You are here
Home > Gorontalopedia > Feature > Umar, Suku Bajo, dan Hutan Mangrove

Umar, Suku Bajo, dan Hutan Mangrove

Warga Desa Torosiaje yang tergabung dalam Kelompok Sadar Lingkungan - Paddakauang melakukan penanaman bibit mangrove (Degorontalo/Rivol Paino)
Warga Desa Torosiaje yang tergabung dalam Kelompok Sadar Lingkungan – Paddakauang melakukan penanaman bibit mangrove (Degorontalo/Rivol Paino)

DEGORONTALO – Siang itu, awan mendung  mulai menggantung di langit Desa Torosiaje Jaya, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo (22/06). Langit mulai bergemuruh, tapi  tidak memadamkan semangat masyarakat yang tergabung di Kelompok Sadar Lingkungan (KSL) – Paddakauang untuk melakukan penanaman pohon mangrove.

Sekitar 25 orang, yang terdiri dari usia dewasa hingga anak-anak, turut berpartisipasi dalam aksi penanaman tersebut.

Bermandi air hujandan lumpur  yang senantiasa melapisi kaki-kaki mereka, tidak serta merta membuat aksi itu terhenti. Hingga pada akhirnya, sekitar 16.000 bibit mangrove berhasil ditanam di atas lahan pesisir pantai Desa Torosiaje Jaya, dengan besaran mencapai hampir 2 hektar.

Umar Pasandre, Manajer Program dari aksi penanaman tersebut menjelaskan, aksi penanaman yang mereka lakukan barulah tahap pertama dari beberapa rangkaian aksi selanjutnya. “Hari ini kita baru menanam sebanyak 16.000 bibit mangrove dari 85.000 bibit yang direncanakan,” ucap pria yang juga menjabat sebagai ketua KSL – Paddakauang.

Belum lama ini, Kelompok Sadar Lingkungan – Paddakauang berhasil menerima bantuan dana hibah skala kecil Mangrove For The Future. Oleh karenanya, tiap-tiap lembaga yang ikut serta di dalam program tersebut, diharuskan agar bisa melakukan rehabilitasi hutan mangrove ataupun pemanfaatan pohon mangrove tanpa harus merusaknya hingga kampanye penyadaran pentingnya hutan mangrove dalam ekosistem alam.

“Setelah ini, kita akan melakukan penanaman lagi tidak jauh dari lokasi yang sekarang. Ada beberapa jenis pohon mangrove yang akan kita tanam, beberapa diantaranya masih dalam tahap pembibitan,” jelas Umar.

Sore itu, setelah selesai proses penanaman, di atas sebuah pondok tak jauh dari lokasi, masyarakat mulai beristirahat sejenak. Tak lama kemudian, Umar terlihat sedikit berdiskusi dengan masyarakat perihal rencana lanjutan dari aksi yang mereka lakukan.

Setelah menyepakati hasil diskusi, ditemani rintik hujan yang masih turun, satu-persatu di antara mereka mulai berpulang ke rumahnya masing-masing.

Suku Bajo dan Hutan Mangrove

Umar Pasandre (Courtesy Umar Pasandre)
Umar Pasandre (Courtesy Umar Pasandre)

Bertempat di rumahnya yang sederhana, kepada degorontalo.co Umar mulai bercerita, mengenai riwayat  Suku Bajo asli penghuni Desa Torosiaje Jaya.

Menurutnya, Suku Bajo berasal dari Johor, Malaysia, di abad 17. Namun, karena situasi politik yang kacau, masyarakat Bajo mulai pergi bergerilya kemana-mana, mulai dari Kalimantan (Borneo), Malaysia, Filipina, Nusa Tenggara, Sumatera, hingga Sulawesi.

Di Indonesia sendiri, ada beberapa kawasan yang mengindikasikan adanya Suku Bajo. Diantaranya adalah: Tanjung Sibajau di Kepulauan Simeuleue (Aceh), Bajau Pela’u (Kalimantan Timur), Labuan Bajau di Teluk Bima (Nusa Tengara Timur), Kima Bajo, Talawan Bajo, Labuan Bajo Pagimana, Bajau Togian, dan Labuan Bajo Ampana (Sulawesi Tengah), Bajo Langara Papeda Manui (Kendari, Sulawesi Tenggara),  Bajo Tumpaan dan Bajo Nain (Sulawesi Utara), Kabupaten Wajo (Sulawesi Selatan), hingga Labuan Bajo Tilamuta dan Bajo Torosiaje (Gorontalo).

