You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Selengkung Pelangi Sesudah Badai (Catatan Perjalanan 2)

Selengkung Pelangi Sesudah Badai (Catatan Perjalanan 2)

Kami bersama beberapa turis asing menyewa perahu mesin – Foto: Pepen

Di Pelabuhan Wakai, telah banyak guide yang menawarkan jasa mereka, sekaligus yang menyewakan perahu. Sebab dari Wakai, jika tujuan kami ke Pulau Malenge, kami harus naik kapal atau perahu lagi menuju ke sana dengan durasi sekitar dua jam.

“Ayo, menuju pos. Kita daftar nama dulu,” ajak Wawan.

Di pos pelabuhan, kami harus mengisi daftar nama dan menyertakan tujuan. Tidak ada pemeriksaan tanda pengenal. Pendataan bertujuan hanya untuk mengetahui, apakah kami turis atau memang bekerja di tempat tujuan kami. Tidak ada pemungutan biaya. Paling-paling kita disusul orang-orang lokal yang menawarkan jasa angkutan.

Bagi para turis yang baru kali pertama pergi ke Togean, tentunya hal yang perlu dicermati adalah ongkos jasa angkutan. Dari Wakai, jika hendak menuju Pelabuhan Malenge di Pulau Malenge, sebenarnya ada jasa angkutan publik yang biayanya hanya Rp20 ribu per orang. Tapi kebanyakan turis yang enggan menunggu kapal publik, yang beroperasi pukul 2 siang itu, bisa naik perahu mesin dengan harga carteran.

“Biasa satu perahu mesin dicarter bisa sampai 750 ribu. Tapi kita bisa patungan,” kata Wawan.

Karena tidak mungkin kami menunggu kapal publik yang baru tiba pukul 2 siang, sementara kami harus berburu waktu dengan pekerjaan, pagi itu kami ditawari perahu mesin. Kami patungan dengan empat orang bule. Kami bertiga dimintai Rp50 ribu per orang. Entah berapa untuk bule-bule itu.

Setelah sepakat, kami seperahu dengan sepasang turis dari Irlandia, dan dua turis perempuan yang satu berasal dari Australia, sementara satunya lagi berwajah oriental berasal dari Malaysia.

Pemilik kapal, seorang perempuan berkulit legam yang akrab disapa Umi, ikut bersama kami, dengan satu pria guide yang akan menemani dua turis Australia dan Malaysia itu. Ditambah satu pria yang menyetir perahu mesin.

Di dalam perahu, kami saling berkenalan dengan turis-turis itu, berbekal penguasaan bahasa Inggris yang sialnya, kami tidak bisa menggunakan google translete di ponsel pintar kami. Sinyal telekomunikasi hanya di Wakai, dan setelah bertolak dari Wakai, maka ponsel pintar kami menjadi dungu seketika.

Kami bersama turis asing di dalam perahu – Foto: Wawan

Dari percakapan itu, diketahui sepasang turis dari Irlandia adalah musisi reggae. Sudah dua album lagu yang mereka rilis. Sementara turis dari Australia adalah mahasiswi, yang ternyata sekampus dengan turis asal Malaysia itu. Mereka berdua berteman dan berangkat bersama dari Australia.

Tak lama, Pulau Kadidiri sudah di depan mata. Dari Wakai hanya butuh sekitar 30 menit perjalanan untuk sampai ke Kadidiri. Pulau berpasir putih dengan deretan nyiur dan cotage berbahan kayu, menyapa kami. Sepasang turis Irlandia turun di salah satu cotage di Kadidiri Paradise Resort & Dive, yang berada di antara hutan mangrove.

Pulau Kadidiri – Foto: Sigidad

Pria Irlandia berambut panjang yang diikatnya dan bertopi itu pamit, disusul pacarnya yang memiliki tato mungil bergambar babi di pergelangan kaki kirinya. Sementara kami, masih melanjutkan perjalanan yang akan ditempuh selama sejam lebih lagi, di tengah rintik hujan.

