Sepuluh Permainan Tradisional Gorontalo Ini Nyaris Punah

 

ilustrasi anak-anak bermain (Jurnal Kebudayaan Tanggomo)
ilustrasi anak-anak bermain (Jurnal Kebudayaan Tanggomo)

DEGORONTALO- Permainan rakyat tidak jatuh dari langit. Ia tumbuh dari mana bumi dipijak, ia sekaligus bisa menjelaskan kondisi lingkungan , sosial, ekonomi, pun politik pada zamannya. Ia diciptakan sebagai buah kearifan rakyat jelata. Permainan rakyat adalah ruang dan waktu tempat terjalinnya kehangatan dan kekariban antar manusia.

Tim redaksi degorontalo.co mengangkat kembali berbagai permainan rakyat anak Gorontalo, sebagaimana yang pernah diangkat oleh Jurnal Kebudayaan Tanggomo edisi kedua, (November 2011-Januari 2012) .

Ini dia sepuluh jenis permainan rakyat versi Gorontalo yang statusnya nyaris punah. Dirangkum dari buku “Permainan Tradisional Anak Daerah Gorontalo” karya Farha Daulima (Semoga karya dan pengabdian almarhumah senantiasa menjadi amal ibadah sepanjang masa!):

  1. AWUTA: Congklak versi Gorontalo. Pada zaman dulu hanya dimainkan pada suasana berkabung, ketika ada orang yang meninggal dunia. Awuta berasal dari kata Huta, yang berarti “tanah”, bermakna segala yang hidup akan kembali ke tanah. Awuta dimainkan dua hingga tiga orang anak, berusia 5 hingga 12 tahun. Permainan biasanya dilangsungkan di bawah rumah panggung, dengan menggali tanah menjadi 12 lubang lalu diisi bergantian oleh pemain dengan batu, jika batu terakhir terjatuh pada lubang yang kosong, pemain mengucapkan “Denggu!”, pertanda permainan tamat, lalu diulang lagi dari awal. 

  2. BILU-BILULU: Permainan hadang versi gorontalo. Bilu-bilulu, adalah nama burung kecil yang gesit, konon berasal dari nama seorang anak laki-laki yang sedang memburu burung tersebut. Permainan ini digelar dimana saja dan kapan pun, pada saat terang bulan, di pantai juga di tumpukan jerami. Dimainkan oleh tiga anak berusia lima hingga 14 tahun. Dua orang berperan sebagai pemburu/penghadang, satu orang berperan sebagai burung, yang bertugas mengumpulkan sesuatu, tanpa harus tersentuh oleh si pemburu. Jika tersentuh, maka permainan terhenti, si pemburu yang menyentuh mengambil peran sebagai burung.

  3. TAPULA: Harafiahnya berarti “cari”, dimainkan anak lelaki maupun perempuan secara berkelompok pada waktu senggang, siang atau sore hari. Konon permainan ini mulai dikenal tahun 1927, pada zaman kolonial Belanda, dimainkan oleh anak pribumi yang tidak mampu mengecap bangku sekolah. Mereka berbagi peran, satu orang menjadi guru, sedang lainnya menjadi murid, tugasnya menebak batu yang disembunyikan secara acak dalam genggaman tangan. Murid yang benar tebakannya maka dinyatakan naik kelas, ditandai dengan maju pada kotak denah yang sudah disiapkan.

  4. TUMBAWA: Tidak terdapat arti harafiah kata ini. Istilah ini berarti mencocokkan benda-benda dengan penutupnya, misalnya panci atau mangkuk berpenutup. Semula permainan menggunakan kerang yang memiliki pasangan penutupnya dan dimainkan di daerah pesisir. Konon, permainan ini dibawa oleh pedagang dari Ternate yang sering berlabuh di Sumalata. Permainan ini menuntut ketelitian pemainnya untuk mencocokkan benda-benda serupa, sewarna namun berbeda motif. Peserta permainan (3-5 orang) memulai permainan dengan menumpuk benda-benda berpenutup tersebut dalam satu tempat yang berjarak tiga meter dari tempat mereka berdiri. Permainan berhenti setelah hitungan ke sepuluh. Peserta yang paling banyak memasangkan benda dengan benar, jadi pemenang.

