(Ti)ada Gula Merah, Gula Merah Atinggola…

Proses produksi Pahangga (Gula Aren) khas Gorontalo (Koleksi DeGorontalo.co)

 

Febriandy Abidin

(Jurnalis, Orang Atinggola)

“Gula merah Atinggola. Gula merah Atinggola. Dua puluh ribu satu kilo.”

Kalimat itu sudah direkam sebelumnya dan diteriakkan lewat pengeras suara. Dengan mengemudikan becak motor (Bentor) salah seorang pedagang di Kota Gorontalo, berkeliling menjual gula merah Atinggola.

Gula merah atau gula aren yang ia jual berasal dari Kecamatan Atinggola. Wilayah di penjuru Utara Gorontalo yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Utara.

Teriakan gula merah Atinggola dua puluh ribu satu kilo hampir setiap saat saya dengar. Dalam catatan pribadi, ini kejadian yang pertama sejak tahun 2006 saya berada di Kota Gorontalo, masyarakat di sini menjual gula merah secara keliling.

Yang menjadi pertanyaan saya selama ini, kenapa hanya gula merah Atinggola yang diperlakukan seperti itu. Padahal banyak daerah di sekitar Kota Gorontalo, seperti Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten Gorontalo, yang masyarakatnya memproduksi gula aren.

Aneh. Entah apa imajinasi si pedagang, sehingga ia dengan bangga menjual gula merah “Cap Atinggola”. Lebih aneh lagi saat ia menyebut identitas ke-Atinggola-an, sebagai pembeda gula aren milik daerah lain. Meski itu adalah strategi marketing yang dipakai si penjual, kalimat gula merah Atinggola seakan menjadi tren pedagang gula merah di Kota Gorontalo, untuk tahun 2017.

Mungkinkah gula merah Atinggola begitu spesial?

I-Eh..

Saya adalah laki-laki jomblo yang lahir di Kecamatan Atinggola. Sejak dini saya telah mengenal gula merah Atinggola. Pengenalan itu dimulai sejak proses pengambilan air nira yang kemudian dimasak berjam-jam dan menghasilkan gula merah Atinggola.

Pogangga

Dalam bahasa kami, gula merah Atinggola disebut “Pogangga”. Untuk penyebutan air nira yang sudah dipanaskan, kami mengatakan “Pinasu”. Manis rasanya. Saya sangat suka menyesap Pinasu, setelah berlama-lama berjemur sembari mencuri selendang bidadari  di sungai.

Saat itu, Pinasu dapat menghangatkan badan sekaligus menambah stamina. Saya mendapatkan Pinasu secara gratis, setiap kali  melewati tempat produksi Pogangga. Bahkan tanpa permisi. Sekilas ini nampak kurang ajar. Tapi di kampung saya, hal itu lazim adanya.

Secara umum, proses pembuatan Pogangga tak ada yang berbeda. Semua dimulai dari pengambilan air nira. Kemudian lewat proses penyaringan, pemasakan yang membutuhkan waktu lama dan proses pengerasan. Pada proses pengerasan, Pogangga yang setengah jadi, diaduk hingga mengeras. Dan tahap akhir adalah cetak.

Dalam catatan saya, semua proses itu tanpa bersentuhan dengan bahan kimia. Dimulai dari menampung air nira yang menggunakan bambu, kemudian proses penyaringan dengan memakai sabut kelapa, mengaduk Pogangga dengan kayu, bahkan proses pembakaran menggunakan kayu dan akhirnya dicetak pakai batok kelapa.

Ini menjadi penting. Air nira yang sudah mendidih atau gula aren setengah jadi, pasti menghasilkan banyak gelembung. Agar tak tumpah, masyarakat di Atinggola menggunakan kelapa parut untuk menurunkannya. Dengan teknik khusus yang didapat secara turun-temurun dari moyang, mereka bisa melakukannya.

Saya pernah menemui pembuat Pogangga di luar Atinggola. Mereka menggunakan sabun sebagai bahan penurun gelembung.

Mungkinkah itu yang menjadi pembeda Pogangga dengan gula merah asal daerah lain? Ini hanya dugaan saya.

Namun sayang, tradisi membuat Pogangga mulai ditinggalkan pemuda di sana, termasuk saya sendiri. Kami enggan membuat Pogangga dan lebih suka membuat puisi. Bahkan para orang tua pun, tak mau menurunkan ilmunya. Mereka menginginkan kami bekerja di industri besar perusak lingkungan. Industri pembunuh pohon-pohon aren. Atau pegawai negeri sipil, polisi maupun TNI.

“Jangan ikuti jejak kami. Susah. Kalian harus sekolah dan bekerja lebih baik,” itulah sedikit kalimat yang sering keluar dari mulut para pembuat Pogangga.

Produksi Pogangga juga semikin menurun. Banyak air nira yang beralih fungsi menjadi Saguer.  Tuak khas para dewa   Gorontalo

Selain itu, tanah tempat tumbuhnya pohon aren sudah mulai habis. Dahulu banyak pohon aren yang tumbuh liar di hutan. Masyarakat bebas memanen air nira, secara bergantian. Entah dijadikan Tuak, Pogangga atau Cuka. (*)

BACA OLO NAPA SOB:

Leave a Reply

11 + 12 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top