“Papua Terluka, Gorontalo Juga Ikut Terluka,”

Doa bersama mahasiswa Papua di Gorontalo, usai menggelar aksi damai pada Selasa, 08/082017. (DG/Syam Terrajana)

DeGorontalo – Semua kepala tertunduk. Hanyut dalam doa yang diucapkan lirih. wajah-wajah  lelah.  Usai doa di depan asrama, salah seorang di antara mereka mengeluarkan uang puluhan ribu rupiah. ” Ini untuk beli sayur, kita makan, nasi su masak to?”

Pada Selasa siang ( 8/8/2017) yang nyaris mendung itu, seratusan mahasiswa Papua  di Gorontalo, baru saja pulang ke asrama usai  menggelar aksi damai.

Mereka menggelar long march, berjalan kaki beberapa kilometer dari Asrama Cendrawasih Papua   ke DPRD Kota Gorontalo. Meminta dukungan terkait penuntasan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua

BACA JUGA:

Aksi solidaritas ini digelar atas nama Asosiasi Mahasiwa Pegunungan Tengah Papua se Indonesia (AMPTPI) dan Komite Nasional Papua Barat (KNPB).

“ Kami minta dukungan kepada Pemerintah Gorontalo agar negara dapat mengadili pelaku pelanggaran HAM di Papua, yang berlangsung sejak 1961 hingga sekarang,“ ujar Delius Murib, salah satu koordinator aksi kepada DeGorontalo.

Menurut dia, pelbagai pelanggaran HAM di Papua mulai pemerkosaan hingga pembunuhan, hingga kini belum dituntaskan oleh pemerintah Indonesia

Aksi damai mahasiswa Papua di Gorontalo. (DG/Syam Terrajana

Pihaknya juga menyoroti kasus pelanggaran HAM terbaru di Papua, yakni penembakan warga oleh aparat Brimob, di Kampung Oneibo, Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai, 1 Agustus lalu.

Peristiwa itu menewaskan satu orang warga bernama Yulianus Pigai dan melukai sedikitnya 16 orang warga lain.

Selain itu, pihaknya juga menyatakan menolak tegas pembangunan markas Brimob dan pangkalan TNI /Polri di seluruh wilayah Papua. Juga menolak masuknya perusahaan dan transmigrasi ilegal ke seluruh wilayah Papua.

Aksi berjalan dengan tertib dan damai. Sementara itu, Hais Nusi, ketua komisi C DPRD Kota Gorontalo yang menerima massa aksi mengatakan pihaknya siap mendukung penuntasan berbagai kasus pelanggaran HAM di Papua.

Hal serupa disampaikan Wakil Wali Kota Gorontalo, Charles Budi Doku, yang turut menerima massa aksi di DPRD setempat.

“Kalau Papua terluka, Gorontalo juga ikut terluka,” ujarnya saat dihubungi terpisah.

Namun demikian, ke depan dirinya meminta agar mahasiswa Papua yang melakukan aksi agar lebih tertib, khususnya dalam hal penampilan.

“Ada satu pengunjuk rasa yang hanya pakai Koteka, Saya tahu itu adat di Papua, tapi adik-adik mahasiswa Papua tolong menyesuaikan diri, jangan dipakai di Gorontalo yang juga punya adat sendiri,” katanya. (*)

 

SYAM TERRAJANA

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

ten − 7 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top