Kalumba (Cerpen Jamil Massa)

Ilustrasi (Sumber: http://www.wirelady.com/mtgoatb.jpg)
Ilustrasi wirelady.com

PENGERAS suara di masjid kampung sudah dimatikan. Salat Isya telah berakhir. Aku bergegas mendekati sebatang pohon mangga kerdil di halaman rumah kosong di bagian Utara kampung kami. Aku celingak-celinguk sebentar, mengawasi keadaan sekitar, sebelum meletakkan ember bekas kaleng cat yang aku bawa. Ember berisi ampas kelapa. Di kampung kami, pada jam-jam seperti ini, yang aku cemaskan bukan makhluk berbentuk manusia.

Ember cat itu kemudian aku balikkan hingga ampas kelapa yang ada di dalamnya tumpah, tersebar tidak beraturan di bagian bawah batang pohon mangga. Menutupi tonjolan akar-akar pohon yang terlihat kurus dicekik kegersangan tanah.

Tak sampai dua menit pekerjaan itu selesai. Aku lalu kembali ke rumah kosong di mana seorang lelaki sudah menungguku. Ia masih dengan posisi sama seperti sebelum aku meninggalkannya, duduk selonjoran di lantai kamar dekat jendela sambil menyeruput segelas kopi instan dan menyandang sepucuk senapan angin.

“Sudah?” ia bertanya setelah meletakkan cangkir kopi. Aku mengangguk, lalu mengambil tempat tak jauh darinya untuk duduk.

Rumah itu masih terlihat baik meski telah tiga bulan tak berpenghuni. Di beberapa sudut dinding terlihat jaring laba-laba. Lantainya berdebu tebal, sehingga mengundang geli di kaki telanjang. Ruangan yang kami tempati adalah bilik persegi di sudut kiri depan rumah tersebut. Agaknya bilik itu adalah kamar tamu. Api kecil di pucuk sebatang lilin menyumbang sedikit cahaya. Ditambah sinar bulan sabit yang menerobos lewat lubang bekas kaca jendela. Melalui lubang yang sama, kami leluasa mengamati pohon mangga kerdil di halaman. Pohon mangga yang sudah diberi umpan.

“Siapa tadi namamu?” Lelaki itu bertanya kepadaku.

“Ismail,” jawabku.

“Baik, Ismail. Sekarang jelaskan lagi hewan apa yang sedang kita incar ini.”

“Tepatnya bukan hewan,” aku mengoreksi, “tapi jin yang mengambil bentuk sebagai kambing. Orang Gorontalo menyebutnya kalumba.”

Aku menggeser sedikit posisi duduk hingga lebih dekat kepadanya agar suaraku yang berupa bisikan bisa lebih jelas di telinganya.

“Berbeda dengan kambing kebanyakan, makhluk ini bertubuh lebih besar dan selalu berwarna putih. Kebanyakan orang yang pernah melihatnya bilang, makhluk ini suka berjalan mundur, atau bisa jadi itu satu-satunya cara ia berjalan. Kalumba hanya bisa melihat benda yang berada di belakangnya. Ia akan menekukkan kepalanya dan melihat benda, atau mangsanya, dengan mata yang merah lewat sela-sela di antara empat kakinya. Kalau kau sudah dilihatnya, kau takkan selamat. Cukup dengan terkena pancaran mata merah itu, kau akan mengalami sakit keras dan mati beberapa hari kemudian.”

Kamar itu kembali hening. Lelaki itu seolah tercenung. Mungkin memikirkan kata ‘mati’ yang barusan aku ucapkan.

“Menarik,” ujarnya beberapa saat kemudian, “tapi sepertinya kambing jadi-jadian yang kau maksud ini tidak akan bisa berkutik di ujung senapanku.” Di antara redup cahaya, aku bisa melihat ia mengacungkan senapan anginnya yang berlaras panjang dan berpopor cokelat tua. Sejenak aku teringat beberapa tokoh dalam film-film gangster Amerika.

“Lalu parutan kelapa itu?” Ia kembali bertanya.

“Umpan. Kalumba suka makan ampas kelapa.”

Lelaki itu menengok sebentar ke luar jendela. Mengawasi pohon mangga dan semak-semak di sekitarnya. Sepi, tak ia temukan apa pun di luar sana. Dari pohon mangga itu, sepi seperti menular ke segala penjuru kampung. Denyut nadi kampung kami seolah berhenti setiap selepas Isya. Saat pengeras suara mesjid dimatikan.

