You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Sukardi Harun, Politisi Gorontalo Tiga Zaman

Sukardi Harun, Politisi Gorontalo Tiga Zaman

Sukardi Harun (kiri) saat diwawancarai penulis (kanan). Photo dokumentasi Susanto Polamolo

Oleh:Susanto Polamolo*

( Peneliti HAM, Konstitusi dan Sejarah Ketatanegaraan)

“Jadikan ibadah sebagai karyamu
Dan karyamu sebagai ibadahmu”
(Sukardi Harun)

Ini sebuah pertemuan yang tak direncanakan sebelumnya. Saya akhirnya berjumpa dengan salah satu politisi legendaris Sulawesi Utara, Sukardi Harun. Seorang putra asli Gorontalo, pada pertengahan tahun 2016 lalu.

Ketika itu saya sedang melakukan riset di wilayah Sulawesi Utara. Rasanya seperti pulang kampung, sebab kami pernah tinggal di Kota Bitung kurang lebih 12 tahun.

Perkenalan saya dengan keluarga Sukardi Harun sudah cukup lama. Hanya saja saya belum pernah sekalipun berjumpa dengan (Aba’, sapaan akrab anak-anak dan cucunya) Sukardi Harun.

Jadi, informasi yang saya dapatkan tentang beliau berasal dari keluarga dan para kolega; belakangan setelah hijrah ke Jogja saya temukan dalam sejumlah buku yang membahas tentang tokoh-tokoh terkemuka Sulawesi Utara, dan tentang pembentukan Provinsi Gorontalo; dan kemudian dalam risalah-risalah sidang MPR di mana Sukardi Harun pernah ikut membahas Amandemen UUD 1945 mewakili Fraksi PPP (bersama Zain Badjeber dll).

Semua itu sudah lebih dari cukup membikin saya berdecak dan penasaran.

BACA JUGA:

Dalam perjumpaan dengan Sukardi Harun saya bertanya banyak hal tentang perjuangannya. Dia tampak kesulitan mengingat peristiwa demi peristiwa. Maklum, usianya telah menginjak 86 tahun.

Dia masih kelihatan gagah dari balik keriput dan rambut yang mulai memutih. Kesan sebagai politisi Gorontalo masih kuat. Menyeruput kopi dengan tatapan tajam tapi tenang dari balik kepulan asap rokok.

Menjadi tua membuatnya makin asyik menikmati sisa usia. Berangkat tua dengan pengalaman segudang. Hampir seluruh hidupnya adalah pengalaman hidup itu sendiri. Terlebih pengalaman berpolitik melintasi tiga zaman.

Dia mulai ditempa oleh zaman ketika mengawali karir politiknya di bawah panji Serikat Islam (SI) sejak Pemilu 1955, di usia kurang lebih 23 tahun. Sukardi Harun berkenalan dengan sejumlah tokoh PSII Sulawesi Utara seperti Ab. Karim, Abdurahman Bukhari (Penghulu), Makmur Lubis, Maryama Gobel. Dia ditunjuk sebagai Komisaris PSII Kecamatan Bitung (pimpinan ranting). Selanjutnya pimpinan anak cabang. Dan lalu ditugaskan mendirikan organisasi-organisasi sayap seperti Gerakan Buruh Serikat Islam, Pemuda Muslim.

Dia kemudian terpilih menjadi anggota (dari Minahasa Utara) DPR-GR 1962-1967. Awal yang berat di wilayah mayoritas umat kristiani. Juga karena situasi peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Sukardi Harun sejenak menepi selama kurang lebih enam tahun. Hingga momen itu datang lagi, persis setelah PSII-Parmusi-NU melakukan fusi pada tahun 1973.

Sebagai salah satu pelopor fusi tersebut di Sulawesi Utara, kemampuan berjejaring Sukardi Harun tak diragukan lagi. Pada pemilihan 1977 dia tampil mewakili PPP, dan terpilih di DPRD Provinsi. Bertahan hingga 4 periode, sampai tahun 1997. Tentu saja suatu proses yang melewati pelbagai dinamika politik.

