You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Sekolah; yang megah, yang ahsudahlah…

Sekolah; yang megah, yang ahsudahlah…

Oleh. Pramono Pido(*)
(Pegiat Bengkel Baca Tektonik)

ilustrasi. Pixabay.com (Creative Commons)

Bandingkan dengan negara-negara lainnya, minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah! Dari 61 negara, Indonesia menempati urutan ke-60 terkait dengan minat baca, demikian menurut Duta Baca Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Rendahnya minat baca ini berdampak sistemik bagi kemajuan tingkat kebudayaan suatu bangsa, Sebab minat baca selalu ekuivalen dengan temuan-temuan, karya-karya dalam bidang apapun itu, yang pada muaranya menjadi indikator majunya suatu bangsa.

Banyak contoh yang bisa dijadikan pembuktian, namun bukti-bukti itu serasa mengenaskan bila dipaparkan lebih lanjut, biarlah itu menjadi urusan Badan Pusat Statistik, UNICEF atau guru-guru sekolah yang lebih sibuk urus sertifikasi itu.

Fenomena ini kemudian menimbulkan refleksi mendalam, mengapa jumlah bangunan sekolah, universitas, pusat-pusat penelitian yang massif tidak punya korelasi dengan budaya baca di Indonesia pada umumnya ? Pertanyaan mengapa adalah pertanyaan yang membuka pintu penelusuran keilmuan. Serasa terpanggil kembali untuk menengok karya-karya sastrawan kita seperti Pramoedya Ananta Toer yang mengurai proses memerdekakan justru melalui perlawanan konseptual. Kita tidak pernah tahu seperti apa realitas sebenarnya saat itu, karena teks adalah hasil rekonstruksi peristiwa dan bukan peristiwa itu sendiri.

BACA JUGA :

Skeptisisme ini tentu tidak perlu menjadi fokus perhatian. Namun, yang pasti terjadi di masa itu adalah tidak ada sekolah atau universitas sebanyak saat ini pada saat itu. Namun karya – karya kesusastraan berseliweran dimana-mana. Dari saat ke saat kemudian bangsa ini bertumbuh, dari minimnya sekolah karena pada waktu itu yakni pra-kemerdekaan, kita masih netek pada lembaga pendidikan milik Belanda. Menjadi kebanjiran sekolah, bak jumlah biapong dalam penggorengan. Jumlah gedung-gedung sekolah tumbuh lebih cepat daripada virus. Sayangnya yang dimaknai sebagai tumbuhnya sekolah hanya sebatas banyaknya gedung tempat belajar.

Sangat berbeda dengan maksud kalimat “Frankfurt School” misalnya. Efeknya, tinjauan sejarah kata sekolah pun amat kabur pemaknaannya. Sempit menjadi hanya nama sebuah gedung tempat ritus elitis pendidikan diperagakan. Dalam sudut pandang itulah diperlukan adanya perkumpulan orang muda atau siapa saja, dimana saja yang punya minat baca untuk saling bertukar informasi, berdebat, bersenang-senang, memasyarakatkan kebiasaan membaca, tanpa perlu memikirkan tetek-bengek dekorasi gedung. Juga, tanpa terkesan memberi penyuluhan apalagi menggurui, seperti maksud awal kata sekolah itu diartikan! yakni skhole, scola, yang berarti waktu luang atau Frankfurt school yang merupakan salah satu nama mazhab pemikiran dalam ilmu sosial, dan bukan sekedar papan nama gedung di pinggiran jalan.

Budaya pembelajar sekolah Taman Siswa : ing ngarso sung tulodo (emong), ing madya mbangun karsa (among), tut wuri handayani (pamong), (di depan memberi teladan (tuntun), di tengah menyemangati (bimbing), dan memberi dorongan dari belakang (dukung), akan sangat berbeda dengan budaya pembelajar SMA Seminari St Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang : sanctitas (kesucian), sanitas (sehat), dan scientia (pengetahuan).

Perbedaan tersebut tentu berimbas pada kurikulum (yang dalam soal ini anehnya justru diberlakukan keseragaman kurikulum di tiap sekolah se-Indonesia) dan kultur belajar, memang begitulah seharusnya. Keragaman sumber belajar, proses pembelajaran yang menyenangkan dengan tetap memperhatikan kedalaman pembahasan di tiap pelajarannya. Amatlah penting untuk menjadi pemantik kesadaran literasi. Sayangnya jusru realitasnya terbalik, kita tidak perlu menyebutkan berapa jumlah kasus tawuran antar pelajar selama 10 tahun belakangan, atau tingkat rusaknya moral produk-produk sekolah.

Barisan para koruptor yang diringkus OTT KPK tentu bukan orang-orang yang berpendidikan rendah atau sama sekali tidak punya pendidikan. Mereka pejabat-pejebat publik, menjadi pejabat dengan modal ijasah sekolah. Lantas, mengapa mereka tega melakukan korupsi ? apa relevansinya dengan sekolah ? saya tidak ingin menjawabnya, biarkan itu menjadi bahan diskursus di seminar-seminar atau forum-forum tempat para orang terpelajar sepakat tentang cara-cara hidup yang baik.

Semangat berpendidikan harus terus hidup melampaui pagar-pagar beton. Dan pekerjaan menghidupkan harapan itu, perkerjaan yang harus datang dari hati. Siapapun yang tulus menggalakkan literasi serta semangat itu, pasti tak tertarik lagi menerima gelar kesarjanaan yang formal dan borjuis.(*)

(Visited 145 times, 6 visits today)

Leave a Reply

twenty − 1 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top