Umar menjelaskan, Orang Bajo memang orang laut, mulai dari lahir sampai meninggal, mereka ada di laut. “Seorang bayi laki-laki yang lahir dimandikan dengan air laut oleh bapaknya agar ia lebih mengenal dunianya, yaitu dunia laut. Jika seorang bayi perempuan yang lahir, ibunya akan menempatkan tali pusar pada mulut bayi agar kelak ia hidup mandiri. Sejak lahir sampai akhir hayat, mereka adalah bagian dari laut,” katanya.

Selain hasil laut sebagai sumber penghidupannya, orang Bajo juga ikut mengambil peran dalam pemanfaatan sumber daya alam yang ada di daratan. Oleh karenanya, Orang Bajo tidak asing dengan tetumbuhan yang ada, terkhusus, tanaman Mangrove.

“Dulu, sekitar tahun 70an, kami, orang-orang Bajo seringkali memanfaatkan kayu mangrove. Kayu mangrove biasa dimanfaatkan untuk membangun rumah-rumah, hingga kebutuhan memasak di dapur. Ini dikarenakan tidak adanya kayu-kayu lain.”

Hal tersebut berlangsung berpuluh-puluh tahun, hingga pada akhirnya, kecemasan Umar mulai datang sekitar 10 tahun yang lalu. Dirinya melihat sendiri, hutan mangrove yang ada di pesisir pantai Torosiaje serta pulau-pulau sekitarnya, berangsur-angsur semakin musnah. Kondisi ini juga diperparah dengan keberadaan ikan-ikan sebagai mata pencaharian mereka mulai ikut menghilang.

“Waktu itu, kita biasa mencari ikan hanya di sekitar bibir pantai. Sekarang, kita harus pergi jauh ke tengah lautan untuk bisa mendapatkan ikan. Ini juga ditambah dengan banyaknya pencemaran limbah manusia, dan juga tambang,” jelas Umar.

Kurangnya pengetahuan soal hutan mangrove, menjadikan orang Bajo memanfaatkan keberadaan hutan mangrove dengan cara yang tidak ramah lingkungan.

Tahun 2001, Umar tertarik mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Dalam pelatihan itu, ia belajar banyak cara melestarikan hutan mangrove. Hasil pelatihannya, disebarkan kepada keluarga, tetangga, dan nelayan di Desa Torosiaje.

“Waktu itu, tahun 2004, ada program dari pemerintah daerah, yaitu program Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Dari situ, saya mulai aktif di mangrove,” cerita pria yang kesehariannya berprofesi sebagai nelayan dan tukang kayu ini.

Berawal dari banyaknya program serta kegiatan-kegiatan bertemakan rehabilitasi mangrove di Torosiaje, membuat masyarakat setempat (Suku Bajo) mulai tertarik juga untuk menjaga keberadaan hutan mangrove.

Desa Torosiaje yang berdiri di atas laut Gorontalo. (Degorontalo/Geril Dwira)
Desa Torosiaje Laut yang berdiri di atas Teluk Tomini, Gorontalo. (Degorontalo/Geril Dwira)

Dengan semangat yang masih menggebu-gebu, di akhir tahun 2009, Umar berinisiatif mendirikan Kelompok Sadar Lingkungan – Paddakauang di desanya. Kelompok ini beranggotakan warga Desa Torosiaje, dengan fokus kegiatan utamanya adalah, menyelamatkan dan melestarikan hutan mangrove yang semakin terancam keberadaannya.

Namun begitu, niat baik pria dengan 3 orang putri ini tidak langsung berjalan mulus. Ia berjuang sendiri untuk mengajak berdialog kerabat serta tetangganya tentang betapa pentingnya keberadaan hutan mangrove yang ada di desa mereka.

“Tidak selamanya kegiatan kami berjalan baik, tantangan itu masih banyak. Masih banyak kepentingan-kepentingan pribadi masyarakat kita, selain itu adanya kecemburuan sosial juga menjadi masalah bagi kita,” keluh Umar.

