You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Sejumlah Kisah Gelap Pada Hari Ibu

Sejumlah Kisah Gelap Pada Hari Ibu

(Kisah ini bisa fiktif, bisa nyata. Namun nama dan kesamaan peristiwa, hanya kebetulan belaka.)
SEBUT saja namanya “Bunga”. Gadis hitam manis yang bekerja pada salah satu swalayan ternama di kota ini. Dia dibayar 250 ribu perbulan hanya untuk berdiri melayani pembeli, sejak pukul 09.00 pagi hingga pukul lima sore. Dia siaga di antara rak –rak barang yang memanjang, sambil sekali-kali mencuri pandang pada pembeli yang tampan apalagi gagah. Jika sudah begitu, ia dan teman-temannya akan tertawa cekikikan dengan muka merah padam. Tapi mulai hari ini hingga seterusnya, Bunga tak akan lagi bekerja di toko itu. Dia berhenti setelah perutnya kian membuncit, Sebenarnya dia belum siap menjadi seorang ibu.

Tapi apa daya, obat penggugur kandungan dari kekasih yang menghamilinya itu, tidak mujarab.

******

LELAKI itu mewarisi semua sifat ibunya yang penyayang, penuh cinta, lagi lemah lembut dalam tutur sikapnya. Namun semua itu hilang sekejap, ketika ayahnya yang sekian lama menghilang, muncul tiba-tiba:

“Pergilah ayah, sebab hanya engkaulah satu-satunya lelaki yang kubenci,” Usirnya, sambil memoleskan gincu merah di bibirnya.

******

“KELIMA anak saya sudah jadi orang semua, si sulung bekerja mapan pada sebuah bank swasta, yang kedua bekerja sebagai pengusaha karpet, produknya tembus hingga ke luar negeri. Yang ketiga dosen dan kandidat doktor pada salah satu perguruan tinggi ternama. Yang keempat, menjabat kepala dinas pada sebuah instasi pemerintahan, sedang yang paling bungsu menjadi politisi , selain sebagai seorang wakil rakyat, dia juga orang kepercayaan bupati,rumah mereka besar-besar, anak mereka pintar-pintar” lalu ibu itu mulai terisak.

“Tapi seharusnya aku tak perlu mengutuk mereka jadi batu, hanya karena tak pernah lagi menengok kuburanku, dan mengucapkan selamat hari ibu,” dia mengutuk diri sendiri

*****
Sebuah surat ditulis seorang ibu kepada ibunya:

“Selamat hari ibu, ibundaku. maaf, aku belum bisa menjadi ibu yang baik, mungkin lain kali saja, kalau sudah ketemu suami yang baik”.

*Ilustrasi “Ibu With No Name” Pencil on Paper karya Syam  Terrajana

SYAM TERRAJANA

(Visited 108 times, 1 visits today)
Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

two × three =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top