You are here
Home > Bumi Manusia > “Working Class Heroes” Muka Serikat Buruh di Dua Negara

“Working Class Heroes” Muka Serikat Buruh di Dua Negara

 

Seorang aktivis buruh Gorontalo saat diskusi usai pemutaran film "Working Class Heroes" yang digelar AJI Kota Gorontalo, Desember 2013 lalu (dok.DeGorontalo)
Seorang aktivis buruh Gorontalo saat diskusi usai pemutaran film “Working Class Heroes” yang digelar AJI Kota Gorontalo, Desember 2013 lalu (dok.DeGorontalo)

DEGORONTALO- “Buruh berani mempertaruhkan nyawanya untuk memerdekakan bangsa ini. Buruh meletakkan kemuliaannya untuk bangsa ini, merdeka sehingga bisa memberikan kesejahteraan buat rakyatnya,” suara Said Iqbal memekik serak.

Said Iqbal, adalah Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), .adalah seorang Insinyur Ekonomi dari Universitas Indonesia yang juga menjabat sebagai Presiden Konfederasi KSPI.

Di dalam film ini, perhatian tertuju kepada dirinya, yang memimpin aksi mogok puluhan ribu pekerja di kawasan industri dan penutupan jalan tol demi menuntut kenaikan upah, pembatasan outsourcing dan pelaksanaan jaminan sosial.

Dan sebagai hasilnya, para pekerja mendapat kenaikan upah minimum, jaminan kesehatan, serta jaminan pensiun.

Di benua lain nun di sana, Igor Karel Diaz, ketua serikat pekerja tambang Sintracarbón di Kolombia, juga turut serta dalam hal memperjuangkan hak-hak para pekerja di sebuah pabrik tambang batu bara terbesar di dunia, Cerrejón.

Ia dengan berani memperjuangkan hak-hak para pekerja, meski di bawah ancaman dan tekanan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai kegiatan yang ia lakukan.

Kenaikan upah, penghapusan Outsourcing, keamanan serta jaminan kesehatan para pekerja adalah sebagian hal yang ia perjuangkan bersama organisasi serikat pekerja yang ia pimpin.

Hingga pada akhirnya ia dapat melumpuhkan Cerrejón dengan melakukan aksi mogok kerja selama 32 hari. Selain dua sosok kepemimpinan serikat buruh, film ini juga menceritakan kisah dua orang pekerja, Mardania Anggraini (Indonesia) dan Luis Gómez (Kolombia).

Mardania Anggraini adalah seorang pekerja pabrik di Toshiba, Indonesia. Dalam kisahnya, ia menceritakan sudah bekerja selama 10 tahun untuk Toshiba, namun tetap tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.

Ia juga bercerita tentang dirinya yang tidak bisa melihat pertumbuhan dua orang anaknya dikarenakan ia tidak memiliki uang untuk menghidupi mereka. Selain itu, ia juga telah bercerai, karena suaminya tidak sanggup menerima kondisi bahwa ia berstatus pegawai tetap, sedangkan suaminya tidak.

Berbeda dengan kisah Mardania Anggraini, Luis Gómez adalah mantan pekerja di pertambangan batu bara Cerrejón. Ia didiagnosa mengidap penyakit silicosis dan hernia dikarenakan pekerjaannya di tambang terdahulu.

Bukan hanya dirinya, kurang lebih seribu mantan pekerja di Cerrejón, juga mengidap penyakit terkait pekerjaan. Namun di sisi lain, pihak Cerrejón menyangkal bahwa semua itu adalah akibat dari pekerjaan di tambang.

Kini Luis sudah tidak lagi bekerja di tambang, ia kesulitan tiap kali menjalani aktivitas sehari-hari dikarenakan penyakit ini. Luis juga merupakan anggota serikat pekerja tambang Sintracarbón, ia bersama organisasinya dengan konsisten tetap memperjuangkan hak-hak para pekerja di Kolombia.

Berkat generasi baru para pemimpin serikat, kini para pekerja di indonesia dan Kolombia makin terorganisir.

Kisah pahit dan terlihat manis secuplik dari kedua pemimpin serikat buruh di Indonesia dan Kolombia itu divisualkan dalam film dokumenter “Working Class Heroes” garapan dari Huub Ruijgrok dan Arno van Beest dari World Report bekerja sama dengan FNV Mondiaal.