Lelaki itu muncul begitu saja di kampung kami dan memperkenalkan dirinya sebagai Pemburu. Penduduk kampung, termasuk aku, akhirnya cukup memanggilnya dengan sebutan itu.

“Sebenarnya berburu bukanlah pekerjaanku. Aku melakukannya hanya untuk bersenang-senang. Memang, sejauh ini aku baru berhasil membunuh seekor anak kucing, tapi aku yakin, suatu hari nanti aku akan jadi pemburu paling hebat di negeri ini.”

“Seekor anak kucing?”

“Benar. Kucing bodoh itu berjarak 20 meter dariku. Kutembak dengan senapan angin ini. Duabelas kali pompaan dan dor! Cukup satu peluru. Kucing itu kejang sebentar lalu mati. One shot, one kill!”

Si pemburu berhenti sejenak. Menyeruput kopi, kemudian mengelus-elus senapan angin di tangannya. “Herannya, ketika kabar tentang hasil kegiatan berburuku itu aku sebar di media sosial, malah banyak orang yang marah. Banyak yang protes. Sok jadi pembela hak binatang. Pejuang lingkungan. Puih!”

Di ruangan itu segalanya serba samar, tapi aku tak perlu melihat wajahnya untuk tahu kalau ia sedang kesal pada sesuatu yang tak begitu aku pahami.

“Kali ini, tidak akan ada yang marah kalau aku membunuh hewan ini. Aku akan menyebarkannya di internet. Jika ada yang protes, aku akan menyalahkan kalian. Karena kalianlah yang menyuruhku,” kata si Pemburu.

“Lebih tepatnya kau datang sendiri tanpa kami suruh,” Aku ingin mengucapkan kalimat itu, tapi aku batalkan. Malam ini akan sangat panjang, dan aku tak mau menghabiskannya dengan berdebat melawan si Pemburu sepanjang waktu.

Ia memang datang sendiri tanpa diminta penduduk kampung. Dua jam sebelum matahari terbenam ia telah muncul dari ujung kampung dengan jip merah terbuka yang dikendarainya sendiri. Kaus hitam, celana jeans, topi rimba dan senapan angin tak pernah lepas dari pundaknya. Ia mengaku datang setelah membaca berita di koran, tentang makhluk aneh yang sudah hampir setahun menyatroni kampung kami.

Kedatangannya membuat warga kampung setidaknya terpecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah orang-orang skeptis. Orang-orang yang ragu, bukan karena tak percaya kemampuan si pemburu, tapi tak percaya makhluk halus seperti kalumba bisa ditembus benda keras seperti peluru. Marjon, ketua karang taruna, dan Haji Saleh, salah seorang tetua kampung, termasuk dalam kelompok ini.

Kelompok kedua adalah orang-orang yang berharap si pemburu benar-benar bisa membunuh kalumba dan mengatasi persoalan mereka. Sementara kelompok ketiga adalah orang-orang yang sebenarnya ragu-ragu, tapi berpikir apa salahnya cara ini dicoba. Aku adalah bagian dari kelompok ketiga. Dengan sedikit imbalan, aku bersedia menerima ajakan si Pemburu untuk begadang menunggu kedatangan kalumba.

Menjadi pemandu pemburu gila yang ingin membunuh kalumba, kawan-kawanku menganggap aku telah kehilangan akal sehat. Mereka sempat membujukku untuk membatalkan perjanjian dengan si pemburu. Aku tahu, mereka hanya khawatir kepadaku. Dan di kampung ini, hanya mereka yang khawatir kepadaku.

Aku tak lagi punya ayah dan ibu yang bisa mengkhawatirkanku. Mereka meninggal terserang wabah beberapa bulan lalu. Wabah berupa diare dan panas tinggi yang melumpuhkan saraf. Hampir setahun lamanya kampung kami diserang wabah itu. Selain ayah dan ibuku, wabah itu telah merenggut hidup sekitar dua lusin orang, sebagian besar anak-anak.

Kemudian, aku lupa kapan tepatnya, suatu kali seorang warga mengaku melihat sosok seperti kambing putih berkeliaran di tengah malam, di bagian utara kampung yang berbatasan dengan hutan. Tepatnya di sekitar pohon mangga di halaman rumah Baba Idi.