Selain Pulau Kadidiri, ada banyak pulau lain yang memiliki resort. Seperti Pulau Malenge yang menjadi tujuan kami, Pulau Waleakodi, Bolilanga, Batudaka (Bomba), Poyalisa, yang rata-rata hanya memiliki satu resort sebab pulaunya kecil. Tapi di beberapa pulau lain, bisa ditemui pulau dan pantai-pantai berpasir putih tak berpenghuni, dan tak kalah menarik.

Seorang penduduk sekitar pulau – Foto: Sigidad

Baru beberapa menit perahu kami bertolak dari Kadidiri, hujan deras mulai turun. Setelah itu hujan kembali reda, dan menyisakan gerimis. Tapi angin semakin kencang, dan ombak meruncing.

“Saya sudah bilang, jangan dulu berangkat tadi. Ini musim angin kencang kalau berangkat jam begini,” kata pria yang membawa perahu, dengan bahasa lokal.

Kami bertiga jelas cemas. Sementara turis Australia dan turis Malaysia yang kendati ia paham sedikit bahasa Melayu, tetap tidak mengerti dengan bahasa lokal. Tapi dari mata kedua turis itu, ada kecemasan berdiam.

Ombak dan angin semakin kencang, ketika kami melewati satu pulau berpasir putih tanpa penghuni. Ombak meruncing kira-kira semeter, dan percikan ombak mulai membasahi kami.

“Kita ikut jalan potong saja,” usul pria yang berprofesi sebagai guide.

Pembawa perahu mengambil kesempatan untuk bisa menyerongkan perahu, di tengah terpaan ombak. Kalau tidak lihai, tindakan itu bisa mengakibatkan perahu terbalik.

Saya segera memasukkan kamera dan ponsel ke dalam air bag. Perahu berhasil menyerong dan menuju ke arah hutan mangrove di bibir salah satu pulau. Tapi ternyata yang kami temui adalah jalan buntu.

Setelah perdebatan kecil antara pria pembawa perahu, guide, dan Umi, akhirnya jalan alternatif untuk menghindari ombak dan angin kencang, berada di samping kanan pulau. Kami kembali masuk lautan lalu memutar dan selamat sampai di pintu masuk jalan tersebut.

Hutan mangrove tampak rindang. Air tenang.

“Di sini banyak buaya,” kata Umi menggoda.

Tapi memang dari cerita warga sekitar, selain buaya, banyak ditemui ular di rute alternatif tersebut. Yang lebih ekstreme lagi, ada rute yang satunya lagi. Di sana pohon dan dedaunan mangrove saling merangkul, dan menghalau cahaya matahari. Ular seukuran lengan biasanya berjatuhan dari ranting mangrove.

Mendengar penuturan Umi, yang hanya bisa dipahami kami bertiga, bulu kuduk saya merinding.

Setelah berhasil melewati jalan alternatif itu, kami harus memasuki lautan lagi. Kali ini, ombak nyaris membalikkan perahu kami. Beruntung pria pembawa perahu, tampaknya sudah berpengalaman. Kami sekali lagi melewati jalan alternatif, yang kondisinya hampir sama dengan jalan sebelumnya.

Perjalanan kami itu sudah ditempuh selama dua jam. Seharusnya kami sudah sampai di Malenge jika tidak berkendala.

Lagi-lagi kami harus memasuki lautan dengan cuaca yang belum berubah. Turis Australia yang setiap kali melewati jalan alternatif merekam gambar dengan kamera GoPro miliknya, saat memasuki lautan kamera itu digenggamnya erat sambil menutup mata. Temannya, turis Malaysia yang sedari tadi mengenakan headset karena duduk berdekatan dengan mesin perahu, juga menutup mata sipitnya itu.

“Kita harus berhenti di Desa Katupat,” tunjuk Umi, ke arah sebuah pulau.

