Sewaktu Aku Disunat

Elnino Muhammad Husain Mohi, salah seorang anggota DPR RI dari Gorontalo bercerita tentang pengalaman masa kecilnya saat ia disunat. Berikut adalah ceritanya.

***

Aku santai aja saat duduk di pu’ade (kursi kehormatan). Masih bisa tersenyum saat berfoto. Lima menit lagi “eksekusi”, aku masih santai-santai saja.

Kata orang-orang, disunat itu sakit. Aku tidak percaya. Sebab papa bilang, disunat itu seperti digigit semut.

Adikku si Rahmad Katon Mohi minta dieksekusi yang pertama. Aku bilang, oke. Lalu masuklah dia ke kamar penyunatan. Aku menunggu giliran di pu’ade.

Cepat sekali Ti Kamani Salimu memainkan dunito (sembilu). Hanya sekitar 3 menit Katon selesai sudah disunat.

Tapi dasar Katon. Setelah proses yang mudah itu dia teriak-teriak di dalam kamar untuk menakut-nakuti saya yang ada di luar.

“Aduh papa aduh papa aduh papa… sakiiiiiiii…!!!!” Sambil pura-pura menangis.

Aku yang tadinya tidak takut disunat jadi berkeringat dingin. Ketakutan. Gemetar. Gentar!!

Tiba sudah giliranku.

Belum sampai duduk di hupato (batang pisang yang sudah dibentuk untuk tempat duduk anak yang disunat), air mataku sudah mengalir. Ketakutan betul aku.

Kamani Salimu sudah siap dengan segala peralatannya yang tersembunyi di balik bajunya. Hanya benang yang kulihat terjepit di antara bibirnya.

Ti Aba Tenga yg berbadan besar menjadi “tempat” sandaranku sekaligus jadi petugas yang memegangi aku agar jangan banyak bergerak. Aku masih gemetaran.

Ketika Kamani Salimu berucap “Bismillaah” sontak aku berteriak.

“Aaaaaaaah…..!!!! Sakiiiiiii……!!!”

Ti Aba Tengah menepuk pundakku…,”Woi…. belum mulai….!!!”

Dan semua tertawa terbahak-bahak. Hanya aku yang masih menangis.

Sumber Foto: Facebook Elnino Mohi

 

Leave a Reply

14 − four =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top