Tak Ada Lilin untuk Tiberias?

Irwansyah Dondo

Oleh Irwansyah Dondo (Mahasiswa asal Bolaang Mongondow yang sedang menempuh studi di Universitas Alma Ata Yogyakarta).

AKSI seribu dan sejuta lilin untuk Ahok di berbagai daerah di Indonesia, pun hingga ke luar negeri, menjadi parade dalam setiap pemberitaan dan media sosial, belakangan ini. Bagaikan hidangan lezat nan bergizi, ketiadaannya: maka hilang pula energi di jempol-jempol kita.

Tak ketinggalan, di daerah saya tepatnya di Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, ada berbagai serpihan kejadian pula yang mewarnai dimensi media sosial. Sebut saja mewabahnya kata ndeso di media sosial, setelah dibukanya restoran cepat saji KFC asal Paman Sam. Orang-orang riuh saling merisak, ketika salah satu akun facebook mengunggah foto antrian pengunjung, dan menyebut mereka itu: ndesonya kebangetan.

Media massa pun menjadikan itu furnitur dalam setiap halaman, khususnya media-media online. Kualitas berita direndahkan dan hanya menjadi etalase yang mempertontonkan saling serang masalah pribadi, pun saling merisak. Mungkin karena malas mencari berita, sehingga demi mengejar daya beli dan klik pembaca, langkah seperti itu pun dianggap pantas.

Anehnya, ketika ada kejadian besar yang menyita perhatian publik, apa terlebih menyoal isu kemanusiaan, mereka (media massa) terkesan enggan memberitakannya.

Adalah Desa Tiberias, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, yang sekarang ini sedang melakukan perlawanan terhadap perusahaan, atas saling klaim kelola lahan. Untuk urusan hukum, memang masih menjadi polemik sebab warga Tiberias hingga saat ini, sedang dalam proses gugatan di PTUN Manado.

Kendati sudah ada putusan dari PTUN Manado sebelumnya, yang menyatakan kekalahan Pemkab Bolmong melawan PT Malaysia Sejahtera, akan tetapi proses gugatan dari warga Tiberias harusnya dihormati pula.

Yang menyita perhatian, ketika aparat keamanan yang melakukan tindakan represif dan pembiaran, ketika pondok-pondok dirusak dan lahan kebun warga Tiberias dibakar.

Sepenggal video dari warga Tiberias sempat beredar di sosial media, yang meminta perhatian Presiden Jokowi, ketika anak-anak mereka lari ke hutan, laut, dan tak kunjung pulang karena takut. Dalam video, ibu tersebut terus menangis memohon perlindungan. Maka video itu telah kais nurani siapa saja yang memang menjunjung arti kemanusiaan.

Kejadian mengerikan yang terjadi di bumi Totabuan itu, apakah kurang memprihatinkan? Apakah tangisan dan penderitaan warga Tiberias, berbeda porsi perhatian dengan yang Ahok alami, sehingga warga Sulawesi Utara terlebih Bolaang Mongondow, lebih tertarik membuat aksi untuk Ahok? Memang untuk kasusnya berbeda, sangat jauh berbeda. Tapi keduanya sama, sedang berjuang untuk keadilan, bukan?

Coba tengok ke belakang, ada berapa banyak korban seperti Ahok yang tak mendapat perhatian lebih? Banyak! Dan itu membuktikan bahwa aksi untuk Ahok, bukan lagi bicara soal ‘nilai’, tapi lebih kepada satu kata yaitu ‘idola’.

Apa yang menimpa warga Tiberias seperti yang berhasil terpahami dari pemberitaan mongabay.co.id, yang mana warga Tiberias diperlakukan represif oleh aparat tanpa membudayakan sikap persuasif, adalah bukti bahwa ada kegagalan pelaksanaan prosedur di negara ini. Dan itu banyak terjadi hampir di setiap pelosok negeri.

Tangan anak negeri yang diperuntukkan untuk menyasar musuh negara, kini disalah-alamatkan kepada mereka yang hanya mempunyai kata dan air mata. Kita lihat saja para petani Kendeng, yang hingga sekarang terus memperjuangkan hak mereka sampai ke Jerman. Negara tempat cikal bakal pabrik semen, yang sedang menggerogoti tanah mereka. Para petani Kendeng juga telah lebih dulu mengalami tindakan represif aparat keamanan, yang seharusnya melindungi mereka.

Atau mungkin aparat keamanan tidak mempunyai lagi lawan yang setara, hingga warga tak berdaya dijadikan layaknya musuh? Sehingga warga yang diwajibkan membayar pajak–aparat pun mendapat jatah gaji dari pajak-pajak tersebut–terus menjadi boneka latihan?

Moncong senjata yang seharusnya diarahkan kepada musuh negara serta yang bersenjata, kini telah diarahkan kepada para petani yang hanya memiliki parang atau cangkul untuk menggarap lahan. Jika sejatinya aparat keamanan itu mengayomi, kenapa bukan lewat jalur yang semestinya, tanpa harus bertindak sewenang-wenang? Kapan sikap represif dari segelintir oknum aparat keamanan, yang merupakan bentuk sikap genealogi dari Orde Ba(r)u (Orba) ini terputus?

Ketika kita sadar akan realitas penindasan ini dan memberi perhatian, kemungkinan pemerintah terkait akan serius menangani masalah ini. Pemerintah harus mengambil langkah cepat dan tepat dalam situasi seperti ini–serta harus berlaku adil. Jangan berselingkuh dengan pihak korporasi. Apalagi, saat kampanye menjanjikan hal-hal yang akhirnya berbuah racun, dan dampaknya terus bergulir setelah kampanye dan terpilih tampuk pimpinan baru. Sosok pemimpin tidak boleh pula membuat sekat antara yang pernah memilihnya atau yang tidak. Harus bersikap adil kepada seluruh masyarakat.

Ingat, Bolaang Mongondow memiliki falsafah hidup yang meski hanya terdiri dari tiga kata, namun meringkus apa itu makna kemanusiaan. Mototompiaan, Mototabian, bo Mototanoban, yang bisa terpahami dalam artian baku-baku kasih, baku-baku sayang, dan baku-baku inga(t), sangat luas maknanya.

Falsafah di atas, berlaku untuk relasi yang begitu luas, bukan hanya untuk sesama Mongondow. Dan warga Tiberias butuh perhatian itu. Tiga kata itu, sudah lebih dari cukup untuk mereka.

Kristianto Galuwo
Sigidad. Duda berputri satu-satunya bernama Sigi. Sering sial seperti Donal Bebek, karena itu dirajahi tato Donal Bebek di lengan kanan sebagai segel anti sial. Suka sekali makan ayam bakar/goreng/santan apalagi yang dibumbui sejumput puisi. Bisa disapa di facebook: Kristianto Galuwo dan diterawang di blog Getah Semesta.
http://sigidad.blogspot.co.id/

Leave a Reply

3 × 5 =

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Top