Umi menyarankan agar perahu menepi di desa tersebut, dan menunggu sampai cuaca lebih bersahabat untuk bisa melanjutkan perjalanan. Kebetulan ada kerabatnya di sana. Sebenarnya sebelum Desa Ketupat, kami masih akan melewati salah satu pemukiman Suku Bajo.

Pemukiman Suku Bajo – Foto: Sigidad

Sekitar belasan menit berlalu dengan kondisi terombang-ambing, desa Suku Bajo itu kami lewati. Anehnya di desa ini, ombak dan angin kencang tak ada lagi. Ibu-ibu pembawa sampan lalu-lalang.

Setelah melewati desa itu, kami menemui Desa Ketupat. Di desa ini, hujan mulai turun deras.

“Kalau hujan deras begini, angin dan ombak pasti jadi agak lebih tenang,” kata pembawa perahu. Dan ternyata benar, ombak dan angin kencang mereda.

Setelah melewati desa itu, dan kembali memasuki lautan, langit telah cerah dan berawan. Kami lebih banyak tersenyum. Sesekali kami bercanda tentang suasana mencekam yang baru saja terlewati.

Sudah hampir empat jam lebih kami di atas perahu. Kemudian dari kejauhan telah tampak sebuah pulau besar membiru.

“Itu Pulau Malenge,” tunjuk Wawan.

Pulau Malenge ini, termasuk salah satu pulau di Kepulauan Togean. Dari data yang kami–Aliansi Jurnalis Independen Kota Gorontalo–kumpulkan selama penyusunan proposal program, yang didanai Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia), dengan dukungan The Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF), untuk kampanye penyadartahuan di Pulau Malenge, Kepulauan Togean yang menghampar sepanjang 90 kilometer terdiri 6 pulau besar dan 60 kecil di sekitar Teluk Tomini.

Pulau Malenge tampak dari kejauhan – Foto: Wawan

Di antara pulau-pulau besar yang berada di Kepulauan Togean, di antaranya Pulau Batudaka, Togean, Waleakodi, Unauna, Waleabahi, dan Talatakoh. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo, setelah dinyatakan lolos proposal, sejak Maret 2017, tim lapangan mulai melakukan survei pertama kali di Pulau Malenge, yakni di Desa Malenge dan Kadoda.

Setelah itu, bulan berikutnya pada April, tim program memulai kampanye diawali penempelan poster berisi konten pelestarian lingkungan, baik laut dan hutan, di beberapa titik strategis masing-masing desa. Seperti di kantor desa dan kecamatan, sekolah, pelabuhan, dan jalan utama.

Selain menempel poster, diskusi juga dilakukan di rumah warga, dan dibagikan newsletter berisi ajakan untuk melestarikan keanekaragam hayati di Pulau Malenge.

Pulau Malenge memiliki beberapa jenis binatang, seperti rusa, kuskus, tarsius, ketam kenari (Birgus latro), dan lain sebagainya. Sementara untuk fauna endemik Pulau Togean, bisa ditemui biawak togean (Varanus salvator togeanus), monyet togean (Macaca togeanus), dan babirusa togean (Babyrousa togeanensis). Selain itu, ada sekitar 90 jenis burung yang dilindungi dan berkembang biak di rimbunan hutan pulau ini. Di hutan bisa ditemui pula jenis burung khas Togean seperti burung kacamata togean dan burung hantu togean.

Selain kekayaan hutan, Kepulauan Togean memiliki Danau Mariona. Danau unik ini berisis ubur-ubur atau jelly fish yang tidak menyengat. Jika dilihat dari ketinggian, lokasi danau hampir mirip dengan objek wisata Raja Ampat. Ada beberapa pulau kecil yang berserakan di sekitar danau. Di Pulau Malenge juga ada gua kelelawar yang menjadi salah satu tempat kunjungan turis. Sementara di Desa Bangkagi, turis bisa dimanjakan dengan taman anggrek.

