You are here
Home > Berita Pilihan Editor > Pantaskah Hukuman Mati Bagi Pengedar Narkoba Di Indonesia?

Pantaskah Hukuman Mati Bagi Pengedar Narkoba Di Indonesia?

Ilustrasi BAS, hukumonline.com
Ilustrasi BAS, hukumonline.com

 

Oleh. Dahlan Pido SH

*Penulis adalah seorang lawyer. Asli Gorontalo. Menetap di Jakarta

SEMUA sepakat. Narkoba memiliki daya rusak yang fatal bagi segala sendi kehidupan. Mulai dari individu, keluarga hingga bangsa dan negara. Dalam upaya pencegahan, tindakan yang dijalankan dapat diarahkan pada dua sasaran proses, pertama diarahkan pada upaya untuk menghindari remaja dari lingkungan yang tidak baik.

Generasi muda perlu diarahkan ke suatu lingkungan yang lebih membantu proses perkembangan jiwa mereka. Kedua adalah membantu remaja dalam mengembangkan dirinya dengan baik untuk mencapai tujuan yang diharapkan (suatu proses pendampingan kepada si remaja, selain pengaruh pergaulan luar rumah dan sekolah).

Undang-undang yang dapat menjadi rujukan berkaitan dengan Narkoba, adalah Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (disingkat UU Narkotika). Peradilan di Indonesia seharusnya bersifat Independen dan Imparsial, artinya tidak bisa diintervensi oleh pihak manapun. Termasuk dari negara lain.

Sanksi Pidana dalam Undang-Undang Narkotika salah satunya adalah Sanksi Pidana Mati. Ini diatur dalam Pasal 114 ayat (2) berbunyi:“Dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli,menukar, menyerahkan, atau menerima Narkotika Golongan 1 sebagaimana dimaksud pada ayat 1 yang dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1 kg atau melebihi 5 batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya 5 gram, pelaku dipidana dengan pidana mati”.

Terhadap pelaku sebagai pengedar dimungkinkan dijatuhkan sanksi pidana mati . Ini diatur dalam Pasal-pasal 114, Pasal 115, Pasal 118, Pasal 119. penerapan pasal ini disesuaikan dengan kategori atau beratnya kejahatan yang dilakukan. Kejahatan narkotika sudah masuk keseluruh sendi-sendi kehidupan maka dari itu hukuman berupa pidana mati masih diperlukan dan harus secara konsisten diterapkan di Negara kita.

Putusan Mahkamah Konstitusi RI menyebutkan hukuman mati dalam Undang-Undang Narkotika tidak bertentangan dengan hak untuk hidup yang dijamin oleh Undang-Undang dasar 1945.

Isi putusan Mahkamah Konstitusi RI dijelaskan bahwa penerapan sanksi pidana mati bagi para pelaku tindak pidana narkotika tidak melanggar hak asasi manusia, karena terdapat asas (derogable right) yaitu hak seseorang yang bisa di batasi, akan tetapi justru para pelaku tersebut telah melanggar hak asasi manusia lain, yang memberikan dampak terhadap kehancuran generasi muda di masa yang akan datang.

Pidana mati telah diatur dalam Pasal 10 KUHP yang merupakan bagian dari sistem hukum nasional. Pelaksanaan pidana mati tidak bertentangan dengan UUD 1945.

Upaya menafsirkan Undang-Undang Dasar 1945 tidak bisa sepotong-potong, hak setiap orang untuk hidup sebagaimana tertera dalam Pasal 28 a dan 28 i ayat (1) harus dibaca dan ditafsirkan dalam kesatuan dengan Pasal 28 j ayat (2), yaitu dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat yang demokratis.

Proses pelaksanaan hukuman mati di Indonesia tetap dipertahankan, tapi dalam pelaksanaannya sangat selektif dan cenderung hati-hati.Dalam hal penjatuhan pidana
mati, hakim mempunyai kebebasan besar karena Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

Menurut Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia.**

Syam Terrajana
Lahir dan tinggal di Gorontalo setelah berkelana di berbagai kota. Membagi waktunya untuk menulis, membaca,melukis dan bepergian. Sesekali menyanyi jika suara sedang bagus. Dapat dihubungi di syam.terrajana2@gmail.com.

Leave a Reply

13 − 10 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top