You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Wajah Kebenaran

Wajah Kebenaran

pixabay.com

Oleh Tyo Mokoagow (Mahasiswa asal Kotamobagu yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Pasundan, Bandung)

Sampai hari ini dunia lebih mengakrabinya sebagai Voltaire, salah satu 125 nama pena François-Marie Arouet. Dari pena dan jemarinya terbit kritik runcing yang menelanjangi laku korup status quo masa itu. Karena dikemas secara satiris-jenaka, tidak jarang alamat kemarahan Voltaire membacanya dengan hati terhibur — yang membuat mereka tampak konyol di depan sejarah.

Salah satunya, dalam dongeng Zadig Ou La Destinee (1747), kita kenal pemuda rupawan baik hati. Zadig namanya. Dia gemar menelusuri nilai filsafat dan menyerap mulianya kebijaksanaan Zarathustra. Voltaire mengambil latar Babylonia untuk menyelundupkan sanggahan pada institusi politik-agama masyarakat Eropa saat itu (pola serupa dia lakukan tatkala membikin drama teatrikal Mahound).

Pada awal kisah, pembaca akan disuguhi kisah cinta tokoh utama pada Semira. Namun seorang kerabat salah satu menteri di kerajaan Babilonia hendak menjegal Zadig dari kekasihnya. Syahdan, dua orang asing diutus menculik Semira. Zadig tidak tinggal diam, dia ingin menyelamatkan cintanya setara dia merawat kebenaran dalam hatinya. Aksi heroik Zadig sukses melerai Semira dari ancaman bahaya, meski akhirnya, dia harus merelakan satu mata dimangsa anak panah kelaparan.

Apa yang terjadi kemudian? Sebuah kejutan: Semira justru jatuh ke pelukan Orkhan, sepupu si menteri. Ia mencampakkan sumpah setianya sehidup-semati pada Zadig; sebab ia amat benci orang buta.

Barangkali memang betul, takdir itu getir dan gemar berjudi dengan nasib baik manusia laiknya dalam mitologi Yunani.

Tentu saja tidak serupa kisah Sukra dari Kartasura, bukan ketampanan yang hendak direnggut dari wajah Zadig — meskipun memang sang anak panah terbenam di matanya–, lebih dari itu ialah kemanusiaan, sebuah harkat kehidupan yang tak bisa ditawar.

Wajah bukan satu-satunya yang melekat pada fisik manusia, tetapi bisakah orang dengan mudah mengenal dan mengingat seseorang tanpa wajah? Dalam sebuah film lama, seorang wanita tuna-netra perlu meraba kontur muka demi memastikan itu kekasihnya. Seolah keseluruhan identitas diri sudah cukup direpresentasikan oleh wajah.

“Apa yang terjadi bila muka seseorang muncul di hadapan kita?”, tanya Emmanuel Levinas dalam Totalite et Infini (1961). Filsuf Perancis itu membandingkan fasade, bagian muka yang menghiasi arsitektural gedung, yang memancarkan pesona mitosnya tanpa membuka rahasia dalam gedung. Wajah adalah kebalikannya. Seseorang menampakkan diri serempak bersama segala yang tercandrai maupun tak tercandrai lewat wajahnya.

Levinas bersikeras membuktikan situasi kunci pertemuan dengan “yang-lain” (L’autre), yakni adanya desakan himbauan mutlak yang sublim dari wajah orang itu hingga memasung diri kita dalam ketidaberdayaan, himbauan etis yang mendahului segala kuasa diri atas pertimbangan rasio dan segenap kategori moral: “jangan bunuh saya”.

Levinas agaknya mau bilang, momen etis lebih dahulu ketimbang kesadaran eksistensial; etika mendahului ontologi (dengan itu, dia mengukuhkan fenomenologinya sebagai otokritik untuk Heidegger).

Tapi dari manakah muncul himbauan itu? “Jangan bunuh saya” adalah kata-kata yang tanpa bahasa, sublim, juga tidak hadir dari ujaran orang lain dan bukan dari udara kosong. Bagi Levinas, ini disebut epifani atau tajjali dalam tassawuf Ibnu Arabi, penampakan Sang Ilahi. Dalam muka tampak yang Tak-Terhingga; universalitas hadir dalam tiap partikularitas.