Tak hanya itu, kepulauan ini kaya akan terumbu karang dan biota laut yang termasuk langka dan dilindungi. Kepulauan Togean menjadi bagian ekosistem terumbu karang penting dari coral triangle yang meliputi wilayah Indonesia. Ada empat tipe terumbu karang di Kepulauan Togean, di antaranya karang tepi (fringing reef), karang penghalang (barrier reef), karang tompok (patch reef), dan karang cincin (atoll).

Tak jauh dari Desa Lebiti, ada bangkai pesawat atau Plane Wreck jenis B24 Liberator dari masa Perang Dunia II, yang diperkirakan mendarat pada 3 Mei 1945. Tak seperti kebanyakan bangkai pesawat, Plane Wreck di Togean masih terbilang utuh, sebab diduga hanya melakukan pendaratan darurat, bukan jatuh. Di sekitar bangkai pesawat juga terdapat terumbu karang yang indah.

Namun sangat disayangkan, kekayaan terumbu karang di Togean, terancam akibat pemboman ikan dan penggunaan racun. Masyarakat yang tinggal di Kepulauan Togean yang terdiri dari Suku Togean, Bajo, Bobongko, dan Saluan, dikenal hampir semua berprofesi sebagai nelayan. Suku Bajo sendiri banyak bermukim di Pulau Papan, Milok, Talakoh, Siatu, Taupan, Enam, dan Salaka. Sementara Suku Saluan tersebar di Pulau Walea, dan Suku Bobongko di Desa Lembanato. Selain suku-suku itu, Suku Gorontalo dan Bugis juga telah banyak yang berdiaspora dan tersebar di Kepulauan Togean.

Masyarakat Suku Bajo yang dikenal memiliki pemukiman di atas laut ini, seiring waktu direkati stigma perusak ekosistem laut karena penggunaan bom ikan secara masif. Kendati sebenarnya banyak pula ditemui sebagian Suku Bajo yang turut andil dalam pelestarian ekosistem laut, seperti Suku Bajo di Desa Torosiaje, Provinsi Gorontalo, yang sekarang ini dikenal dengan pelestarian hutan mangrove di sekitar tempat mereka tinggal.

Pelabuhan Malenge – Foto: Sigidad

Setelah hampir 30 menit berjalan, akhirnya kami sampai di Pulau Malenge. Kami disambut selengkung pelangi di atas pulau yang berseberangan dengan Pulau Malenge.

Kedua turis itu, rencananya akan menginap di resort di Pantai Malenge. Salah satu pantai dari beberapa pantai berpasir putih yang mengitari pulau tersebut.

Melihat bibir Pelabuhan Malenge, hati saya lega seketika. Perahu yang kami tumpangi bersandar di depan rumah pemilik resort Pantai Malenge. Dari sana, kami akan diantar dengan perahu milik resort.

Kami bertiga akan menuju Pulau Papan di Desa Kadoda. Dalam perjalanan kami akan melewati Pantai Malenge. Tapi kedua turis dan guide itu, akan diantar setelah kami.

Akhirnya, teriakan seorang bocah dari salah satu rumah di Pulau Papan kepada Wawan, seakan memupus perjalanan panjang nan melelahkan itu.

Pulau Papan – Foto: Sigidad

Bocah berusia sekitar tiga tahun itu bernama Ipong. Ia menyambut Wawan yang sudah akrab dengannya. Rumah yang kami singgahi dan tinggali, milik Kepala Desa Kadoda, pamannya Ipong.

Setelah berpindah pijakan dari perahu ke rumah, kami lantas berpamitan kepada teman seperjalanan kami.

Have a nice trip,” kata turis Australia.

Kami mengucapkan kata yang sama, berterima kasih, lalu melambaikan tangan, yang disambut pula dengan lambaian tangan oleh keduanya.

 

Bersambung … Pulau Papan Nan Menawan (Catatan Perjalanan 3)

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

eight + four =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top