Woka, Woka! Daun Dari Gorontalo Ini Laku Keras di Bali

Petani Daun Woka di Karangetang (DG/Syam Terrajana)
Petani Daun Woka di Karangetang (DG/Syam Terrajana)

DeGorontalo –  Sudah hampir setahun terakhir ini, Henok Mamuko, 47, punya kesibukan baru. Petani ladang di Desa Karangetang, Kecamatan Dengilo, Kabupaten Pohuwato ini menjadi ketua kelompok yang mengkoordinir 20 petani setempat.

Setiap hari, dia dan kelompoknya “berburu” daun pohon Woka di sekitar beranda hutan di desanya. Pohon menyerupai daun lontar ini sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomis apa pun.

Daun Woka atau yang dikenal Busung Sulawesi ini punya harga jual. Pasarnya sampai ke Bali. Di Pulau Dewata itu, daun ini dipakai sebagai pengganti Janur untuk aksesori berbagai upacara keagamaan, khususnya Hindu.

“Ada pengumpul besar yang datang menjemput tiap minggu dengan truk kontainer,” ujar Henok.

Satu lembar tunas daun ini dijual seharga 1.500-2.000 rupiah. Dalam satu bulan, rata-rata kelompok yang diketuai Henok bisa menjual hingga 25 ribu lembar daun Woka.

Meskipun sementara ini masih bersifat usaha sampingan, namun prospek baru ini kemudian membuat pemerintah desa membuat peraturan bersama warga, terutama untuk menjaga ketersediaan pasokan tetap ada.

Sebab tadinya, banyak petani yang menebang langsung pohon Woka hanya untuk mendapatkan daunnya,

“Sekarang sudah tidak boleh lagi menebang,” ujar Simon Panamba, kepala Desa Karangetang kepada DeGorontalo, baru-baru ini.

BACA JUGA:

Desa Karangetang dihuni oleh sekitar 600 jiwa dengan 300 kepala keluarga.

Kini, pohon ini dijaga baik-baik. Warga kini hanya diperkenankan mencungkilnya dengan galah yang diselipkan pisau. Pohon Woka juga dikenal produktif, tunas mudanya tumbuh hanya dalam dua minggu setelah dipanen.

Pada setiap pohon Woka, warga rata-rata bisa mendapatkan 2-3 ujung tunas.

Bisnis baru ini turut menjadi perhatian Burung Indonesia, organisasi lingkungan yang memiliki proyek restorasi ekosistem di hutan Paguat-Popayato yang turut menjadi beranda Desa Karangetang.

Jabir Samsuddin, pendamping Desa Karangetang dari Organisasi Burung Indonesia mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan alur bisnis yang lebih adil, berkelanjutan dan berperspektif lingkungan bagi petani penjual Daun Woka.

Sebab menurutnya sejauh ini, banyak warga yang belum tahu persis alur pasar yang sementara ini masih dikuasai oleh para pengumpul besar.

“Kami membayangkan, terjadi jalur pasar yang langsung antara petani dengan pihak pembeli di Bali,” katanya.

Skema ini kini tengah dirancang melalui Kesepakatan Pelestarian Alam Desa (KPAD), wadah yang dibentuk Burung Indonesia untuk mengembangkan potensi ekonomi berbasis sumber daya alam yang ramah lingkungan.

Sementara itu Bupati Pohuwato, Syarief Mbuinga mengaku juga baru tahu mengenai potensi baru di daerahnya itu.

“Sejauh ini saya hanya tahu dari banyak pihak, ada daun Sulawesi yang banyak diekspor ke Bali, tapi tidak tahu, ternyata daun itu ada di sini,” akunya.

Dia meminta agar peluang ini dapat didukung pendanaannya melalui anggaran pendapatan dan belanja desa yang menurutnya cukup besar. Rata-rata berkisar 1,2-1,6 miliar rupiah per desa.

 

SYAM TERRAJANA

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Tulisan saya lainnya dapat disimak di kawansyam.com. Saya dapat dihubungi di syam.terrajana@gmail.com.

Leave a Reply

five + ten =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top