Pertemuan dengan “yang-lain” telah menyandera “aku” dalam sebuah momen etis tak tertangguhkan. Tatkala itu diam-diam tumbuh semacam tanggung jawab primordial dalam lubuk, hingga “aku” tanpa sadar menyahut: “aku akan melindungimu”. Lalu kita pun punya cukup alasan demi menjawab pertanyaan sang filsuf, “apa yang terjadi bila muka seseorang muncul di hadapan kita?”

Kita kemudian menerka, adakah di negeri para penyamun, himbauan etis itu (“jangan bunuh aku”) berkelabat barang sejenak di benak dua orang asing yang menyiram air keras ke muka “yang-lain”? Jika memaklumi filsafat Levinas, kita niscaya mengakui himbauan itu pun menghunjam nurani orang asing tersebut. Mungkin memang mereka dengar suara lirih menyeru dari bagian tersembunyi dalam diri yang entah apa, mereka terusik, dan terpaksa untuk sementara –atau selamanya?– mereka bungkam sisa-sisa kemanusiaan dalam diri.

Kita tidak bicara Zadig kali ini, melainkan Novel Baswedan. 11 April kemarin pukul 5 subuh, di depan masjid Al Ikhsan yang asyik menyenandungkan zikir, para jemaah kaget mendengar jerit kesakitan dari luar. Penyidik utama kasus megakorupsi E-KTP itu sudah terkapar dengan muka penuh cairan yang nyaris bikin buta.

Orang asing yang menyiram air keras itu tentu bukan orang yang sama dengan kisah Zadig dari Babylonia, Novel mungkin tidak membaca seluruh kisah Zarathustra dan Zadig bukan penyidik KPK, namun kita bakal temukan seutas benang merah antara keduanya: baik Zadig maupun Novel sama-sama mencintai kebenaran mulia, dan meski dianiaya luka pada wajah sampai kelopak netra, toh mereka berani menanggung hidup. Selama mata pada nurani belum memejam; selama masih ada cara, menyaksikan keadilan dari celah-celah gelap paling rahasia.

Barangkali yang ingin dibasmi hingga sekecil debu adalah kebenaran, Zadig dan Novel hanyalah perantaranya. Sehingga para penjagal tidak temukan ada Ilahi yang berepifani dari wajah “yang -lain”. Mereka lupa bahwa Tuhan pernah bersabda: “barang siapa yang membunuh satu manusia, setara dengan pembunuhan seluruh anak manusia (genosida)….” Maka, “jangan bunuh aku” sepadan bersama “jangan bantai umat manusia”. Penolakan atas himbauan mutlak itu bagi Levinas adalah pembunuhan, bukan secara fisik, tetapi etis.

Segalibnya anak yang murka bila ibu yang ia cinta lagi dihina. Seumpama Tuhan mengasihi siapa pun yang mencintai kekasihnya (musthad’afin). Benarkah mereka yang tulus cinta kebenaran, bakal berang bila melihat nasib yang menimpa Novel?

Soal itu bisa saja teramat sulit dibalas. Sebab kita pun tahu, senantiasa butuh pengorbanan besar buat mengungkapkan keadilan besar. Perlu keberanian untuk itu. Dan sebuah dongeng dua abad silam membuktikannya. Zadig berikhtiar mempertahankan nyala kebenaran dalam dirinya kendati dirajam nasib malang: ditinggal Semira, dikhianati, dituding mencuri hewan peliharaan kerajaan, dituduh menyebar syair propaganda, diburu karena mencintai ratu Astare, jadi budak hingga dianggap curang dalam sebuah sayembara. Takdir toh tidak selalu getir, hanya sedikit iseng. Pada akhirnya Zadig menemukan kebahagiaan yang dicarinya, yang mungkin tidak bakal ketemu bila menghindari petaka-petaka buruk.

Kita pun teringat Voltaire pada kata pengantar buku itu, “Zadig adalah karya yang mengungkapkan lebih dari yang diceritakan.” Tampaknya dia ingin bilang, orang jahat mungkin diciptakan demi menguji orang baik yang amat sedikit jumlahnya. Dan Novel, satu dari sedikit orang itu, mengatakan: “keberanian, tidak bakal mengurangi atau menambah usia seseorang barang sedetik pun.”

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

seven + six =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top