Wei! Siapa Yang Jaga Batembak Burung di Danau Limboto?

Burung penghuni danau Limboto (DeGorontalo/Syam Terrajana)
Burung penghuni danau Limboto (DeGorontalo/Syam Terrajana)

 

DEGORONTALO – Perburuan burung di Danau Limboto, yang terbentang di wilayah Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo kian marak. Dilakukan baik sendiri-sendiri maupun berkelompok.
“Itu terjadi setiap hari, paling ramai pada hari minggu atau hari libur,” ungkap Rosyid Azhar, fotografer yang intens memotret berbagai jenis burung di danau terbesar di Gorontalo.

Aktivitas perburuan biasanya berlangsung pada pagi dan sore hari.Ironisnya, banyak dari burung-burung hasil buruan itu yang statusnya dilindungi. misalkan bangau putih (Bubulcus ibis), dara laut (Sternidae), berbagai jenis elang, juga jenis gagajahan (Numenius spp). Ada yang bahkan dengan bangga memamerkan foto-foto hasil buruan itu melalui media sosial.

Perburuan itu, katanya, ada yang motifnya hanya untuk menyalurkan hobi dan bersenang-senang. Ada juga pemburu yang mengkonsumsi, bahkan memperjualbelikannya. Menurutnya, kebanyakan burung dilindungi yang mendiami Danau Limboto merupakan jenis burung air.

Selain ditembak, ada juga pemburu yang menggunakan umpan racun pestisida untuk menjerat burung-burung itu. Burung-burung yang mati diracun itu ada yang dijual kembali. Padahal menurutnya, burung yang mati akibat diracun berbahaya untuk dikonsumsi. Tidak hanya itu, Rosyid bersama komunitasnya, Masyarakat Fotografi Gorontalo (MFG) serta organisasi Burung Indonesia, mengidentifikasi sedikitnya 30 jenis burung migran yang singgah di danau itu.

Mereka datang dari berbagai benua di belahan bumi. Mereka terbang , menempuh jarak hingga maksimal 18 ribu kilometer dari negeri asalnya. Sebut saja Gagang bayam/ Black-winged Stilt (Himantopus Himantopus). Sebaran burung ini mulai dari Eropa sampai Afrika sub Sahara dan Madagaskar ke Timur sampai Asia tengah, India, Cina dan Taiwan.

Amsurya Warman Amsa, aktivis perhimpunan Burung Indonesia di Gorontalo mengatakan berbagai regulasi negara yang mengatur mengenai perburuan satwa itu sebenarnya sudah ada. Misalkan peraturan pemerintah nomor 7 tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa. Ada juga Undang -undang nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya.

Pada undang-undang yang terakhir disebut, katanya, bahkan sudah mengatur sanksi pidana bagi setiap orang yang sengaja perburuan satwa dilindungi, yakni pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak seratus juta rupiah.

“Tapi penegakan hukumnya masih lemah, ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi semua pihak termasuk warga masyarakat,” katanya pada sesi dialog interaktif di studio RRI Gorontalo, Kamis pagi (4/2) lalu .**

 

SYAM TERRAJANA

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

four × one =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top