bingung.

Namun, pantaskah aku mengaku bahwa aku ciptaan yang paling tinggi? Aku menyebut diriku manusia lalu menganggap diriku lebih dari binatang-binatang yang aku dengar ceritanya. Dimana kenyataannya, kita hanyalah para egois, perampok, penjajah, pembunuh, koruptor-koruptor yang busuk. Inilah manusia, mahluk ciptaan paling tinggi derajatnya.

Kita seringkali menganggap binatang sebagai pengganggu dalam hidup kita, coba kau bayangkan, nyamuk, lalat, kecoa, semut dan lainnya. Semua hewan itu mengambil darah dan makanan manusia tanpa memberi, lalu manusia membenci semua yang dianggap sebagai pengganggu itu, manusia membunuh kutu dengan shampo, menyemprot tumbuhan dan meracuni.

Pengganggu adalah musuh terbesar manusia, akan tetapi manusia tak pernah menyadari kenyataan bahwa dirinya adalah pengganggu. Manusia menganggu tumbuh-tumbuhan, binatang dan alam, bahkan manusia adalah pengganggu bagi mahluk atas mahluk yang lain. Manusia mengambil dari tumbuh-tumbuhan sebagai bahan sayuran, mengambil dari binatang (daging) untuk dimakan, mengambil dari alam (lumpur) sebagai bahan bangunan untuk tempat tinggal.

Sejenak berpikir, di zaman yang serba-serbi seperti sekarang, persoalan kemanusian sudah mulai tabu diperbincangkan, manusia melek dengan arus globalisasi. Tak ada yang benar-benar mencintai alam, binatang dan tumbuhan. Manusia mengambil semua yang diluar dirinya tanpa pernah memberi, kalau pun memberi, itu tak lebih hanyalah siasat untuk mendapatkan yang lebih banyak lagi, dari tumbuhan, binatang dan alam, demi kepuasannya sendiri.

Betapa pun aku menjadi yakin, jika aku bertemu singa, mungkin dia akan berbicara mengenai wibawa. Dan lebah bercerita mengenai madu-madu yang dikumpulkannya. Aku tak ingin mereka tahu, kalau aku mengerti apa yang mereka bicarakan, karena aku tak punya apa-apa untuk diceritakan. Lebih-lebih, mungkin mereka akan marah, atas eksploitasi Hewan dan Tumbuhan yang dilakukan oleh kaumku, lagipula? Apa yang aku punya? Cerita genosida, penjarahan, penculikan, pemerkosaan, dan pembunuhan atas sesama? Dan aku menyebut diriku manusia? Yang mengaku punya akal budi.

Kitalah para pembunuh itu, kita yang lebih buas dari binatang. Kita yang hanya terdiri dari susunan tulang berbungkus daging dan dilapisi kulit, mahluk yang paling licik, mahluk lemah. Begitu banyak manusia-manusia besar, punya segalanya, mereka gelisah dengan apa yang mereka punya, sehingga mereka butuh keamanan (dipanggillah Satpam) untuk penjagaan ketat, tapi mereka tak bisa menjaga hatinya sendiri, tak bisa menyeimbangkan akalnya. Sia-sia orang memikirkan kehidupan tanpa menghidupan pikiran.

Jadi, “Siapa aku” adalah pertanyaan besar yang harus segera kita tuntaskan sebelum berbicara tentang cinta. Karena faktanya manusia cenderung terjebak dalam jejaring makna yang dibuatnya sendiri, jaring kebodohan yang tak pernah berujung. Bukankah hidup dalam lingkaran setan adalah pemaknaan hidup yang sangat membosankan? Sekali lagi, bertanyalah pada diri sendiri; Siapa Aku? “Halaqah Imru Lam Ya’rif Qadrah; Hancurlah seseorang yang tidak mengenali kadar dirinya”.

Oleh: Supri Gantu

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

2 × 1 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top