  5. BATATA: Pengertian kata ini masih kabur, latarnya adalah pedagang yang kehilangan permata yang akan dia jajakan, sang pedagang harus berbagi syair sebagai kode dengan mata tertutup untuk dapat menemukan hartanya. Permainan ini menjadi seru dan kocak manakala sang pedagang menggapai-gapai mencari orang yang menjawab kode syairnya. Dimainkan oleh lelaki dan perempuan, biasanya pada malam hari, pada peringatan hari-hari besar.

  6. TULAWOTA: Artinya memilih, sekelompok anak mengumpulkan potongan anyaman tikar yang berwarna warni, atau potongan kain sisa jahitan. Perca atau potongan tikar aneka warna itu, kemudian dimasukkan dalam sebuah wadah, anak-anak kemudian berlomba untuk mencari padanan yang sama warnanya, pada zaman sekolah rakyat, ini biasanya digelar dalam kelas oleh guru dan menjadi permainan yang seru.

  7. MOMOTAHU: Membidik, dulu hampir di setiap rumah masyarakat Gorontalo , ditanami pohon kemiri, buahnya yang keras kemudian dijadikan mainan oleh anak-anak, diletakkan di atas botol, kemudian dibidik dengan menggunakan karet gelang pada jarak tertentu, permainan ini biasanya dimainkan pada waktu senggang, baik di rumah maupun di sekolah. Belakangan setelah ada kelereng, buah kemiri perlahan dilupakan.

  8. TI BAGOGO: Kata ini kerap membuat takut anak-anak, konotasinya adalah setan yang menyeramkan. Tapi jenis permainan ini justru jauh dari hal-hal menyeramkan. Seseorang, yang kalah undi ditunjuk sebagai Ti Bagogo, tugasnya menjangkau setiap orang yang berada dalam lingkaran. Siapa yang kena jangkau akan mengganti perannya, permainan ini jadi seru jika dalam satu lingkaran kecil, diisi oleh banyak orang.

  9. TUMBU-TUMBU BALANGA: Permainan menggunakan semacam syair/mantera, semula bertujuan untuk membujuk bayi yang menangis, dilakukan dengan menepuk-nepuk meja atau kursi dengan kepalan tangan, pukulan yang kian keras, terbukti mampu mencuri perhatian bayi yang menangis hingga terdiam. Permainan ini dimainkan berkelompok dengan saling menyusun tangan, saat mantera berakhir tangan paling bawah dibuka. “Tumbu-tumbu balanga, balanga li masoyi/ Soyi-soyi leke, leke kambu-kambu /Bu’ade tibawa/Tutuiyo Hulawa

  10. CUR-PAL: Jika sejumlah anak sudah meneriakkan “cur-pal”, maka berkumpullah teman sejawat untuk bermain petak umpet. Permainan dimulai dengan menentukan penjaga benteng berupa tonggak atau pohon. Sesaat setelah si penjaga menutup matanya menghadap pohon, teman lainnya berpencar mencari persembunyian yang aman. Si penjaga bertugas memburu teman yang bersembunyi. Jika ketahuan, segeralah dia berlari ke benteng dan berteriak “Pal”. Kata itu pula yang menjadi penanda jika peserta lainnya lebih cepat mencapai benteng daripada si penjaga.

DEGORONTALO| JURNAL KEBUDAYAAN TANGGOMO

 

 

 

 

2 thoughts on “Sepuluh Permainan Tradisional Gorontalo Ini Nyaris Punah

Leave a Reply

eighteen − 10 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top