You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Terciduknya Idola Para Pengidap Sindrom Stockholm

Terciduknya Idola Para Pengidap Sindrom Stockholm

Pixabay.com

Jalanan masih lenggang. Seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun, terlihat menunduk beberapa kali dan seakan bergegas. Rambut emasnya yang sepundak dan berponi, sesekali diterpa angin. Pagi itu, ia hendak berangkat ke sekolah, dari rumah orangtuanya di Wien-Donaustadt, Austria.

Tiba-tiba sebuah van putih mengerem di dekat gadis kecil itu. Seorang pria turun. Ia membekap anak itu dan menyeretnya masuk ke mobil.

Pagi, Senin 2 Maret 1998, sekitar pukul 7 pagi, gadis mungil bernama Natascha Kampusch itu, dinyatakan hilang.

Si penculik, pria dewasa bernama Wolfgang Priklopil, lantas membawa Natascha ke rumahnya di Strasshof dekat Ganserndorf, di Lower Austria. Pria jomblo yang hidup sendiri pula di rumahnya yang berukuran besar, telah membuatkan ruangan khusus untuk korbannya itu.

Di rumah itu, ibu si penculik yang hanya sesekali datang membersihkan dan merapikan rumah anak tunggalnya itu, lalu pergi, tak pernah mengetahui ada gadis cilik yang disekap anaknya di ruang bawah tanah.

Selama penyekapan, Priklopil kerap menganiaya Natascha. Di tahun-tahun pertama, Priklopil menyuruh Natascha memanggilnya Gebieter atau tuan. Jika Natasya tidak ingin makan, Proklopil menghajarnya. Selain itu, ada pengeras suara yang terhubung ke kamar penyekapan yang hanya 2 x 3 meter itu, yang sering dipakai Priklopil untuk meneriakkan kalimat: patuhi aku!

Kalimat itu, berulang kali diteriakkan setiap hari, untuk mendoktrin Natascha. Penyekapan selama bertahun-tahun itu, sampai pada hari tatkala Natascha mulai menstruasi. Lantai kamar dipenuh ceceran darah. Priklopil kesal lalu memukul Natascha, kemudian menyuruhnya membersihkan ceceran darah.

Seiring waktu, sadar Natascha telah remaja, Priklopil mulai memperkosanya. Berkali-kali. Hingga suatu hari, ibunya Priklopil menduga, jika anaknya itu sudah memiliki pacar. Sebab ibunya menemukan beberapa helai rambut di baju Priklopil, saat hendak mencucinya. Atas kejadian itu, Priklopil mencukur habis rambut Natascha.

Berbagai macam siksaan keji diterima Natascha. Meski pada malam-malam berikutnya, Priklopil tidak lagi mengikat tangan Natacha ke ranjang, saat memperkosanya. Terkadang ia menghibur Natascha dengan memberinya hadiah. Pernah saat Natal tiba, Natascha dihadiahi sebuah walkman. Selain itu, di kamar penyekapan, Priklopil juga kerap memberi bacaan berupa majalah dan buku.

Natascha sebenarnya pernah berupaya bunuh diri, dengan membakar tisu toilet menggunakan kompor listrik. Tapi upaya itu gagal, karena Priklopil memergokinya.

Niat melarikan diri pun sering surut, meski sebenarnya Natascha beberapa kali punya peluang. Namun doktrin dari Priklopil, seperti telah mengungkungnya. Hampir sama kasus dengan yang diperbuat Ramsay Bolton kepada Theon Greyjoy, di film Game of Thrones. Tapi kejadian yang menimpa Natascha bukan fiksi. Kisahnya ini pernah difilmkan dengan judul 3.096 Days, sesuai jumlah hari selama penculikan. Semua yang saya ceritakan ini, ada dalam film.

