You are here
Home > Lingkungan > Agraria > Ta Noku: “Ti Om yang Ba Foto Pa Saya Hari Minggu di Pasar Telaga To?”

Ta Noku: “Ti Om yang Ba Foto Pa Saya Hari Minggu di Pasar Telaga To?”

DEGORONTALO – Pagi tadi ini ke Pasar Rabu Andalas, belanja rutin. Ketemu lagi dengan Ta Noku, orang Tapa, Bone Bolango, orang yang ba jual sumbu lampu berbahan bakar minyak kelapa untuk Tumbilotohe, ritual tahunan menjelang Ramadhan di masyarakat Gorontalo. (BACA: Kisah Ta Noku, Penjual Sumbu Lampu Ramah Lingkungan)

Dengan wajah sumringah, dia menyambut saya. Saya pura-pura  tidak kenal. Langsung menanyakan harga kangkung jualannya. Membeli dua  ikat seharga seribu/ikat.

“Ti om yang ba foto pa saya hari Minggu di Pasar Telaga to?” tanya dia ke saya.

“Ya, ada apa?”

“Saya pe foto itu so orang lia-lia di internet, ti Om tau, saya pe sumbu banyak yang beli sampe hari ini. Di Pasar Senin saya dapat 1,5 juta. Di Selasa turun sadiki, 1 juta lebe. Sekarang saya bawa yang harga 1 juta somo abis poli,” katanya bersemangat.

“Orang-orang so baku tanya akang pa saya pe lampu, dorang bilang dorang lia di internet saya pe foto. Tingga odiye boti riziki montho Allah SWT, dia ota-otawa mao” sambungnya sambil mata berkaca-kaca.

“Syukurlah kalo banyak yang ba beli,” kata saya. “Kitorang ini pencinta lingkungan mo bekeng lomba lampu yang tidak pake minyak tanah dan tidak pake listrik, jadi cuma yang pake minyak kalapa sama dengan torang pe tua-tua dulu, yang ti ta Noku ada jual ini” kata saya sedikit memperkenalkan diri dan promosi lomba tumbilotohe ramah lingkungan.

“Kemarin olo,” sambung saya. “Ti Pak Walikota so datang di tampa torang mo bekeng akang lomba lampu di Andalas, dia ba janji mo datang pas tumbilotohe.”

“Bolo terima kase banyak juw so kase maso pa saya di internet, bolo salamu ode li Pak Wali, bilehi mayi amiyatiya botiya juw.” kata Ta Noku berharap.

“Nthe booditopo wa, nanti bakudapa ulang. Saya olo sering ke pasar-pasar,” kata saya sambil pamitan pulang.

“Ti mao openu bo katimu juw,” katanya sambil menyerahkan satu tas sedang ketimun jualannya sekira 7-8 biji.

“Is ala, berapa ini Ta Noku? Saya mo bayar saja wa?” kata saya karena merasa tidak enak menerima pemberiannya.

“Berarti tingoli botiye monolak rezeki montho olatiya?” katanya sedikit mendebat saya. Suaminya yang duduk disampingnya juga turut mengiyakan.

“OK kalo bagitu saya mo foto lagi ti Ta Noku. Cuma lain kali saya harus mo bayar wa,” kata saya sambil mengambil HP, mengabadikan Ta Noku dan jualannya.

 

RAHMAN DAKO (CITIZEN JOURNALIST)

*Foto. Ta Noku dan jualannya ( Rahman Dako)
Penulis adalah warga Kota Gorontalo. Aktivis Lingkungan. Dapat dijumpai dan disapa di laman facebook Rahman Dako

(Visited 168 times, 1 visits today)

Leave a Reply

nine + three =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top