Meski demikian, pria kelahiran tahun 1969 ini tidak putus asa. Dirinya tetap melakukan pembibitan dan penanaman mangrove sambil tetap berupaya untuk memberikan pemahaman kepada warga. Hasilnya, hutan mangrove tak kurang seluas 109 hektar mulai terbentuk di Desa Torosiaje.

Perihal kata “Paddakauang” yang ada di nama kelompok yang ia dirikan, Umar punya ceritanya sendiri. “Kata Paddakauang itu artinya adalah kebersamaan. Selain itu bisa juga diartikan sebagai gotong-royong, persatuan, maupun satu hati. Intinya adalah, menyatukan semuanya. Kata Paddakauang itu mempunyai nilai yang tinggi dalam bahasa Bajo,” kata Umar.

“Visi-misinya, bagaimana masyarakat punya kontribusi terhadap lingkungan, bagaimana mereka bisa memanfaatkan sumber daya yang ada dengan cara yang ramah lingkungan, pemanfaatan wilayah pesisir secara berkelanjutan, serta bagaimana agar regenarasi kedepannya bisa melaukakan hal yang sama seperti kita,” tambahnya.

Selain itu, untuk memperkuat upayanya, Umar mendorong agar pemerintah desa bisa mengeluarkan peraturan desa tentang kelestarian hutan mangrove.

Usulannya antara lain, melarang warga Desa Torosiaje mengambil atau menebang hutan mangrove, melarang pengambilan terumbu karang, dan melarang penangkapan ikan dengan menggunakan bom.

Sedang sanksi yang diusulkannya adalah, dijatuhkannya sanksi adat kepada orang Bajo yang melanggar aturan tersebut. Yakni, mengusir bagi mereka yang melanggar agar keluar dari Desa Torosiaje.

Berdasarkan data yang dirilis Sustainable Coastal and Livelihoods Management (Susclam), organisasi nirlaba bidang pelestarian di Teluk Tomini, dari tahun ke tahun luas hutan mangrove di pesisir teluk di Gorontalo itu terus menurun.

Pada tahun 1988, misalnya, luas hutan mangrove mencapai 14.777 hektar. Tahun 2001 menurun menjadi 13.188 hektar dan kini tinggal tersisa 8.872 hektar.

Salah satu sudut hutan mangrove yang ada di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo (Degorontalo/Geril Dwira)
Salah satu sudut hutan mangrove yang ada di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo (Degorontalo/Geril Dwira)

Menurut koordinator Susclam, Rahman Dako, penyebab utama penurunan luas hutan mangrove adalah alih fungsi hutan menjadi pertambakan. Perubahan alih fungsi ini sangat masif akibat lemahnya penegakan hukum dan rendahnya kesadaran masyarakat. Selain itu, faktor ekonomi turut melatarbelakangi maraknya alih fungsi hutan mangrove di Gorontalo.

Kini, dibantu dengan beberapa kawannya, Umar tetap merasa optimis agar bisa mengembalikan hutan mangrove yang ada di desanya. Merindukan banyaknya ikan-ikan yang hidup di sela-sela akar mangrove seperti masa kecilnya dulu.

“Menanam mangrove bukan hanya menanamnya secara langsung, tetapi menyadarkan masyarakat untuk melakukan penyelamatan mangrove, itu juga sebuah bentuk penanaman. Bukan menanam langsung ke tanah, tetapi menanam ke dalam hatinya dulu,” tutup Umar diakhir pembicaraan.

Sisa-sisa hujan masih terasa di langit Desa Torosiaje malam itu. Bersama hawa dingin serta suara serangga yang senantiasa menemani, Umar mulai pamit untuk beristirahat. Esok pagi, ia masih harus mengurus pekerjaannya yang lain disamping melakukan rehabilitasi hutan mangrove. Beralaskan karpet berwarna merah, ia terlelap bersama seorang istri dan tiga putrinya.

Tak lupa ia berdoa, “semoga setiap apa yang saya lakukan ini bisa bermanfaat bagi orang banyak.”

 

GERIL DWIRA

(Visited 324 times, 3 visits today)

Leave a Reply

7 − five =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top