Sembilan tahun lamanya Natascha diculik, akhirnya Rabu 23 Agustus 2006, di usianya yang menginjak 18 tahun, ia berkesempatan kabur. Priklopil saat itu berniat menjual van putihnya. Ketika Natascha disuruh membersihkan van di depan rumah, Priklopil saat itu tengah menelepon. Melihat Priklopil lengah, secepat kilat Natascha membuka pintu pagar yang tak dikunci, lalu melarikan diri sekencang mungkin.

Setelah berhasil kabur dan meminta tolong, Natascha akhirnya dijemput polisi di salah satu rumah warga yang membantunya. Sementara Priklopil, memilih jalan pintas menuju rel kereta api, menunggu maut menjemputnya dengan moncong kereta.

Saat Natascha diberitahu, kalau penculiknya bunuh diri, ia menangis tersedu-sedu. Polisi ketika masa pendampingan, melihat ada gejala sindrom stockholm (respon psikologis, yang mana pada beberapa kasus korban penculikan atau sandera, menjadi setia dan malah mencintai penculiknya) pada Natascha.

Selama penculikan itu, Natascha pernah pada titik ketika ia merasa penculiknya lebih menyanyanginya, dan memberi perhatian lebih dibandingkan orangtuanya. Apalagi saat Natascha kerap diberi hadiah, ditambah lagi sebelum Natascha diculik, ia baru saja bertengkar dengan orangtuanya.

Beberapa tahun kemudian sesudah penculikan, Natascha menulis dalam buku otobiografinya, “Saya masih anak-anak dan saya butuh sentuhan kasih sayang. Jadi, setelah beberapa bulan di gudang bawah tanah, saya meminta penculik saya untuk memeluk saya. Itu sangat sulit. Saya menjadi sesak nafas karena panik ketika dia memeluk terlalu kencang. Setelah beberapa kali mencoba, kami berhasil melakukannya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu kencang, tetapi cukup sehingga saya bisa membayangkan perasaan sentuhan yang penuh kasih dan perhatian.”

Jauh tahun dan jarak dari kejadian penculikan Natascha, tepatnya kemarin, Sabtu 7 Oktober 2017, di Jakarta, berita tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berhasil menangkap Ketua Pengadilan Tinggi Manado, Sudiwardono, bersama salah satu anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI), yang juga politikus Golkar, Aditya Anugrah Moha, tersebar di media massa. Dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) tersebut, KPK menyita uang dolar Singapura yang nilainya kurang lebih Rp1 miliar rupiah.

Dari kronologis yang dicomot dari Kumparan.com, pada Kamis 5 Oktober 2017, Sudiwardono dan istrinya tiba di Jakarta dari Manado. Keduanya menginap di salah satu hotel di kawasan Pecenongan. Kamar dipesan atas nama orang lain.

Pada Jumat 6 Oktober 2017, sekitar pukul 23.15 WIB, Sudiwardono dan istrinya kembali ke hotel setelah acara makan malam. Saat berada di tangga darurat hotel, uang itu diserahkan Aditya Anugrah Moha (Didi). Diduga pemberian uang terkait perkara banding terdakwa Marlina Mona Siahaan (MMS), mantan Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong) dua periode, yang tak lain ialah ibu kandungnya Didi.

Setelahnya, KPK segera menangkap Didi di lobi hotel. Sementara hakim Sudi, diciduk di kamar hotel dengan barang bukti di kamar, berupa uang 30 ribu dolar Singapura dalam amplop putih, dan 23 ribu dolar Singapura dalam amplop cokelat yang diketahui adalah sisa pemberian sebelumnya.

Selain itu, KPK ikut mengamankan 11 ribu dolar Singapura di mobil Didi, yang mana uang tersebut bagian dari total komitmen fee secara keseluruhan. Sebelumnya pada Agustus lalu, telah diserahkan 60 ribu dolar Singapura.

Malam itu ada lima orang yang diamankan. Masing-masing Didi, hakim Sudi, inisial Y istrinya hakim, YDM ajudannya Didi, bersama M sopir pribadinya Didi.

Selanjutnya, Sabtu 7 Oktober 2017, sejak dini hari sampai sore, para tersangka menjalani pemeriksaan. Sekitar pukul 20.00 WIB, KPK mengumumkan status tersangka terhadap hakim Sudi dan Didi.

