You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Wunungo; Tradisi Berbalut Spirit Religius

Wunungo; Tradisi Berbalut Spirit Religius

 

foto. Stenli Nipi
foto. Stenli Nipi

 

 (Oleh. Stenli Nipi (Penulis adalah Pengajar sekolah rakyat di Pohuwato Mahasiswa Pasca Sarjana Hukum Jayabaya Konsentrasi Tata Negara)

Jalan yang becek dan mati lampu tidak mengurungkan niat saya dan kawan” educareInstitute, untuk pergi menghadiri kegiatan niat para anak muda Buntulia Barat.

Kegiatan seperti ini sudah menjadi bagian spesial, yang amat ditunggu anak sekolahan mengisi waktu liburan tepat bulan suci Ramadhan ragam kegiatan turut menyemarakan agenda kamu Muslim sebagaimana bulan pensucian diri.

Pada dasarnya lokasi kegiatan bertema gema ramadhan di kecamatan  Duhiadaa itu tidak jauh dari tempat kami mendirikan sekolah ra’yati bunbar, sekolah yang saya dan kawan kawan buat untuk pendidikan bagi yang kurang mampu.  Alhamdulillah telah memiliki 28 siswa binaan.

Syukurlah, rintihan hujanpun ikut menemani malam suci ramadhan di desa Buntulia Barat, kamipun disambut oleh gelap gulita. Ternyata kegiatan itu lagi menanti pasokan listrik dan menunggu menyalanya lampu-lampu, memang soal pemadaman listrik didaerah kami terjadi secara fluktuatif, tanpa adanya info dan pemberitahuannya lebih awal, (walau pada 3 Juni 2016, Jokowi idaman rakyat itu telah meresmikan PLN-PLTG) kedatangannya memang sebagai jawaban janjinya terhadap kebutuhan listrik di Indonesia.

Ada beberapa ibu-ibu membuat saya terpana,  penuh tanya bercampur takjub. Ketika mereka para ibu memperdengarkan yang pelanggan khas. dengan Suatu alunan melodi bersyair yang memiliki ritme yang cukup berbeda dengan syair lagu jazz, pop,rock apalagi hip hop, yang lagi ngetrend di kalangan generasi abad ini.

Sempat kita dihebohkan dengan model langgam bacaan Quran baik versi, apalagi versi Sunda dan Jawa sebagai pengkultusan sejarah tua bangsa ini,. Namun sempat berfikir mencocokkan , yahhh… bisa jadi dikatakan lantunan syair itupulah berbentuk langgam juga.

Tidak tahan pada keingintahuan, saya memintakan kepada teman saya untuk mencari tahu apa nama “pementasan” itu. Motif langgamnya yang bernuansa khas dan menenangkan jiwa. Seperti teringat pembacaan kitab Sutasoma pada masyarakat Bali.

“Wunungo” atau sering juga disebut Wunungo-Sadela adalah tradisi menyanyikan syair-syair dalam bentuk pantun berbahasa Gorontalo (adapula yg mulai di Indonesia kan) yang di serap dari kita suci Alquran dan dibacakan oleh beberapa orang. Menurut salah satu informan saya,  tradisi ini sering di lantunkan pada acara tertentu dan moment tertentu, salah satunya acara kematian dan juga pada waktu bulan ramdhan, adapula ada pada kegiatan majelis taklim.

Sebagaimana Gorontalo punya budaya Modayango (tarian ritual pemujaan kepada pencipta).

Wunungo dengan keunikan sepertinya memiliki daya tarik akulturatif tersendiri, atau mungkin asimilatif dalam ragam perkawinan gaya budaya dan ataupun asosiasi budaya yang disematkan didalamnya pesan moril dan seruan serta perintah dalam hidup yang konsisten dalam teks teks suci agama (Islam)

Wonungo adalah cara  memahamI  sprit agama,  dipadu melodi lisan menggetarkan jiwa, bagi yang memahami isi kandungan setiap pesannya.

Ada yang memerkirakan  bahwa tradisi Wunungo sudah ada sejak abad antara 18-19 (mungkin ada penelitian lebih pasti dan akuratif) namun terlepas dari penempatan kedudukan historisnya, bisa dipastikan tradisi Wunongo yang syarat makna akan hilang.)

Tidak tersentuhnya lagi tradisi seperti Wonungo akan menjadikan keberadaan bangsa kehilangan rumah kebudayaan,  Bahkan punah ditelan waktu dan dilupakan tanpa bekas goresan.

indentitas budaya lokal memang mulai redup, bergeser secara perlahan. Kita perlu mengkhawatirkan hal ini. efek global media informasi sebagai wadah pertukaran budaya perlu disadur kembali dengan benar

Selain tanggung jawab bersama, sangat penting kehadiran pemangku kebijakan, untuk memproteksi dan bahkan menfilter arus media.

Wunungo sebagai tradisi harus jadi bagian dari kurikulum  pendidikan kita. Mahakarya dan keanggunan Wunungo,  seharusnya bisa diselamatkan disekolah sekolah formal. Sudah saatnya merawat tradisi dalam semangat keislaman.

Salah satu kutipan yang sempat saya catat dalam Wunungo-Sadela yakni:

“Wujudu kidamu baka dahaimu olipata
Wujudu baqa kidamu dahai olipatamu
Potabia po puasa todunia dila baka
Po puasa potabia dila baga to dunia”

Artinya Sifat” Allah jangan sampai lupa, sifat” Allah jangan sampai terlupakan..
Sembahyang dan berpuasalah di dunia tidak kekal, berpuasalah dan sembahyang tidak kekal di dunia”

Dan dilanjutkan pada pesan ayat-ayat suci Alquran yang disyariatkan dalam wunungo seperti suatu ikatan simetris spritualis yakni:
Al Quran di surah Al Baqarah:3 berbunyi “Mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rejeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”.

Al-Quran di surat Al-Baqarah ayat 183.
“Wahai orang orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu. agar kamu bertaqwa”.

Al quran di surah Al Baqarah :43 “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’”

Tentu syair itu berisi pesan tentang sebagaimana cara pandang Cak Nur, bahwa jati diri manusia sebagai ciptaan Tuhan, yang disematkan padanya suatu kekhasan sebagai makhluk suci dihadapan sang Khaliq. Dalam tradisi rasionalitas,kedudukan Tuhan sebagai causa prima yang mendahului (awal) pewujudan dari konsepsi alam semesta beserta isi di dalamnya. Salah satu jalan dan cara manusia mengevaluasi atas identitasnya sebagai ciptaan dengan jalan mendirikan sholat dan berpuasa. Merenovasi diri agar kembali pada kesucian yang disebut fitrah..

Akankah wunongo akan menjadi nisan sejarah atau menjadi prasasti tanpa makna? …
*Terimakasih bapak Darwin bulango dan lasmiati, kanda Jhon rauf, forum WA IKA KPMIP dan karang taruna buntulia barat kec. Duhiadaa, anak-anak sikola ra’yati yang mau berbagi waktu , berbagi cerita dan serta untuk berdiskusi,saya masih ingin belajar dari kalian.

(Visited 369 times, 7 visits today)
Syam Terrajana

Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

one × two =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top