You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Wahai Ibu Hamil Gorontalo, Membacalah Untuk Generasi Berkualitas

Wahai Ibu Hamil Gorontalo, Membacalah Untuk Generasi Berkualitas

program membaca untuk ibu hamil di Gorontalo (dok.Milastri Muzakkar)
program membaca untuk ibu hamil di Gorontalo (dok.Milastri Muzakkar)

 

Oleh: Milastri Muzakkar (Ketua Generasi Literat, Pendiri Perpustaman Limboto)

LIMA  belas ibu hamil dengan tenang duduk di kursi panjang, di teras depan Puskesmas Buhu, Tibawa. Wajah mereka tampak kaku, serius, tanpa ekspresi. Rata-rata wanita paru baya, sisanya masih berumuran belasan. Sebagian besar dari mereka datang dari Desa Olobua. Desa yang letaknya di pegunungan. Butuh sekitar satu jam dengan mengendarai ojeg untuk mereka sampai di Puskesmas ini.

Raut muka mereka sedikit berubah, seperti tampak bingung, melihat kedatangan kami dengan segala peratalan tulis-menulis. Setelah bersapa tegur dengan Koordinator Bidan setempat, aku dan Sabrina (Ina) , mulai menyapa para ibu hamil yang mulai bertambah dari jumlah sebelumnya. “Selamat pagi ibu-ibu, apa kabar hari ini?” aku memulai kegiatan fasilitasi. Sementara Ina sibuk menyiapkan properti yang akan digunakan. “Kami dari Generasi Literat, lembaga yang sedang fokus mengajak semua orang untuk membaca. Melalui program Sekolah Keliling, kami berusaha mendatangi yang jarang didatangi hehe… salah satunya ibu-ibu semua yang sedang kontrol di Puskesmas ini,” sambungku.

Untuk membangun “connecting” dengan para ibu, kegiatan dimulai dengan pendekatan menyenangkan. Para ibu diajak bernyanyi sambil bergoyang. Yah, ngitung-ngitung sambil senam hamil. Para Ibu tampak kaku dan sedikit malu. Mungkin karena bernyanyi sambil bergoyang masih diidentikkan dengan anak-anak. Bisa juga karena mereka telah lama tak bermain, terlalu banyak beban kehidupan yang harus mereka tanggung. Setelah mencoba beberapa kali, perlahan tapi pasti para Ibu mulai mengikuti lagu dan gerakanku meski sambil tertawa.

“Kapan terakhir kali Ibu membaca? Biar cuma baca buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)?” pertanyaan itu kulontarkan sebagai pengantar kegiatan inti, yaitu membaca.

Tak satu pun menjawab selain senyuman yang mengandung banyak arti. “Menurut Ibu, penting tidak membaca itu? Membaca apa saja,” tanyaku lagi.

Dan lagi-lagi pertanyaan ini dijawab dengan senyuman. Budaya patriarki begitu kuat “mendiamkan” perempuan.

Aku lalu mengajak para Ibu untuk membaca buku KIA yang sudah ada di tangan masing-masing. Buku KIA adalah buku wajib yang dibagikan oleh Rumah Sakit atau Posyandu tempat para ibu memeriksakan diri sejak masa kehamilan.

Penulis (tengah) sedang mengarhkan sejumlah ibu hamil pada sebuah program sekolah keliling (Dok. Milastri Muzakkar)
Penulis (tengah) sedang mengarhkan sejumlah ibu hamil pada sebuah program sekolah keliling (Dok. Milastri Muzakkar)

Di dalam buku itu terdapat grafik kesehatan ibu, anak, serta jadwal imunisasi yang biasanya diberi tanda centang oleh dokter atau bidan. Hanya itu isi buku KIA? Itu hanya salah satunya. Di dalamnya, juga banyak informasi tentang ibu dan anak yang dilengkapi dengan gambar. Tentang bagaimana merawat kesehatan ibu hamil sehari-hari, tanda bahaya kehamilan, ciri-ciri bayi akan lahir, cara menyusui yang benar, cara membuat MP-ASI, hingga cara mendidik dan merangsang perkembangan anak BALITA, dijelaskan di dalam buku KIA.