Kasus OTT terhadap Didi seketika heboh. Sabtu siang, hingga malam hari, beranda facebook saya ramai dengan status yang menganggap kasus OTT terhadap Didi, adalah bentuk kasih dan bakti terhadap orangtua.

Belum lama ini, ibunya Didi yang lebih dikenal dengan penggunaan inisial MMS, tersandung kasus korupsi dana Tunjangan Penghasilan Aparat Pemerintah Desa (TPAPD) Kabupaten Bolmong, tahun anggaran 2010, dengan kerugian negara kurang lebih Rp1,2 miliar.

MMS sendiri mantan Bupati Bolmong selama dua periode, 2001–2006 dan 2006-2011. Ketika divonis bersalah tahun ini, MMS masih duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulut. Putranya, Didi, tercatat pernah maju juga sebagai calon Bupati Bolmong pada 2011. Namun ia gagal, dan memilih maju menjadi anggota DPR RI dan terpilih untuk kedua kalinya pada 2014.

Sewaktu penetapan tersangka, MMS menuai dukungan dari sebagian masyarakat Bolmong. Ia dianggap dikriminalisasi, kendati koruptor lainnya dengan kasus yang sama dan sudah dihukum, bahkan ada yang telah bebas, tidak pernah menuai dukungan yang sama. Hanya MMS yang didukung mati-matian.

MMS menerima kemuliaan dengan dukungan 1000 lilin, juga 1000 tanda tangan, sampai aksi koin 1 miliar. Sebab MMS dikultuskan sebagai Bunda Pembaharuan, yang telah memekarkan Kabupaten Bolmong yang berdiri sejak 23 Maret 1954 itu, menjadi empat kabupaten dan satu kotamadya. Sejak 2007, awalnya yang dimekarkan Kota Kotamobagu dan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Tahun berikutnya, 2008, dimekarkan lagi menjadi Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).

Pemekaran tentunya dengan harapan agar wilayah Bolmong bisa berdikari menjadi provinsi. Namun hingga sekarang, belum ada kepastian jika Bolmong akan segera menjadi provinsi. Semoga saja bisa secepatnya, biar ada pengkultusan tokoh baru lagi. Dan jika tokoh-tokoh itu berhasil menjadikan Bolmong sebagai provinsi, kendati nantinya berbuat salah, pokoknya harus dibela. Sebab mereka tokoh yang berhasil mendirikan Provinsi Bolmong. Titik!

Layaknya jasa-jasa MMS, apa pun yang miring dan buruk terkait dengannya, jelas tetap menuai dukungan dari sebagian warga Bolmong. Bahkan pernah tercatat sebanyak 23 Organisasi masyarakat (Ormas), dan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), juga mahasiswa, yang melakukan aksi pembelaan terhadap MMS. Sakti betul!

Tidak sedikit pula, di medsos yang membuat tagar #SaveMMS dan bla bla lainnya, kala itu. Hingga saat kasus terciduknya putra MMS kemarin, tagar berbeda kembali mencuat di medsos. Kali ini untuk anaknya #SaveADM atau #SaveDidi dan bla bla lainnya.

Kebanyakan status yang bergulir di beranda saya, menyanjung tindakan yang diambil Didi. Menurut mereka Didi telah berbakti kepada ibunya, dan Tuhan tahu hal itu, meski salah di mata hukum.

Eh, ngoni jangan bawa-bawa nama Tuhan. Ngoni kira Tuhan termehek-mehek lia ini kasus model bagini?

Apalagi dalam aksi penyuapan, pakai kode “pengajian” segala.

Dicomot lagi dari Kumparan.com, menurut Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif, untuk mengamankan proses suap tersebut, Aditya dan Sudiwardono menggunakan kode “pengajian”. Jarang-jarang lho katanya kode seperti itu.

