You are here
Home > Gorontalopedia > Budaya > Sumpah Bontho, Sejarah Orang Gorontalo Masuk Islam

Sumpah Bontho, Sejarah Orang Gorontalo Masuk Islam

 

Masjid Hunto Sultan Amay, tempat bersemainya islam pertama kali di Gorontalo (DeGorontalo/Syam Terrajana)
Masjid Hunto Sultan Amay, tempat bersemainya islam pertama kali di Gorontalo (DeGorontalo/Syam Terrajana)

DEGORONTALO – Di usianya yang menginjak 519 tahun, Masjid Hunto Sultan Amay, di kelurahan Biawu, Kota Selatan Kota Gorontalo masih tegak berdiri. Ini adalah mesjid pertama sekaligus tertua di wilayah itu.berdiri tahun 1495 masehi/899 hijriyah. Begitu yang tertulis di gapura Masjid.

Masjid ini meninggalkan beberapa benda sejarah , di antaranya Mihrab kayu berukir , tempat khatib memberikan khutbah setinggi dua meter yang hingga sekarang masih digunakan.

“Bagian atas mihrab ini masih asli, tapi bagian bawahnya sudah dibuat permanen dari semen, karena kayunya sudah lapuk dimakan usia,” kata Faisal Tees, pengurus masjid sekaligus orang yang dipercayakan Balai Cagar budaya Gorontalo sebagai juru pelihara.

Di pojok bagian depan ruangan utama masjid, juga masih berdiri kokoh bedug berukuran sedang. bedug yang diduga peninggalan awal masjid ini  masih saja ditabuh lima sekali sehari setiap kali memasuki waktu shalat.

Lalu di sayap kiri masjid, masih bisa dijumpai sebuah sumur yang juga seusia masjid ini.Dinding-dinding sumur sedalam enam meter ini terdiri dari susunan batu karang, mata airnya pun tak pernah surut, pada musim kemarau sekalipun.

Setiap kali musim kemarau atau kesulitan air, banyak warga mengandalkan sumur ini untuk kebutuhan sehari-hari, mandi, memasak dan mencuci.

Alkisah, Islam masuk di Gorontalo atas nama cinta. Itu terjadi  ketika Sultan Amay (1460-1535 ), seorang penguasa di Gorontalo,   meminang seorang putri bernama Owutango, anak raja Palasa Ogomonjolo, Teluk Tomini yang lebih dahulu memeluk Islam.

“Masjid ini adalah mahar pernikahan, itu  syarat yang diajukan Raja Palasa, ketika ketika Sultan Amay hendak meminang putrinya,” tutur Faisal tees, penjaga masjid yang masuk dalam situs cagar budaya itu .

Semula, masjid ini hanya berukuran 12 x 12 meter persegi, bangunannya terdiri dari bahan kayu dan atap sirap, tidak seperti sekarang ini yang telah berdinding beton.Seingat Faisal, sudah ada tujuh kali bangunan Masjid itu mengalami renovasi juga sejumlah perluasan areal, kini luasnya sekitar 20 x 25 meter persegi.

Di ruang utama masjid, berdiri empat tiang penyangga, katanya, itu melambangkan para sahabat Rasulullah Muhammad SAW, yakni Abubakar Ash Shidiq, Ali Bin Abi Thalib, Umar Bin Khattab dan Usman Bin Affan, sedang bentuk enam sisi tiang melambangkan jumlah rukun iman dalam Islam. dulu tiang itu berbahan kayu, tapi kini diganti dengan beton.

Syamsuri Kaluku, 66, sesepuh dan imam masjid itu menambahkan kisah sejarah menarik tentang penyebaran agama Islam yang bermula dari masjid itu.

Alkisah, setelah mendirikan masjid itu, Sultan Amay mengumpulkan seluruh rakyatnya di masjid itu untuk menjalani prosesi masuk Islam.

Di hadapan rakyatnya, yang kala itu masih memeluk kepercayaan Alifuru- penyembah roh dan benda-benda yang dianggap bertuah- Sultan Amay memerintahkan untuk menyembelih seekor babi, darahnya kemudian ditempelkan di seluruh kening rakyatnya.

Peristiwa itu, katanya lagi, dikenal sebagai uacara sumpah adat “Bontho” akronim bahasa daerah yakni bolo yingoyingontiyolo monga boyi (ini hari terakhir kita makan babi).

Sumpah itu sekaligus menjadi pertanda seluruh warga kerajaan Gorontalo memeluk agama Islam. Babi, yang kala itu masih lazim dikonsumsi masyarakat setempat, adalah perlambang mal yang kini diharamkan atau dilarang dalam agama Islam.

Konon, katanya, kala itu banyak rakyat Gorontalo yang mendapat berbagai musibah lantaran melanggar sumpah adat itu, sakit keras dan gila.

Semasa berkuasa, Amay beserta delapan raja di daerah itu itu melahirkan 185 rumusan adat mencakup upacara perkawinan dan kematian, perilaku berkeluarga, bermasyarakat penerimaan tamu dan penobatan pemimpin.

Hasil rumusan itu dikenal dengan prinsip Saraa Topa-Topango to Adati atau syariat (hukum Islam) bertumpu pada adat.

Dalam buku berjudul “Memori Gorontalo ; Teritori, Transisi dan Tradisi” karya Basri Amin, disebutkan aksara arab sudah dipakai di Gorontalo sejak 1525.

Prinsip adat yang digagas oleh Amay, kemudian disempurnakan pada masa pemerintahan Raja Eyato yang berkuasa pada 1673-1679, menjadi Adati Hulahulaa To Saraa, Saraa Hulahulaa To Quruani yang berarti Adat Bersendi Syarak, syarak bersendi Kitabullah (Al Quran);falsafah yang hingga saat ini dipegang oleh warga Gorontalo.

Makamnya yang terletak di belakang masjid bersejarah itu pada waktu-waktu tertentu, juga kerap diziarahi banyak orang dari berbagai penjuru daerah, termasuk pada bulan Ramadhan. Di batu nisannya, Sultan amay diberi gelar Ta Olongia Lopo Isilamu (Raja yang menyebarkan agama Islam) .

 

SYAM TERRAJANA

 

 

 

 

 

 

(Visited 2,362 times, 27 visits today)
Syam Terrajana

Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

2 thoughts on “Sumpah Bontho, Sejarah Orang Gorontalo Masuk Islam

Leave a Reply

five × one =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top