Sayangnya, sebagian besar Ibu tidak pernah membaca isi buku ini. Hanya membuka lembaran grafik kesehatan, seperti yang dijelaskan oleh Dokter. Dokter atau Bidan pun tak mengajak apalagi menegaskan ke pasien untuk menambah pengetahuan dengan membaca buku KIA, misalnya.

Lima belas menit telah berlalu. Para Ibu tampak selesai membaca. Aku dan Ina lalu membagikan potogan-potongan kertas, yang merupakan gambar jenis-jenis bahaya kehamilan. Secara berkelompok, para Ibu diajak menyusun potongan gambar itu lalu menuliskan jenis bahaya kehamilannya. Naluri kekanak-kanakan para Ibu akhirnya mulai tampak. Mereka begitu bersemangat menyusun gambar, hingga seorang Ibu tanpa sadar telah duduk melantai.

Padahal, sebelumnya, Ibu berbaju kuning itu tampak lesu dan sedikit kesakitan dengan perutnya yang cukup buncit. “Kalau sudah mau melahirkan, bilang-bilang ya Bu,” kataku sambil bercanda kepada sang Ibu.

Untuk membangun kepercayaan diri para Ibu, masing-masing kelompok diminta mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Ini juga bagian yang tidak mudah. Butuh sekitar sepuluh menit hingga akhirnya ada Ibu yang mau mewakili kelompoknya masing-masing. “Apakah ibu sudah tau apa saja penyebab dari bahaya kehamilan tadi?” tanyaku. Mereka menggeleng. “Apa Dokter atau Bidan sudah pernah menjelaskan ke Ibu?” sambungku untuk menyakinkan keadaan. Kebetulan di sampingku sudah berdiri Koordinator Bidan. Ibu Bidan pun diminta menjelaskan penyebab bahaya kehamilan serta solusinya. Dengan begini, terjadi integrasi antara kegiatan yang kami lakukan sejak tadi-mengajak para ibu membaca- dengan pelayanan yang memang semestinya diberikan oleh pusat-pusat kesehatan. Maklum, sebagian besar masyarakat kita sangat percaya kata dokter atau bidan.

“Jadi penting tidak membaca itu Bu?” pertanyaanku diawal kembali kulontarkan.

“Pentingggg….!” Jawab semuanya.

Begitulah gambaran kegiatan Sekolah Keliling yang kami lakukan di Generasi Literat (GL). GL sengaja didirikan untuk menggalakkan gerakan literasi di seluruh elemen masyarakat, salah satunya Ibu hamil dan Ibu BALITA. Mengapa Ibu hamil? Sebab di rahim merekalah akan lahir generasi-generasi pelanjut Bangsa Indonesia. Mereka yang dapat merencanakan, mengatur, dan mendidik terciptanya generasi terbaik. Generasi sehat, cerdas, dan berkarakter.

Lalu bagaimana bisa mencetak generasi terbaik jika hingga kini angka kematian Ibu (AKI) dan anak masih saja tinggi. Di Kabupaten Gorontalo sendiri, menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, angka kematian Ibu (AKI) tahun 2015 sekitar 20 kasus. Ini masih jauh dari target pencapaian MDGs yaitu 102/100.000 lahir hidup (Baca: Kompas). Salah satu penyebab tingginya AKI adalah ketidaktahuan dan belum terbangunnya kesadaran para Ibu mencari tahu tentang kesehatan dan resiko bahaya kehamilan.

Generasi Literat berusaha mengajak para Ibu—juga keluarga Ibu dan para pelaku kesehatan-untuk menjadikan aktifitas membaca sebagai bagian penting dan terintegrasi dalam program pemeriksaaan kehamilan. Tak mudah memang. Tapi harus dimulai sekarang. Dengan ibu berilmu dan sehat, akan lahir anak-anak yang cerdas dan berkualitas pula. (*)

 

(Visited 226 times, 1 visits today)

Leave a Reply

6 + sixteen =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top