Jika para pemuja tokoh korup masih menunjukkan simpton atau gejala sindrom stockholm, mari kita selipkan sebongkah akal sehat dalam menilai status-status mereka di medsos.

Pertama, jika seandainya tindakan Didi sebagai upaya menyelamatkan ibunya, eh, kasusnya MMS itu korupsi! Mencuri uang rakyat dan telah divonis bersalah.

Kedua, ibu mana yang tega menyepakati tindakan anaknya, yang jelas salah dan berisiko besar? Apalagi anaknya itu berkeluarga? Ini berlaku jika memang sang ibu tahu apa yang akan anaknya perbuat. Jika tidak, tahu seberapa sakit hati sang ibu, ketika tahu nasib anaknya sekarang?

Ketiga, jika benar seorang anak ingin berbakti kepada ibunya, kenapa tidak memilih; mendampinginya selama proses sidang, kalau terbukti bersalah dan divonis maka diberi dorongan semangat, untuk bisa melaluinya dan menyadari kesalahannya. Anggaplah itu sebagai pencuci dosa di dunia, agar di akhirat ibunya tidak lagi disiksa api neraka.

Mungkin seperti itu bentuk bakti kepada ibu? Bukan malah menyalakan tungku api lagi di neraka.

Seperti halnya Natascha, para pemuja tokoh korup, selama bertahun-tahun didoktrin untuk patuh. Natascha selama dalam penyekapan kerap diteriaki kalimat: patuhi aku! Hampir setiap hari. Kendati sering mengalami perlakuan buruk, orang-orang seperti Natascha akan terkungkung dengan kata-kata itu. Sama seperti perilaku kebanyakan orang yang mencintai atau memuja tokoh yang sebenarnya salah satu terdakwa kasus koruptor.

Jika dukungan itu berasal dari kerabat, atau dari mereka yang memiliki ikatan emosional, masih bisa dianggap wajar, meski sebenarnya itu mengisyaratkan jika kesalahan ternyata memiliki batas toleransi. Bagi mereka yang pernah merasakan kebaikan MMS, balas budi satu-satunya adalah dengan tetap mendukungnya mati-matian. Padahal seharusnya, untuk kasus korupsi, tak ada secuil pun tempat untuk kata toleransi bertengger di sana.

Hal yang sama berlaku pula, kepada para perindu sosok Soeharto! Selama tiga dekade berkuasa, sebagian banyak masyarakat Indonesia, terhidu wabah sindrom stockholm. Yang terkena penyakit ini akan mengalami distorsi, dislokasi, dan disorientasi. Sederhananya orang-orang ini akan kesulitan menentukan jati diri, dan tidak lagi menggunakan akal sehat.

Rezim Orde Baru yang menelan tumbal jutaan nyawa manusia, kasus korupsi menggunung, dan manipulatif, tetap dipuja hingga sekarang.

Saya kira, sudah selayaknya Indonesia bikin museum koruptor. Pajang semua foto para koruptor di seluruh wilayah Indonesia di sana. Selain foto, taruh profil dan kasusnya. Biar jadi ingatan sejarah, bahwa koruptor itu menjijikkan. Bukan malah disanjung-sanjung.

Tapi sudahlah … menyamakan isi kepala kita dengan orang lain memang hal yang muskil. Kendati sebenarnya, sebagian banyak kita–manusia–dikaruniai akal sehat. Untuk apa coba? Untuk bisa membedakan yang mana bakti dan mana suap. Atau yang mana koruptor dan mana konduktor. Eh!

Saya terbahak-bahak ketika ada teman yang membuat status: apa hubungan bakti kepada orangtua dan penyuapan atau korupsi? Oh, mungkin hubungannya: kerja bakti dalam korupsi.

Ah, satu-satunya tagar yang layak untuk kasus ini: #SaveAkalSehat. Itu saja!

 

Oleh Kristianto Galuwo (Jurnalis asal Mongondow yang terjebak di Gorontalo). Sebelumnya tulisan ini diunggah di blog pribadinya Sigidad.

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

10 + five =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top