Tak berhenti di situ, Sukardi Harun mendapatkan jatah 1 kursi perimbangan di MPR-RI sebagai anggota non-DPR-RI era transisi dari Suharto ke Habibie pada 1997-1999, di samping menjalankan tugas sebagai Wakil Ketua Majelis Pertimbangan DPP PPP.

Sukrdi Harun kembali berlaga pada pemilihan 1999, dapil Gorontalo. Sementara koleganya sesama PPP waktu itu yang juga ikut berlaga ada Suharso Monoarfa dari dapil Manado. Sukardi Harun terpilih. Dia duduk di Komisi VII. Keduanya kemudian bertukar dapil pada pemilihan 2004, di bawah kebijakan partai (kepemimpinan Hamzah Haz): Sukardi Harun diposisikan kembali di Sulawesi Utara; Suharso Monoarfa diposisikan di Gorontalo yang baru saja dimekarkan (Provinsi). Keduanya terpilih. Sukardi Harun di periode keduanya duduk di Komisi VIX.

Selama bertugas di DPR-RI, memang tak banyak yang dilakukan Sukardi Harun. Dia hanya membantu pengadaan sejumlah rumah sakit dan alat-alat kesehatan, baik di Sulawesi Utara maupun di Gorontalo. Dan pada waktu dia hanya menjadi Wakil Ketua Pansus DPR-RI RUU Pembentukan Provinsi Gorontalo, bersama Yunus Lamuda (Ketua), Prof. Fachruddin (Wakil Ketua), Rodjil Ghufron (Wakil Ketua).

Barangkali karena peran yang tak seberapa itu sehingga orang-orang lekas lupa. Baik di Sulawesi Utara maupun dalam kurun 15 tahun terakhir sejak Gorontalo dimekarkan. Baginya itu bukan persoalan. Jawabannya menohok ketika saya menanyakan hal tersebut, “ketika ada uang dan jabatan kau terlihat seperti gula, tapi ketika tak ada lagi semua itu kau akan ditinggalkan.” Saya kira jawabannya itu sudah lebih dari cukup.

Baginya yang terpenting adalah berpolitik harus punya prinsip. Sebagai Serikat Islam sejati, rumus utamanya dalam berpolitik adalah rumus yang diajarkan oleh Tjokroaminoto, yakni trilogi Serikat Islam: Tauhid, ilmu pengetahuan, dan secerdik-cerdiknya siasat.

Diskusi kami sudah hampir selesai. Saya memberanikan diri untuk menanyakan kisah cintanya. Politisi kawakan ini hanya tersenyum. Menyembunyikan sesuatu. Sekilas saya melihat ada setitik cairan bening berdiam di sudut matanya. Dari balik sorot mata yang seketika berbinar saat menceritakan kisah cintanya. Sukardi Harun tetaplah lelaki biasa, bagian dirinya yang rapuh tentu saja sulit untuk ditutupinya. Lelaki yang pernah kehilangan perempuan yang menjadi istri pertamanya selama-lamanya (Alm. Nona Wangi); dan lelaki yang menemukan kembali cinta keduanya (Aslam Polontalo).

Sukardi Harun, sosok ini ternyata memang tangguh luar dalam. Kerasnya politik sama sekali tidak menghilangkan sisi hatinya yang lembut penuh kasih sayang. Darinya saya melihat kombinasi yang melebur menjadi padu dalam satu kekhasan: politisi Gorontalo yang berpegang teguh pada keislamannya.

Sosok yang mulai hilang dari ingatan ini adalah pengingat bagi kita bahwa 23 Januari adalah puncak, di mana ada orang-orang yang bersedia punggungnya jadi pijakan…(*)

 

(Visited 185 times, 1 visits today)

Leave a Reply

one × three =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top