Si empunya rumah adalah seorang lelaki paruh baya yang hidup berdua saja dengan istrinya. Sejauh yang aku ketahui dari orang-orang kampung, pasangan itu bukanlah penduduk asli. Mereka adalah pendatang dari luar provinsi. Memiliki enam anak dan sembilan cucu yang entah ada di mana.

Baba Idi berumur 62 tahun, sementara istrinya 57 tahun. Aku tahu karena aku membacanya di koran. Suatu kali, Baba Idi dan istrinya diseret warga ke balai desa untuk disidang. Di tempat itu, hadir tetua kampung, Kepala Desa, Babinsa, Camat, Wakapolres, dan petugas dari Kabupaten. Juga banyak wartawan.

“Saya sudah sepuluh tahun tinggal di kampung ini, untuk apa saya pergi?” kata Baba Idi di hadapan warga yang memintanya pergi dari kampung kami. Aku ingat benar wajah orang tua itu. Ia sama sekali tak memperlihatkan kesan takut atau pun sedih.

“Mengaku saja, Baba. Kami tahu Baba dan istri adalah dukun santet. Kami lihat sendiri Baba piara kalumba!” ujar Marjon berapi-api.

“Itu bohong! Saya tidak melakukan perbuatan yang kalian tuduhkan,” kata Baba Idi tak kalah sengit meski dengan suara sedikit bergetar. Sementara istrinya tak henti-henti terisak di sampingnya.

“Pokoknya kami tidak mau tahu, orang ini dan istrinya harus pergi dari kampung kami,” kata warga yang lain kepada para pejabat yang ketika itu tak banyak berbuat apa-apa.

Hampir saja hari itu Baba Idi remuk dikeroyok orang-orang kampung yang marah sekaligus gelisah. Pasangan suami-istri yang terkucil itu kemudian dievakuasi beberapa aparat Polres, dan entah bagaimana kabar mereka sekarang.

Sepeninggal Baba Idi, wabah tidak berhenti, malah makin menjadi. Dan orang-orang masih sering mengaku melihat kalumba di malam hari. Di pohon mangga yang sama. Di halaman rumah yang sama. Tetua kampung percaya, Baba Idi meninggalkan kalumba itu untuk membalas dendam kepada warga yang telah mengusirnya.

Puluhan orang pintar sudah didatangkan warga untuk mengusir makhluk itu, namun tak ada yang berhasil. Salah seorang di antara mereka berkata, makhluk itu terlalu kuat. “Jenis jin yang bertahun-tahun sudah makan darah.”

Hingga akhirnya, sore tadi, seorang lelaki yang mengaku pemburu mendatangi kampung kami. Sesumbar ingin mengenyahkan momok bernama kalumba itu.

***

Pemburu itu menengok arlojinya. Aku tak tahu sekarang sudah pukul berapa. Hawa begitu gerah, tapi Pemburu itu seolah tak merasakan apa-apa. Kampung kami berada di kaki bukit, dekat hutan yang sudah gersang karena dibabat cukong-cukong kota. Saat siang hari, hawa panas bisa bertambah tiga kali. Ketika musim kemarau tiba, aliran sungai jadi kering kerontang. Untuk minum dan memasak, kami hanya bisa mengandalkan pasokan air dari sungai yang mengalir di bagian lain kabupaten kami. Sungai yang mulai kekuning-kuningan karena tercemar merkuri. Limbah tambang emas. Aku tahu karena aku membacanya di koran.

Tiba-tiba si pemburu terlihat beranjak dari tempatnya dan bersijingkat mendekati jendela. Ia lalu mengambil senapan angin yang tersampir di pundaknya tanpa suara. Aku ikut-ikutan mengintip lewat jendela. Dan benar saja, ada sesuatu tampak bergerak-gerak di semak-semak. Sekitar dua meter dari pohon mangga. Sosok itu berjalan mendekati pohon yang sedang tak berbuah itu. Cahaya bulan memberiku sedikit gambaran, sosok itu pendek dan berjalan dengan empat kaki. “Kalumba!” sorakku dalam hati walau aku tak bisa memastikan apakah sosok itu berjalan mundur atau sebaliknya.

Si Pemburu sudah dalam posisi membidik. Aku menahan napas. Beberapa jenak kemudian, Dor! Suara tembakan membahana. Merobek sunyi kampung di kaki bukit ini.

