You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Tumbilotohe, Api Perpisahan dan Malam Seribu Bulan

Tumbilotohe, Api Perpisahan dan Malam Seribu Bulan

Dua orang tengah bermain api pada perayaan Tumbilotohe di Kota Gorontalo (DG/Syam Terrajana)
Dua orang tengah bermain api pada perayaan Tumbilotohe di Kota Gorontalo (DG/Syam Terrajana)

DeGorontalo – Api di sumbu -sumbu lampu botol berjajar terhampar, berkedip-kedip tertiup angin. Cahaya -cahaya menari di pekarangan rumah, sepanjang jalan bahkan di tengah hamparan sawah..

Tumbilotohe atau malam pasang lampu, adalah bentuk ekspresi religius orang Gorontalo dalam memaknai dan menghargai bulan suci Ramadan.

Tradisi ini disambut gegap gempita. Tidak tanggung-tanggung, Pemerintah provinsi Gorontalo mengucurkan sedikitnya 8000 liter minyak tanah sebagai bahan bakar penerang.

Selain menggunakan lampu minyak, ada juga warga yang menggunakan lampu listrik yang dirangkai pada sebatang bambu utuh, dan dijulurkan ke jalan, hingga membentuk semacam terowongan cahaya berwarna -warni. Pemandangan ini, antar alain dapat dinikmati di Desa Talango dan Oluhuta Utara, Kabila, Kabupaten Bone Bolango.

BACA JUGA: 

Sejumlah lokasi disiapkan dan ditata sedemikian rupa untuk menarik pengunjung. Di lapangan Ipot Tapa, Kabupaten Bone Bolango, sedikitnya 3000 botol minyak tanah dihamparkan ke tanah lapang.

Pemandangan serupa dapat dijumpai di situs bersejarah, dermaga pendaratan pesawat Amphipi yang pernah ditumpangi presiden RI, Soekarno , desa Iluta, Kabupaten Gorontalo. Ribuan lampu dipajang di atas air, refleksi cahayanya terlihat indah.

Tak mau ketinggalan, Universitas Negeri Gorontalo juga menghiasi lapangan rektorat dengan 3000 lampu.

Lampu -lampu api mulai dinyalakan pada malam kedua puluh tujuh Ramadan, malam ganjil yang diyakini malam Lailatul Qadar; malam penuh kemuliaan, yang lebih baik dari seribu bulan, dimana dosa-dosa manusia diampuni. Pada masa lalu, Api dinyalakan untuk menerangi jalan menuju surau dan Masjid.

Seiring perkembangan zaman, nilai dari tradisi Tumbilotohe ikut mengalami pergeseran. Jenis lampu yang digunakan juga sudah berbeda, kebanyakan menggunakan lampu botol berbahan bakar minyak tanah.

Hari ini banyak warga yang terjebak pada perayaan seremonial belaka, berlomba memasang lampu sebanyak-banyaknya. Sementara masjid sepi, ditinggalkan Jamaah.“Itulah yang terjadi hari ini” ujar Shafwan Ali, tokoh agama Gorontalo.

 

 

(Visited 431 times, 4 visits today)
Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

14 − 11 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top