Dengan menggunakan bahasa Belanda, Indonesia, Inggris dan Spanyol, film ini telah ditayangkan pertama kali di Balie, Amsterdam tanggal 16 Mei 2013 di hadapan Dutch Minister for Trade and Development, dan ditayangkan di ILO(International Labour Organization) Cinema Geneva tanggal 11 Juni 2013. juga berbagai tempat di Indonesia, termasuk Kota Gorontalo.

Film berdurasi 56 menit ini menayangkan dinamika ketenagakerjaaan Indonesia dan Kolombia, kedua Negara ekonomi yang pesat dan produksinya meningkat. Namun sangat lamban memenuhi hak para pekerja.

Lewat film ini, penonton diajak betapa pentingnya sebuah serikat pekerja sebagai jalan untuk menuntut hak para buruh. Kondisi yang buruk bagi pekerja dapat diubah hanya melalui penyadaran para buruh dan keberadaan serikat buruh sangat dibutuhkan untuk memenuhi hak bersama antara buruh dan perusahaan dalam menyepakati (PKB)Perjanjian Kerja Bersama agar terbangun hubungan yang baik antara keduanya.

Dalam film ini terlihat bahwa setelah kerja sama dibangun, pada prakteknya masih banyak ketidaksesuaian terjadi antara serikat pekerja dengan perusahaan. Bahkan perusahaan juga menghalang-halangi pembentukan serikat pekerja, karena serikat pekerja dianggap menjadi ancaman yang merugikan perusahaan.

Di sisi lain hak pekerja ditekan dan tidak ada sebuah jaminan yang jelas.

Namun film ini sebenarnya akan terlihat jelas membuka mata penonton. Jika, membandingkan perjuangan serikat buruh tambang yang ada di Papua PT Freeport Indonesia atau serikat buruh tambang yang ada di Kalimantan.

Karena apa yang ditayangkan oleh Huub Ruijgrok dan Arno van Beest mencoba membandingkan sesuatu yang sangat jelas jauh berbeda perjuangan di antara kedua serikat buruh.

Dengan resiko yang berbeda, terlihat serikat pekerja perusahaan tambang di Kolombia mengalami banyak kecaman yang bisa mengorbankan nyawa, keluarga, istri, anak dari para anggota serikat. Bahkan angka kematian di Kolombia sangat mengejutkan. Di tahun terakhir, 32 anggota serikat dibunuh.

Ada suatu ketegangan antara serikat buruh Sintracarbon dan perusahaan, yang ditutupi oleh Cerrejon. Seperti dalam cerita wakil presiden Cerrejon sebelum didirikannya perusahaan pertambangan, mereka adalah pengusaha yang sangat bertanggung jawab memenuhi hak para pekerja. Perusahaan melaksanakan standar pedoman yang ada untuk menjalin hubungan dengan serikat dan pekerja.

Namun cerita ini dibantah oleh pemimpin serikat Sintracarbon, bahwa cerita perusahaan yang bertanggung jawab hanya sebuah pernyataan saja, tapi tak sesuai dengan kenyataan yang ada. Ini dibuktikan dengan cerita Luis Gomes yang sudah 28 tahun bekerja di cerrejon sebagai sopir kenderaan yang berlapis baja.

Oleh dokter, Luis divonis mengidap penyakit debu halus tambang yang terhirup. Walau perusahaan memiliki tenaga kesehatan yang selalu memeriksa para pekerja, oleh tenaga kesehatan perusahaan penyakit Luis tidak ditemukan. Perusahaan berusaha menutupi penyebab penyakit.

Berbeda dengan di Indonesia pemimpin presiden buruh Said Iqbal diragukan oleh pengusaha untuk memperjuangkan hak buruh. Ini dikatakan olek ketua umum APINDO(Asosiasi Pengusaha Indonesia) Sofyan Wanandi, bahwa dia bisa berdialog dengan Said Iqbal namun tidak mempercayainya.

Bagi Sofyan, Iqbal dihadapannya sangat baik namun di belakang mempermainkannya. “Kami pengusaha tidak mau berpolitik” itulah yang ditegaskan oleh ketua umum APINDO pada akhir-akhir cerita.

Di ujung Film ini wajah Igor, pemimpin Sintracarbon terpampang keseriusan yang dia cita-citakan untuk perjuangan kelas pekerja. Dan terngianglah pertanyaan apakah Said Iqbal benar-benar memperjuangkan sebuah serikat pekerja atau justru ada keinginan lain yang dia perjuangkan. Atau mungkin, ini sebuah permainan kelas dalam “Working Class Heroes”?

 

RIVOL PAINO | GERIL DWIRA

 

(Visited 329 times, 3 visits today)
Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

four − three =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top