Si Pemburu diam sejenak. Buruannya roboh dan menggelepar. “Ayo,” ajaknya beberapa saat kemudian. Kami keluar rumah dan bergegas mendekati sosok yang mungkin telah jadi bangkai. Tahu-tahu warga pun telah datang berkerumun. Agaknya mereka terkejut mendengar letusan peluru di malam buta.

Berkas-berkas cahaya bulat dari senter-senter warga berebutan mencari tempat di tubuh sosok yang tak lagi bergerak itu.

“Kalian lihat, kan, sekarang? Kalian percaya, kan, sekarang?” kata si pemburu dengan dada membusung sambil mengarahkan senter ke kerumunan warga dan ke arah bangkai berganti-gantian.

“Itu bukan Kalumba, tapi kambing gunung,” sela seseorang di antara kerumunan warga.

“Heh, apa maksudmu? Kalian lihat sendiri, aku telah membunuh hewan yang kalian takutkan,” jawab si Pemburu.

“Iya, ini kambing gunung,” orang yang tadi bersuara itu ternyata Marjon. Ia mendekati si Pemburu, merenggut senter dari tangannya, lalu mengarahkannya ke bagian kepala bangkai itu. Terlihat kepala bertanduk itu menganga. Rahangnya hancur dan darahnya mengucur.

“Dulu banyak kambing gunung hidup liar di hutan. Di utara kampung kami,” kata Marjon lagi. “Itu dulu. Kami pikir sudah punah. Mungkin ini adalah sisa-sisanya.”

“Tapi hewan ini, kan, yang kalian maksudkan. Hewan ini yang mendatangkan bala buat kalian, bukan?” tukas si Pemburu seperti sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Tapi semua diam. Tak ada yang berani menjawab. Tak ada yang berani memastikan.

“Bagaimana pun, kalumba tidak mungkin bisa mati diterjang peluru,” kata seorang warga yang lain. Dari suaranya yang berat dan takzim agaknya kali ini Haji Saleh yang bicara.

Si pemburu terpaku. Seperti terkesima, ia menatap Haji Saleh lekat-lekat.

“Sebaiknya kau pergi dari kampung ini. Kau dan senapanmu hanya datang untuk mengganggu ketenangan kami.”

Si Pemburu sepertinya sudah tak bersemangat meyakinkan warga. Ia menyandang kembali senapan anginnya. Lelaki itu kemudian mengeluarkan sebuah kotak persegi yang sedikit tipis. Dari salah satu sudut papan itu keluar cahaya dan… jepret! si Pemburu rupanya sedang memotret. Pemburu itu memotret lagi beberapa kali. Entah apa yang ia rayakan, tapi di bibirnya aku seperti melihat segaris senyum kemenangan.

“Baiklah,” ujarnya sejurus kemudian. “Aku akan pergi dari kampung sialan ini. Tapi ingat, sehari atau dua hari yang akan datang kalian akan menyesali kelakuan kalian sendiri.”

Si Pemburu kemudian berjalan ke arah mobil jipnya. Tak lama kemudian terdengar jip distater dan pergi. Warga membubarkan diri setelah jip itu menghilang di ujung kampung.

Pagi-pagi sekali, bangkai kambing gunung itu masih tergeletak di bawah pohon mangga kerdil di halaman bekas rumah Baba Idi. Kambing itu ternyata berwarna abu-abu, bukan putih seperti terkaan kami semalam. Kami kemudian menguburkan kambing gunung itu tak jauh dari pohon mangga.

Sehari, dua hari bahkan berbulan-bulan kemudian, tak ada lagi laporan tentang kalumba di kampung kami. Wabah penyakit masih kerap menyerang warga. Kampung di kaki bukit ini bertambah sunyi. Kami jarang berkumpul atau mengobrol, bahkan enggan bertegur sapa. Kami lebih sering berdiam diri, seakan-akan ada sesuatu yang kami sesali.

Gorontalo, Maret 2014

Jamil Massa, menulis puisi dan prosa. Tinggal di Gorontalo dan bergiat di Komunitas Tanggomo.

————————————————————————————————————————————–

(Redaksi menerima naskah cerpen, puisi, esei, resensi buku, resensi film, agenda dan liputan kegiatan seni-budaya. Kirimkan naskah Anda melalui surat elektronik ke alamat jamilmassa@gmail.com, atau hasrulekaputra@gmail.com. Sertakan profil singkat dalam bentuk narasi)

Leave a Reply

2 + five =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top